Setelah suami mereka gugur dalam perang, keluarga ini menghadapi krisis kelaparan karena kehilangan penghasilan dan tidak menerima santunan. Sang ibu memaksa anak-anaknya mencari nafkah atau menghadapi kelaparan, sementara ketakutan akan dijual dan ditelantarkan memicu pelarian malam hari. Anak-anak yang dulu dikhianati berusaha bertahan dan membuktikan diri dengan prestasi berbeda. Pemilik tubuh yang berpura-pura telah meninggal dihakimi keras karena kejam. Di tengah kesengsaraan, sang ibu bertekad mengubah citra diri dan melindungi keluarga dengan memasak makanan, menghadirkan harapan di tengah perjuangan yang belum selesai.