Setelah menjalani aborsi, seorang wanita kembali bekerja meski masih merasa mual akibat obat yang diminumnya untuk melancarkan peredaran darah. Seorang pria memperingatkannya agar tidak berbohong tentang keadaannya dan mengancam akan membunuh jika janin masih ada di dalam perutnya. Tekanan semakin meningkat ketika wanita itu berusaha menahan rasa sakit sambil menepis tuduhan. Konflik memuncak saat wanita lain menyebut perlunya tindakan tegas terhadap situasi yang membahayakan ini, meninggalkan ketegangan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dengan janin dan hubungan mereka.