Sean, yang menempati tubuh Putra Duyung yang tampan, menghadapi ketakutan dan kebencian dari pemilik tubuh aslinya. Seorang wanita yang peduli berusaha meyakinkan Sean bahwa dia tidak akan menyakitinya, bahkan membuang cambuk sebagai tanda niat baik. Dia mendesak Sean untuk mempercayainya dan memberinya izin untuk memeriksa lukanya tanpa menyentuh, menandai awal upaya membangun kepercayaan. Namun, ketidaknyamanan Sean tetap terasa, dan wanita itu bersikeras bahwa jika Sean tidak mau mendekat, dia yang akan maju terlebih dahulu, menciptakan ketegangan yang belum terselesaikan.