Episode ini dimulai dengan ketegangan saat seorang wanita dikejar waktu untuk wawancara sambil menghadapi hinaan dari pria di sekitarnya. Dia menerima jimat dari ibunya yang sedang sakit parah, yang berpesan agar jimat itu selalu dibawa agar tetap aman dan menyampaikan wasiat agar setelah ibu meninggal, abu ibunya harus dibawa pulang ke kampung halaman. Ibu wanita itu menunjukkan ketidakmampuannya melihat pernikahan anaknya, membuat sang wanita meratap dan memohon agar tidak ditinggalkan sendirian. Episode berakhir dengan munculnya nama Juna Pratama, menandakan konflik baru yang akan datang.