Samuel ditekan oleh direksi setelah lama mundur dari jabatan presiden Grup Lestari; muncul kabar bahwa Grup Grace—yang diduga menerima suntikan 40 miliar—memenangkan tender proyek, sehingga direksi ingin Samuel kembali. Di rumah, putri mereka Flo demam dan harus ikut lomba piano; Samuel meminta Grace menemaninya, namun Grace memilih merawat ibu Louis dan urusan keluarga lain. Perdebatan memuncak saat Samuel menuduh Grace selalu memilih adiknya, sementara Grace membela keputusan itu. Episode ditutup dengan Samuel memperingatkan "jangan kecewakan aku lagi", meninggalkan ketidakpastian soal prioritas Grace.
Perayaan kantor dimulai saat pimpinan mengumumkan mereka memenangkan tender Grup Lestari dan memuji Louis serta Bu Grace. Saat bersulang, Bu Grace sudah mabuk; rekan mengusulkan ritual 'minum silang tangan' untuk merayakan kerja sama. Seorang hadirin menolak karena 'aku sudah menikah', namun yang lain menerangkan mereka minum untuk karier, dan seseorang menegaskan 'kita kakak adik' untuk menghindari salah paham. Mereka melakukan toast, Grace memberi pidato singkat tentang cinta sejati, lalu mendorong ciuman yang disaksikan semua. Episode berakhir dengan kegembiraan yang berubah menjadi ketegangan karena ciuman itu menimbulkan potensi masalah.
Samuel datang ke pesta setelah menemukan Kak Grace minum bersilang dengan pria lain, memicu konfrontasi langsung. Dia menuduh Grace lalai karena putrinya, Flo, sakit, sementara Grace membela diri bahwa dia bekerja keras untuk keluarga karena tak bisa mengandalkan suaminya. Perdebatan memanas saat keluarga menuduh Grace cemburu dan mengklaim hidup serta pencapaiannya disokong oleh Louis dan bantuan mereka — bahkan tender Grup Lestari disebut hasil relasi Louis. Titik baliknya adalah pengakuan bahwa keberhasilan Grace bergantung pada orang lain; tuntutan terima kasih itu meninggalkan ketegangan belum terselesaikan.
Di pertemuan keluarga untuk merayakan Louis, Samuel diprotes karena dituduh 'menempel' pada Bu Grace dan merebut peluang usaha Louis; tegangan memuncak saat kerabat menuduhnya tak punya hati. Saat itu Flo yang sakit menunggu dan Grace meminta Samuel menjaga keluarga, tetapi anggota keluarga menuduh Samuel memanfaatkan kondisi anak sebagai dalih. Tuduh-menuduh soal kelayakan jadi orang tua saling dilancarkan—Grace menyatakan kecewa pada pernikahan mereka dan Samuel balik menyerang kelayakannya sebagai ayah—hingga percakapan berubah jadi ultimatum. Episode ditutup dengan keputusan mengguncang: salah satu pihak mengusulkan perceraian, meninggalkan nasib keluarga yang belum terselesaikan.
Samuel mengejutkan keluarga dengan mengajukan cerai; anggota keluarga, termasuk kakak ipar, menentang karena masalah uang dan takut ia jadi pengemis. Mereka mendesak tanda tangan, berdebat soal mobil dan dukungan, bahkan ada sindiran "istrimu akan jadi milikku." Grace memilih fokus kembangkan karier dan mengatakan akan menyerahkan rumah serta Flo kepada Samuel. Percakapan beralih ke keputusan praktis: Samuel berjanji kembali ke perusahaan dalam tujuh hari, sementara beberapa pihak menyatakan mereka sudah bercerai. Episode berakhir dengan penutupan tujuh tahun pernikahan dan ketidakpastian tanggung jawab keluarga selanjutnya.
Flo merayakan ulang tahun dan ingin pergi ke taman bermain; ayah mendorong ibu, Grace, menemaninya. Paman Louis muncul dengan tiket konser dan mengatakan ibu akan ikut nonton, sehingga Grace terombang-ambing antara janji pada Flo dan tawaran Louis. Samuel menegur Grace karena melanggar janji tiga bulan lalu dan memaksa pilihan moral soal tanggung jawab ibu. Grace sempat setuju meneman Flo, namun Louis mengungkapkan hanya ada tiga tiket dan berencana ikut, memicu konflik keluarga. Teman menyebut Samuel akan menjemput Flo, tapi Samuel belum datang; Flo menjerit, "Ibu jangan pergi," meninggalkan ketidakpastian nasibnya.
Episode dimulai saat Flo ditinggalkan di taman oleh ibunya; ayah segera membawa Flo ke rumah sakit. Hari ulang tahun Flo berubah tegang ketika keluarga berkumpul: Samuel marah pada Grace karena meninggalkan anak, Grace disalahkan dan menegaskan ini bukan salahnya. Perselisihan melebar—Grace menuduh Samuel memanfaatkan Flo untuk menyerang Louis, Samuel balik menyalahkan Grace. Flo hampir digigit anjing, memicu kecemasan lebih lanjut. Louis tampak lelah dan ingin pulang. Di akhir, Flo menangis bahwa ia tidak mau ibunya lagi, meninggalkan retaknya kepercayaan yang belum terselesaikan.
Episode dimulai saat keluarga sedang pergi ketika seseorang memerintahkan "jalankan rencananya" dan "tabrak dia", lalu kendaraan mereka ditabrak. Ayah pingsan, Louis terluka dan mengeluh sakit kepala; keluarga panik meminta dibawa ke rumah sakit. Ibu berusaha menyelamatkan ayah, Flo dan Grace kaget oleh keterlibatan pihak lain, sementara Samuel dicemooh karena bersikap bercanda di tengah krisis. Terungkap ancaman motivasi warisan—"kalau kalian mati semua akan jadi milikku"—dan episode berakhir dengan suara tegas "sudah waktunya berakhir," meninggalkan nasib ayah dan konsekuensi rencana yang belum terselesaikan.
Di UGD seorang pasien kritis, detak jantung tinggi dan beberapa organ rusak, dokter mengumumkan operasi diperlukan dan butuh tanda tangan keluarga. Seorang anak datang, memanggilnya ayah dan memohon agar diselamatkan; petugas mendesak mencari ibu untuk menyetujui operasi. Seorang paman hadir, dan staf menyebut orangtua sudah bercerai serta ibu tak kelihatan. Di sela itu, seorang wanita mengungkapkan ambisi: jika Samuel mati, Grace dan perusahaannya akan menjadi miliknya. Saat persiapan dimulai, pasien mendadak sakit dada, memicu pemeriksaan darurat dan keputusan segera yang belum diambil.
Episode dimulai di rumah sakit: dokter melaporkan luka parah di dada yang bisa meninggalkan efek samping, sementara keluarga panik—Flo memohon agar ibu menyelamatkan ayah yang muntah darah. Kak Grace menenangkan Louis dan memberi izin pelukan; terungkap perselisihan tentang kebenaran cerita Flo, dan Ibu ditarik untuk mencari ayah. Seseorang berkata harus menjaga Paman Louis yang sakit. Lompatan waktu: setelah tujuh tahun, seseorang mengaku sudah menunggu Samuel dan berjanji tidak akan melepasnya lagi. Di akhir, kabar menghentak: Samuel dikabarkan kritis, mengancam janji itu.