Seorang anak angkat merasa kecewa karena bakat langka tingkat S yang dimilikinya dipindahkan ke Adik, yang ternyata bukan saudara kandungnya dan hanya memiliki bakat tingkat F. Ia dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa demi masa depan Keluarga Jiwanto, dirinya dianggap hanya sebagai korban pengorbanan. Konflik ini memunculkan ketegangan antara identitasnya sebagai anak angkat dan posisi dalam keluarga, meninggalkan situasi yang menggantung tentang nasibnya selanjutnya.