Toni Liso, seorang penyidik modern yang terjebak di zaman kerajaan dan menjabat sebagai pejabat tingkat 9, memimpin persidangan pertama sebagai bupati cilik. Meskipun diremehkan dan dihina oleh pejabat desa yang korup, Toni bertekad mengadili kasus penculikan anak yang rumit antara dua wanita yang saling mengklaim sebagai ibu kandung. Toni mengaktifkan Sistem Hakim Adil untuk mendapatkan poin kebijaksanaan dan memutuskan bahwa cara menentukan ibu sang bayi adalah dengan memberi kedua wanita itu memegang bayi secara bersamaan, siapa yang berhasil merebutnya dialah ibu yang benar. Konflik masa depan soal kredibilitas Toni masih terbuka lebar.
Episode ini dimulai dengan ketegangan antara seorang pejabat dan beberapa orang yang memandangnya dengan rendah, menganggapnya bodoh dan tidak kompeten. Pejabat tersebut mengancam akan menerapkan caranya demi mengendalikan situasi yang dianggapnya kacau. Di tengah konflik, seorang wanita mengklaim bayi sebagai anaknya, tapi tuduhan ini ditolak dan menimbulkan perselisihan sengit. Pejabat lalu memerintahkan agar wanita yang dianggap membuat onar dihukum. Terungkap bahwa wanita lain, Nyonya Lina, melepas bayi tersebut karena kasihan akan rasa sakit, berbeda dengan Nyonya Heni yang dianggap tidak peduli, memicu pertanyaan siapa sebenarnya ibu yang layak. Ketegangan soal hak asuh bayi ini belum tuntas dan masih menggantung hingga akhir episode.
Di episode ini, bupati cilik Tuan Jano menghadapi kasus Nyonya Heni yang mencoba merebut bayi milik Nyonya Lina. Meski niat jahat terbuka, Tuan Jano menegakkan hukum dengan tegas tanpa menerima sogokan, menghukum Nyonya Heni dua minggu penjara dan denda sebagai kompensasi. Ia mendapat pujian atas kebijaksanaannya, namun diperingatkan agar konsisten agar hukum tetap efektif. Meski keberanian Tuan Jano diapresiasi, ada keraguan bahwa para elite desa akan terus menghalangi. Episode berakhir dengan Tuan Jano bertekad mempertahankan reputasinya dan bersiap menghadapi tantangan berikutnya.
Seorang bocah menggunakan sistem untuk membeli ilmu bela diri 'Tinju Kuat' dan langsung menguasainya, memutuskan untuk mengumpulkan poin kebijaksanaan demi meningkatkan kekuatan fisiknya yang masih lemah. Di sisi lain, seorang pria mengancam seorang wanita bernama Sari dengan mengatakan akan menebus kakaknya setelah puas, sementara memperingatkan bahwa Bupati Kecil akan menghukumnya. Pria tersebut meremehkan Bupati Kecil, menyebutnya hanya anjing peliharaan keluarga Catu yang tak berdaya. Ketegangan mencuat saat sosok bernama Tinju Kuat muncul, meninggalkan situasi yang belum menemukan penyelesaian.
Toni, anggota cabang keluarga Catu, berani menghadang dan melawan pelayan dari keluarga utama yang melecehkannya. Pelayan itu menantang Toni untuk berlutut dan minta maaf, bahkan mengancam hal yang lebih buruk. Konflik memuncak ketika pelayan tersebut melaporkan Toni pada tuannya, yang memerintahkan agar Toni dipukuli dan diusir dengan kekerasan. Meski mendapat ancaman berat dan tekanan dari keluarga Catu, Toni tetap menolak menyerah. Episode berakhir dengan ancaman serius dari pelayan tersebut bahwa Toni akan menghadapi kematian mengenaskan karena keberaniannya menentang Keluarga Catu.
Dalam episode ini, Bupati Cilik menghadapi ancaman dari Keluarga Catu yang berusaha menghalangi upayanya menegakkan keadilan. Setelah insiden konfrontasi, Bupati bertekad untuk mengusut kasus lama demi mendapatkan poin kebijaksanaan. Namun, dia menemukan arsip penting yang rusak dan mencurigai keterlibatan Tuan Jano, yang tiba-tiba ke gudang arsip pagi itu. Meskipun begitu, Bupati tetap yakin dan memerintahkan asistennya untuk menyiapkan dokumen baru sebagai persiapan menghadapi tantangan dari Keluarga Catu, menegaskan tekadnya untuk melanjutkan perjuangan hukum meski rintangan terus berdatangan.
Episode ini dimulai dengan keraguan warga terhadap keberanian Toni, seorang anak kecil yang menjadi bupati untuk menegakkan keadilan. Ketika seorang guru desa, Zaki Kova, melaporkan dugaan pencurian lukisan pusaka keluarga Catu yang dituduhkan padanya oleh Tuan Gino, sebuah sidang dadakan digelar sesuai perintah Toni. Konflik memuncak saat Zaki menjelaskan bahwa ia tidak mencuri, malah lukisan itu dijualnya karena kesulitan ekonomi, sementara Tuan Gino menuntut hukuman. Toni menghadapi tekanan untuk memihak keluarga Catu, tapi menolak tunduk pada pengaruh mereka, menandai ketegangan yang belum terselesaikan antara keadilan dan kekuasaan lokal.
Dalam episode ini, Bupati Cilik Gino menghadapi persidangan kasus sengketa lukisan berharga yang diduga milik Keluarga Catu. Saat diminta berlutut sebagai bentuk penghormatan, Gino menolak dengan tegas meski mendapat tekanan dan ancaman hukuman. Ketegangan meningkat ketika Zaki, yang miskin, dituding tidak layak menyimpan lukisan tersebut. Gino berusaha menegakkan keadilan tanpa memihak keluarga bangsawan dan menunjukkan keberaniannya dengan mengumumkan keputusan yang adil sebagai contoh bagi warga. Namun konflik internal Keluarga Catu dan ancaman pengaduan ke pemerintah provinsi tetap menggantung, menimbulkan ketidakpastian dalam penyelesaian kasus ini.
Dalam episode ini, Gino menjatuhkan vonis keras kepada Toni yang dituduh mencuri dan merampas harta orang lain, memerintahkan hukuman penjara dan pukulan sebagai contoh. Toni dan orang-orang sekitar menolak putusan Gino karena dianggap tidak adil dan asal-asalan. Gino kemudian menemukan fakta bahwa lukisan yang menjadi barang bukti sebenarnya disimpan di tempat yang berbeda dan menunjukkan kondisi lukisan yang penuh debu dan kusam, membuktikan Toni membuat tuduhan palsu. Gino menambah hukuman Toni dan memaksa Toni untuk mengaku dan menerima konsekuensinya, meninggalkan ketegangan mengenai pengakuan Toni.
Dalam episode ini, Bupati Kecil yang berusia 8 tahun menunjukkan keputusannya yang tajam dan membela rakyat dengan adil, sehingga mendapatkan pujian dari para pejabat dan warga. Namun, konflik muncul saat kasus seorang bawahan, Nugi, yang mabuk dan melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang gadis, terungkap. Bupati menghadapi dilema antara melindungi bawahan dan menegakkan keadilan. Nugi mengakui perbuatannya dan meminta hukuman, meninggalkan ketegangan tentang langkah Bupati berikutnya dalam menangani kasus ini.