Ketika rombongan diserang oleh musuh dalam jumlah besar, sang ketua dengan cepat menyadari bahwa menyerang agresif hanya akan menguras tenaga dan membuka celah yang membahayakan. Ia memerintahkan pasukan untuk berhenti menyerang dan beralih ke formasi bertahan sambil memancing musuh untuk menyerang terlebih dahulu. Strategi ini akhirnya berhasil melemahkan musuh dan membalikkan keadaan. Seorang prajurit mengakui kebijaksanaan ketua yang mampu membaca pola pertempuran tanpa bergerak, sekaligus menyesali keinginannya menyerah sebelumnya, meninggalkan ketegangan tentang perjuangan selanjutnya.