Setelah kematian Selly, mayatnya tiba-tiba hilang, membuat keluarga panik dan saling menyalahkan. Joni yang dikenal dingin sejak insiden itu, menghadapi kemarahan orang-orang, sementara anaknya Tani membawa kabur jenazah Selly. Tani terus berdoa agar ibunya yang koma bisa sadar, meski desakan dan ketidakpastian membebani suasana. Konflik mencapai puncak saat Joni dan Tani saling berhadapan dengan perasaan benci dan sakit hati yang mendalam. Ketegangan berakhir tanpa solusi, mempertanyakan nasib Selly dan keharmonisan keluarga yang makin retak.