Dalam episode ini, Fino, seorang pemuda dari lapisan terbawah, bersiap menghadapi ujian penting untuk menjadi pengendali roh, di mana keberhasilan menentukan status sosial dan kegagalan berujung jadi budak. Saat rivalnya, Gio dari keluarga Jumari yang berpengaruh, memperingatkan dan meremehkan Fino, Fino tetap yakin bisa mengejutkan semua orang. Saat roh perjanjian dipanggil, kota Tias menyaksikan penampilan roh tingkat tinggi dari keluarga elite, sementara Fino yang diharapkan sebagai juara teori, belum menunjukkan kekuatan sebenarnya. Episode berakhir dengan ketegangan menunggu giliran Fino memanggil roh perjanjiannya.
Fino, seorang pemuda dengan roh perjanjian tingkat F yang dianggap lemah oleh Keluarga Jumari, dipermalukan dan diperlakukan sebagai budak karena hasil tes kekuatannya yang rendah. Meskipun Fino berhasil meraih peringkat satu dalam tes kekuatan roh, statusnya dicabut dan dia diancam akan dipaksa masuk kamp pembiakan. Namun, perlakuan itu memicu tekadnya untuk tidak menyerah. Tegangan memuncak ketika sistem mendeteksi garis keturunan Rubah Berekor Sembilan pada Fino, memicu evolusi roh peliharaannya tanpa batas, menandai perubahan besar yang membuka jalan baru bagi perjuangannya.
Fenomena energi roh peliharaan tingkat F yang tidak biasa memicu perdebatan di antara para pengajar, dengan Pak Desta meragukan keaslian kekuatan tersebut sementara yang lain yakin itu nyata. Fino, roh perjanjian misterius dengan tingkat yang tidak dapat dikenali, mendapat masa observasi tiga bulan dan dicabut hak sebagai siswa, serta harus bekerja di tambang batu. Ia diberikan kesempatan untuk membuktikan diri dalam turnamen agar tidak dijatuhi hukuman seumur hidup sebagai budak. Episode berakhir dengan aktivasi misi pemula memburu batu hitam untuk evolusi roh Fino.
Di tambang batu hitam, seorang pria yang memimpin kawasan mengancam pekerja untuk memastikan disiplin ketat dengan hukuman berat. Seorang pemimpin lain bernama Gio berjanji membalas dendam atas penghinaan yang diterimanya, menegaskan konflik antar kelompok di lokasi kerja yang keras. Fino, yang akan menggantikan posisi seseorang, diancam akan mendapat perlakuan berat dari Gio. Episode ini memperkenalkan ancaman nyata dari monster lokal bernama Tikus Batu Hitam, makhluk yang sering muncul di tambang dan memiliki kelemahan pada perut dan matanya, menambah ketegangan dan bahaya dalam situasi kerja yang sudah mencekam tersebut. Ketegangan internal dan ancaman eksternal membentuk konflik utama yang belum terselesaikan.
Dalam episode ini, seorang pengguna bersama roh peliharaannya, Mimi, berlatih menyerang dengan taktik mengincar mata yang terbukti efektif. Setelah berhasil menyelesaikan misi pemula, roh Mimi berevolusi ke tingkat E, memperoleh kemampuan Api Rubah yang meningkatkan kekuatan pengguna lima kali lipat. Pengguna menyadari perubahan besar dalam kekuatannya dan mulai mempersiapkan diri untuk kompetisi yang akan datang dua bulan lagi, menetapkan target tinggi melebihi sepuluh besar. Di akhir episode, pengguna meminta Mimi untuk menyembunyikan ekor barunya, menandakan perubahan yang harus dirahasiakan.
Di tambang, Eka menghadapi tantangan berat saat Fino, siswa baru yang tak terduga kuat, berhasil melawannya seimbang meski dianggap budak biasa. Pak Gio dan Pak Arif berusaha menekan Fino dengan ancaman kekerasan untuk menunjukkan siapa penguasa di sana. Saat pertarungan memanas, Fino tiba-tiba menunjukkan kemampuan khusus dengan menyemburkan api, mengejutkan semua orang. Nona Susan mencoba menahan Fino dan menawari bantuan untuk meningkatkan kontrol rohnya, mengingatkan tentang kompetisi yang akan datang. Meski menerima kebaikan Susan, Fino menegaskan akan menentukan jalannya sendiri, meninggalkan ketegangan yang belum usai.
Seorang pria yang dijebak di tambang dengan monster buas menegaskan bahwa tempat itu bukan kuburannya melainkan ladang buruannya. Dia bertekad membuktikan keahliannya dalam kompetisi akademi yang akan datang. Saat misi baru diumumkan untuk memburu Kucing Bayangan sebagai roh peliharaan evolusi kedua, dia dan Mimi berhasil memancing dan mengalahkan monster tersebut dalam satu serangan. Keberhasilan ini memicu evolusi roh peliharaan mereka, menandai perubahan penting yang membuka kemungkinan baru dalam perjuangan selanjutnya.
Roh peliharaan berjenis rubah putih mengalami evolusi ke level D dan membuka kemampuan Serangan Bayangan yang meningkatkan kekuatan fisik dan kendali roh. Saat mencari bahan evolusi langka, sang pengguna menemukan Rumput Darah Naga, yang dapat meningkatkan potensi roh peliharaan secara signifikan. Dalam pertempuran dengan monster laba-laba gua level A, strategi menyerang bagian perut dan mata perut yang lemah berhasil diterapkan untuk mengalahkannya. Dengan bahan langka diperoleh, pengguna yakin kualitas peliharaannya akan meningkat drastis, dan ia menantang seseorang bernama Gio untuk membuktikan siapa yang sebenarnya pecundang.
Di episode ini, Gio dan Fino bersaing dalam latihan memburu makhluk kuat untuk mendapatkan Kristal evolusi. Gio, putra sulung Keluarga Jumari, berhasil naik 15 level dalam tiga bulan, mengungguli Fino yang harus bekerja keras sebagai budak tambang. Ketegangan muncul ketika Gio, yang dikenal jagoan, tampak mundur ketakutan saat menghadapi Singa Api Lahar, rubah terakhir yang harus dikalahkan. Adegan berakhir dengan peringatan untuk menghentikan perkelahian karena kompetisi resmi segera dimulai, meninggalkan pertanyaan tentang kesiapan Gio dan nasib Fino.
Kompetisi akademi Kota Tias dimulai dengan peserta di telepor ke hutan penuh monster buas yang terus menyerang. Dalam babak poin, bertahan hidup semakin sulit saat banjir monster menimbulkan ancaman nyata bagi semua peserta. Gio memukau dengan kemampuannya mengendalikan Feniks Es Kristal, sementara Singa Api Lahar yang dikendalikan lawan mengamuk tanpa terkendali. Sementara itu, Susan juga menunjukkan kehebatan dengan Feniks-nya. Pak Desta dan Maximus memperhatikan pertarungan tersebut, memberikan tekanan pada Fino untuk tetap tenang dan realistis. Mimi menyadari lingkungan ini sudah dikenal, menandai dimulainya fase berburu yang sesungguhnya. Ketegangan meningkat menjelang seleksi sepuluh besar.