Kota Hanggara dikuasai tiga geng besar; seorang narator menjelaskan ia berlatih bela diri selama lima tahun untuk membasmi mafia. Di episode ini ia dan rekan menyaksikan kekejaman geng: banyak keluarga hancur, wanita dipaksa jadi pelayan kelab malam, dan ancaman pembunuhan mengintai. Seorang pembimbing menyarankan strategi licik: adu domba antar geng dan masuk ke Geng Losin karena ketuanya, Dodi, sedang sakit parah. Feri diminta bergabung dan menyatakan bersedia. Kemudian beredar kabar Dodi ditemukan tewas mengenaskan, dan Nyonya bos tiba—meninggalkan ketegangan baru yang mencemaskan dan belum terpecahkan.
Di pemakaman Bang Dodi, seorang wanita mengungkapkan bahwa kematiannya bukan karena sakit tetapi dibunuh di Pemandian Xenia; Ketua Ziko dari Balai Zelda dan empat anggota senior juga tewas. Suasana pemakaman memanas. Para pelayat terpancing menuding Geng Hesa sebagai pelaku dan meneriakkan 'Balaskan dendam Bang Dodi!' Pemimpin meminta penyelidikan tuntas dan menolak menuduh sembarangan, namun memerintahkan pengumpulan semua anggota untuk menghancurkan Geng Hesa. Episode berakhir dengan kelompok itu bersiap bergerak, sementara penyelidikan yang menyertai ancaman pembalasan akan segera menentukan nasib Geng Hesa.
Episode ini membuka dengan wawancara singkat di Balai Zelda: seorang Nyonya menanyakan identitas Feri, murid Generasi X dan pemegang tingkat kuning, lalu menaikkan dia menjadi anggota senior. Setelah kenaikan, Feri nekat mendatangi markas Losin. Di sana ia ditangkap dan diinterogasi oleh anggota Losin yang mengejek keberaniannya, menuntut tahu siapa yang mengirimnya, dan memerintahkan agar dia dibawa pergi. Mereka mengancamnya dan merendahkan asalnya; episode berakhir dengan Feri ditarik dari tempat itu, sementara motif pengirimnya dan nasib Feri tetap belum terungkap, meninggalkan pertanyaan besar.
Zacky, ketua Balai Macan Hitam Geng Hesa, tiba di markas Geng Losin dan memancing konfrontasi saat menggoda Nyonya Bella; Bella menolak dan menuduh tangan kotor Hesa. Ketegangan memuncak ketika Bella menuduh Zacky mengirim orang yang mencoba membunuhnya. Pihak Losin memerintahkan Leo membawa dan menembak orang asing itu sebagai tumbal untuk arwah Bang Dodi. Seorang anggota menahan perintah, menunjuk bahwa korban tampak tak terkait dan mempertanyakan apakah pelaku benar anak buah Geng Hesa. Keputusan eksekusi tertunda, dan keraguan ini mengancam memicu perang antargeng.
Di markas Geng Losin, Bella menahan seorang pria yang mengacaukan pemakaman Bang Dodi dan diduga mencoba membunuhnya. Zacky bilang itu salah paham, tapi ketegangan memuncak ketika pemimpin Losin menuntut pertanggungjawaban dan mengancam perang melawan Geng Hesa jika pria itu dibiarkan. Mereka membuat kesepakatan: seorang petarung Losin akan tanding; bila Losin menang, pria itu dibawa pergi dan harus menemani Zacky semalam; bila kalah, Zacky memberi ganti rugi 200 miliar dan sujud minta maaf di depan foto Bang Dodi. Nasib pertandingan dan korban masih menggantung.
Di sebuah pertemuan Geng Losin, seorang pemimpin memaksa kelompok lawan menemani dan menyelesaikan masalah semalam, sambil mengejek kemampuan mereka. Dia memperkenalkan saudaranya yang dijuluki 'Pembantai Tangan Berdarah', disebut peringkat tiga dalam Daftar Pembunuh, dan menantang siapa pun untuk melawan. Saat ancaman memanas dan ejekan berubah menjadi provokasi terbuka, beberapa anggota ragu, Zacky disuruh diam, lalu Romi maju menyatakan, 'Aku, Romi, ingin melawannya.' Seorang Nyonya memberi izin; kesepakatan duel diterima. Episode ditutup dengan persiapan pertarungan yang segera dimulai, nasib Romi masih belum diketahui.
Episode dibuka dengan pembacaan Surat Perjanjian Kematian dan ucapan bahwa hidup dan mati ditentukan takdir, lalu anggota geng mempertanyakan peluang Bang Romi menghadapi lawan. Beberapa meremehkan reputasinya sebagai Peringkat 3 Daftar Pembunuh, sementara lainnya mendorongnya untuk menyerang. Bang Romi menunjukkan kemampuan dalam perkelahian yang disaksikan: sorakan, celaan, dan ancaman agar lawan merasakan kekejamannya. Namun setelah bentrokan, Romi terkulai tak sadarkan diri; rekan-rekannya panik dan mencoba membangunkannya, sementara seseorang berujar 'Tebakanmu benar.' Episode berakhir dengan nasib Romi dan reputasinya masih belum jelas.
Di hadapan anggota Geng Losin, Leo dituding membunuh Romi dan diancam mati; Nyonya serta anggota menuntut balas berdasar 'Surat Perjanjian Kematian' dan memerintahkan, 'Habisi dia.' Mereka menolak membatalkan taruhan dan menekan Leo maju untuk pertandingan kedua. Seorang pendukung teriak 'Bang Leo hebat', sementara yang lain menyerukan 'Bertarunglah yang bagus' dan seorang pengancam bersumpah 'tahun depan... aku akan nyekar ke makammu.' Pertarungan dimulai di lantai dingin; Leo berjuang di bawah teriakan, dukungan dan permusuhan bercampur, nasibnya tetap menggantung saat episode berakhir.
Episode dimulai ketika kelompok setempat menuduh pihak lain membawa rompi antipeluru ke perkelahian melawan Geng Losin, menyebutnya curang. Cemoohan berubah menjadi tantangan praktis: ada uji antara tinju dan rompi, dan nama 'Gendut' dipanggil untuk ikut. Ketegangan melejit saat terjadi insiden—seseorang berseru 'Bahaya' dan rekan-rekannya panik memanggil Bang Leo, menanyakan kondisinya. Seorang pria menegaskan akan 'menunjukkan' mana yang lebih keras, rompi atau tinju, tetapi kemudian terdengar pengakuan kalah: 'Aku menyerah.' Episode berakhir dengan kekhawatiran atas Bang Leo dan konsekuensi pengakuan itu yang belum terjawab.
Di depan Geng Losin, Ketua Leo mengerahkan anggota untuk menguji Zacky lewat pertarungan bergilir. Zacky sudah memenangkan dua ronde dan menegaskan satu ronde terakhir akan menentukan pemenang jika ia kembali menang. Anggota Losin geram dan berencana mengeroyok agar Zacky kelelahan; mereka saling bercanda tentang pahlawan dan salah menyebut nama geng. Saat giliran ketiga dipersiapkan, Ketua memanggil petarung baru. Seorang pria di kerumunan mengangkat tangan, "Aku ingin coba." Episode berakhir dengan tantangan baru maju, nasib Zacky dan hasil ronde penentu tetap menggantung.