Episode dimulai dengan peringatan medis bahwa seseorang mengandung kembar tiga, kekurangan gizi, dan berisiko keguguran. Pak Ben tiba‑tiba merasakan mual dan keram karena warisan Keluarga Zurih yang membuat pria merasakan kondisi wanita pertama, sehingga dia menyadari kemungkinan penderitaan Nita. Di kantor, gosip menyebar bahwa Nita, magang divisi desain, muntah dan dicurigai hamil; atasan dan Bu Silvia mengurungnya, mengancam memecat jika tak segera buka pintu atau menikah, ada tawaran pria (si pincang) memberi 600 juta untuk membeli rumah kakaknya. Nita mengaku diracuni dan memohon bantuan serta status karyawan tetap; keputusan perusahaan dan nasib Nita tetap menggantung.
Seorang wanita di divisi desain terbangun gusar setelah malam 'tidur dengan bos', bertanya apakah itu membuatnya jadi karyawan tetap. Di kantor, ajudan mencoba memperkenalkan wanita lain kepada Pak Ben, tapi ia menolak dan meminta diantar ke divisi desain. Di sana Bu Silvia memarahinya karena terlambat dan melontarkan hinaan soal latar pendidikan serta desas-desus pekerjaan paruh waktu di bar. Wanita itu membela diri bahwa desainnya selesai tepat waktu dan ia membantu lembur, namun Bu Silvia mengancam memecatnya. Episode berakhir ketika Bu Silvia menyuruhnya "bereskan barangmu dan pergi saja", meninggalkan nasib pekerjaannya menggantung.
Di awal episode, seorang karyawan memohon kepada Bu Silvia agar diberi kesempatan mempertahankan pekerjaannya, namun Silvia mengejeknya dan memerintahkan berlutut untuk memperpanjang masa magang atau pergi. Rekan lain diminta mengemasi barangnya; salah satu karyawan akhirnya berlutut. Pak Ben datang dan menyatakan bahwa Bu Silvia melakukan perundungan—jabatan diturunkan dan gajinya dipotong tiga bulan. Pak Rian menyuruh Nita menandatangani kontrak di bagian HR, divisi desain dipulangkan lebih awal, dan episode berakhir dengan panggilan yang menghentikan mereka, meninggalkan konsekuensi disipliner yang belum tuntas.
Episode dibuka dengan kagetnya para pegawai soal 10 miliar yang terkait tadi, lalu telepon ibunya yang menuntut 20 juta tiap bulan dan mengancam akan membuat keributan di kantornya. Perempuan muda itu menegaskan ia kini jadi karyawan tetap berkat Pak Ben, tetapi menolak menerima uang dan bertekad mengembalikan 10 miliar dengan kerja paruh waktu. Di sela itu seorang wanita mengaku putri Grup Sunli dan menyatakan kagum pada Pak Ben; rekan kerja menggoda Ben dan berbisik soal kakek yang sampai meracuni demi cucu. Seseorang tiba-tiba muncul memanggil "Pak Ben", meninggalkan konfrontasi yang belum terselesaikan.
Bos menemukan wanita yang kerja paruh waktu; adegan berpindah ke meja kartu di mana Pak Ben, pria dari keluarga terpandang, dibantu memainkan kartu oleh wanita itu. Kakek-nenek menekan soal cicit; wanita menuduh mereka meracuninya dan mengungkap dia mandul, lalu menolak tuntutan mereka. Dalam permainan, wanita terus menang sehingga Pak Ben rugi 'satu gedung' dan Pak Roni dituduh curang. Pak Roni berusaha merebut kembali kerugian dan mencari cara ganti rugi satu gedung. Episode berakhir saat giliran penentu dimainkan dengan kata, "Keluar kartu ini", meninggalkan hasil yang belum terjawab.
Di sebuah permainan kartu bersama beberapa orang, Ben terus memenangkan taruhan dan suasana berubah saat teman-teman menyoroti perhatian Ben pada seorang gadis polos yang baru belajar main kartu. Mereka meledek Ben karena tiba-tiba tampil inisiatif, bahkan mengajari gadis itu bermain, dan seorang pelayan menuangkan minuman. Ketika seseorang bertanya apakah mereka saling kenal, gadis itu dan Ben menyangkal, tapi ada komentar bahwa mereka sebenarnya bertemu beberapa jam sebelumnya. Episode berakhir saat gadis itu meminta diantar istirahat ke kamar, meninggalkan keraguan tentang hubungan dan niat Ben yang belum terjawab.
Seorang wanita paruh waktu di Grup Zurih berusaha mengembalikan 10 miliar kepada Pak Ben dan meminta status karyawan tetap; Pak Ben menolak uang itu, menyuruh menganggap kejadian tersebut tak pernah terjadi meski memberinya 'hadiah' yang membuatnya khawatir penerimaan akan sulit dijelaskan. Pulang ke rumah, ibunya menekan karena keluarga butuh uang—menyebut bantuan untuk kakak ipar dan renovasi—lalu marah setelah mengetahui anaknya hamil, menuntut 5 miliar sebagai bayaran untuk menyingkirkannya. Episode berakhir dengan ibu menyuruhnya menagih uang itu kepada 'pria liar' yang terlibat.
Di malam hari, Nita dimarahi ibunya yang menuntut dia segera pindah karena Ben, direktur Grup Zurih, membeli lahan untuk mal; ibu menekan soal siapa ayah anak yang dikandung Nita dan mengancam akan menjemput jika transfer uang tak tiba dalam tiga hari. Nita menolak membuka rahasia, takut kehilangan pekerjaan dan tak punya uang. Seorang pria—Ben—mendengar dari jauh, lalu diberitahu bahwa Nita adalah penyewa yang ibunya sering membuat keributan. Ben menyadari alasan Nita ingin jadi karyawan tetap untuk melepaskan diri. Episode berakhir saat Ben memperbarui penilaiannya dan berangkat dengan mobil, nasib Nita tetap menggantung.
Bu Nita kehujanan dan diantar pulang oleh Pak Ben; saat dalam mobil Pak Ben menanyakan tempat tinggalnya dan mengaku 'Rumahmu dibongkar olehku', sehingga Bu Nita harus menginap di hotel sementara. Di kantor Rian diperintahkan ke asrama karyawan, reaksi rekan menyebut Bu Nita baru selesai magang dan hubungan Pak Ben berbeda. Pak Ben terlihat memanjakan Bu Nita, memuji desain yang dikumpulkan besok. Bu Nita yang pucat khawatir dimaknai sengaja karena ketiduran di mobil. Pak Ben lalu memerintahkan pemeriksaan kesehatan besok, meninggalkan tanda tanya soal kondisi Bu Nita dan niat Pak Ben.
Nita, karyawan desain di Grup Zurih, tertekan setelah atasan meremehkan karyanya di kantor; Bu Silvia mengaku yang menentukan kinerja, sementara rekan curiga setelah melihat laporan medis. Rekan kerja menemukan laporan medis: Nita hamil. Saat Nita menghadapi tuduhan dan berusaha menjelaskan, seorang kolega mengungkap bahwa dia pernah menukar karya dan mengambil kesempatan Nita masuk universitas. Nita mengurung diri di kamar mandi, pingsan lalu ditarik keluar. Beberapa menjerit minta ambulans, yang lain malah menyarankan membuangnya di tepi jalan dan membersihkan kamar mandi—meninggalkan nasib Nita tak jelas.