Erno datang dengan tuntutan menikahkan adiknya dengan membawa hewan buruan dan mahar 30 tael, bahkan mengincar setengah tanah keluarga sebagai syarat. Ayah keberatan karena kondisi fisiknya tak memungkinkan berburu, tapi Erno bersikeras demi masa depan adiknya. Keluarga menolak menyerahkan tanah, sementara makanan hampir habis membuat situasi semakin mendesak. Keraguan muncul saat Erno mengaku sudah mendapat hewan buruan, tapi dianggap berbohong karena musim dingin sulit berburu. Ketegangan membuncah ketika Erno diperintahkan menepati taruhan yang bisa menentukan nasib keluarga dan pernikahan tersebut, tanpa kejelasan hasil buruan yang sebenarnya.