Di pesta ulang tahun, Jesi mengumumkan dia diterima menjadi dokter forensik dan teman-teman menggoda soal 'bau mayat' yang melekat padanya. Zico, pacarnya, tampak mendukung keputusan itu dan mereka merayakan sambil bercanda. Namun suasana berubah ketika Jesi tiba-tiba meminta putus. Ia menuduh Zico tak pernah menyentuhnya selama tiga tahun; Jesi mengira itu penghormatan, tetapi kemudian tahu Zico menghindarinya karena bau tubuhnya terkait pekerjaan forensik. Jesi memilih mengakhiri hubungan. Episode berakhir dengan Zico terkejut dan hubungan mereka menghadapi konsekuensi dan keputusan yang belum terselesaikan.
Dokter Jesi terjebak macet dan disuruh menunggu di bar sementara penjemput dijanjikan datang. Saat sadar, ia panik menemukan tanda bahwa malam sebelumnya ia tertidur dengan seorang pria — ia merasa bersalah karena dokter pernah bilang ia mandul, namun tubuhnya kini bereaksi, dan ia menyadari telah membuat kesalahan besar. Seorang wanita tua (Nek) menanyainya, menekan soal kemungkinan menginap di rumah Zico dan mendesak pernikahan. Ketegangan memuncak saat Rio Jaya menelepon, mengaku sebagai pria semalam dan mengatakan membawa kartu kerjanya: "Kalau mau ambil, cari aku", meninggalkan Jesi menghadapi ancaman pengungkapan.
Episode dibuka saat tim mendesak Pak Rio menandatangani proyek dan diberi tahu Dokter Ben sudah menunggu di ruangannya. Rekan-rekan menggoda Rio karena semalam dia ternyata tidur dengan seorang wanita, padahal dulu dia dianggap mandul—momen itu menjadi bukti fungsi seksualnya dan memicu saran agar ia menikahi wanita tersebut demi memperoleh keturunan. Pembicaraan berlanjut ke tekanan sosial dan bisnis: anak dapat mengurangi masalah terkait kedudukan dan kekayaan. Di akhir, Nona Jesi minta maaf atas kejadian kemarin lalu mengejutkan dengan melamar Pak Rio, memaksa Rio menghadapi keputusan penting segera.
Jesi, seorang dokter forensik, memutuskan hubungannya dengan pacarnya, Zico, dan menolak kembali berpacaran atau menikah. Zico tak terima: ia menekan, memaksa permintaan maaf, dan teman-teman menekan Jesi dengan hinaan soal orang tua dan pekerjaan sial. Jesi menegaskan putus dan meminta dilepaskan, sementara Zico menyombongkan bahwa pamannya, seorang pebisnis terkenal, akan segera pulang untuk membantu Keluarga Ero, menunjukkan kemungkinan pengaruh dan dukungan yang memihaknya. Episode ini ditutup saat pamannya terlihat tiba, meninggalkan Jesi di bawah tekanan pilihan dan konsekuensi yang belum terselesaikan.
Jesi kaget saat terungkap Rio adalah pamannya dan pendiri Grup ST; keluarga menekan agar ia berlutut minta maaf dan berhenti bekerja sebagai dokter forensik supaya bisa menikah ke keluarga kaya. Zico menambah tekanan, mengejek pekerjaannya yang 'membawa sial', sementara tuduhan perselingkuhan muncul terhadap seorang pria. Adu mulut memanas, satu pihak melancarkan pukulan dan nenek tiba-tiba pingsan. Seorang pria mengaku sebagai pacarnya dan menolak perjodohan itu. Episode ditutup dengan panggilan ambulans untuk nenek, meninggalkan keputusan tentang karier dan pernikahan Jesi yang belum selesai.
Jesi setuju menikah kilat dengan Pak Rio meski ragu tentang pekerjaannya sebagai dokter forensik yang sering membedah mayat. Nenek marah, mengecam calon suami sebagai berengsek dan berharap Jesi tidak menikah, namun mereka tetap mendaftarkan pernikahan dan berfoto bersama. Saat Jesi ingin merayakan, Pak Rio mendapat panggilan kasus pembunuhan di barat kota dan harus segera berangkat. Sebelum pergi ia menyebut alamatnya, Gardenia No.1, sebuah vila super mahal yang mengejutkan Jesi; perayaan tertunda dan nasib pernikahan kilat itu kini menggantung.
Episode dimulai saat keluarga riuh merayakan kabar bahwa Rio sudah sembuh dan akan menikah; mereka berencana mengunjungi dan memilih hadiah untuk calon menantu. Suasana beralih drastis ke tempat kejadian: mayat ditemukan kaku dengan waktu kematian sekitar 10 jam, fraktur cekungan pada tengkorak kiri dan retakan pada sambungan tulang leher. Keluarga tersulut emosi, menuduh istri almarhum sebagai pembunuh dan mengancam. Dokter forensik menyampaikan temuan medis dan menegaskan korban jatuh karena terpeleset, bukan dibunuh. Ketegangan tetap tinggi karena keluarga menuntut keadilan meski penyebab kematian diperdebatkan.
Keluarga korban menuduh kematian putrinya bukan kecelakaan: "Putriku pasti dibunuh dia." Mereka memaksa dokter melakukan autopsi dan menandatangani surat persetujuan setelah mengkritik pemeriksaan awal yang dianggap tidak akurat. Adegan bergeser ke malam dimana Dokter Jesi masih menulis laporan; rekannya menyuruh pulang namun Jesi menunda karena menyebutkan ada "urusan penting" setelah fajar. Telepon pihak lain sibuk, lalu keluarga mengundang Jesi ke rumah untuk bertemu. Episode berakhir dengan Jesi menuju pertemuan itu—autopsi disetujui, tetapi tuduhan pembunuhan masih menggantung menunggu jawaban.
Di tengah pesta keluarga menyambut Rio yang akan membawa pulang istrinya, para kerabat menggosipkan bahwa istri barunya, Jesi, bekerja sebagai dokter forensik, memicu cemoohan tentang bau mayat dari pekerjaannya. Seorang staf lalu menghubungi bos keluarga dengan kabar mengejutkan: Jesi ternyata mantan pacar keponakan keluarga, Zico, yang baru saja memutuskannya. Pengakuan itu mengubah suasana pertemuan menjadi canggung dan memunculkan ketegangan antar anggota keluarga. Episode berakhir dengan keluarga dan Zico berada di ambang konfrontasi, meninggalkan pertanyaan siapa yang akan mengatasi masalah ini terlebih dulu.
Jesi muncul di rumah paman Rio mengklaim baru menikah kemarin dan ingin bertemu paman. Zico menolak dan menghina, menuduhnya mengejar dia, memalsukan foto dan akta nikah, lalu memanggil pengawal untuk mengeluarkannya. Jesi bersikeras "Ini asli!" sambil bergelut saat pengawal mencoba menyeretnya. Orang-orang di rumah penasaran; salah satu menemukan salinan akta dan bertanya apakah wanita di akta itu menantunya. Permintaan agar akta nikah Rio dikeluarkan untuk dibandingkan mengubah suasana jadi tegang. Episode ditutup saat semua menunggu verifikasi dokumen yang belum terjawab.