Di hari pernikahan yang penuh ketegangan, sang wanita merasa kesulitan menghadapi prosesi yang cepat dan tak sesuai harapannya. Dia memperhatikan tangan Pangeran yang kasar dan berbekas luka, berbeda dari citra yang ia dengar sebelumnya, memunculkan keraguan tentang siapa sebenarnya pria itu. Pangeran menegaskan bahwa tangannya terbiasa berperang untuk melindungi negara, bukan untuk dimanja. Wanita itu berjanji akan jadi istri yang tegas dan tak akan membiarkan siapa pun bersikap tidak sopan kepadanya. Saat waktu pernikahan hampir habis, mereka bersiap meninggalkan tempat dengan ketegangan tersisa mengenai hubungan dan identitas Pangeran yang sesungguhnya.