Bermula saat seseorang menemukan roh yang tak ternodai di puncak; penyerang menawarkan sup pelupa agar korban melupakan derita dan bereinkarnasi dengan hidup mewah, tapi korban menolak. Penyerang mengaku membunuh ibu korban dan menyebabkan kebakaran agar Kak Dirto bisa terlepas dan menjadi dewa, lalu mengancam akan membunuh korban. Terungkap bahwa keberuntungan kakak berpindah karena seorang dewi bernama Venny, membuat keluarga korban hancur. Korban menuntut keadilan terhadap para dewa meski rohnya hancur, dan penyerang menunjukkan tujuan mereka, Langit Kesembilan, tempat tinggal para dewa, membuka konflik berikutnya.
Di Langit Kesembilan para dewa mendengar ratap warga: negeri hancur, mereka memohon Sirdo mundur, anak dikembalikan, dan perlindungan. Para dewa mencatat dupa Sirdo berkurang dan berencana melapor ke Raja Langit agar hujan dikurangi sebagai hukuman. Mereka juga menyambut kabar Darjo berperang lagi karena itu memaksa orang berdoa. Tiba-tiba muncul seseorang yang tampak naik dari Pohon Langit yang terhubung ke Jembatan Roh, sesuatu yang belum pernah terjadi belakangan ini, dan kedatangannya meninggalkan ketidakpastian tentang reaksi para dewa.
Seorang pengadu menemui Raja Langit, menuntut keadilan: ia dan Dirto berjanji sehidup semati, tetapi Dirto berselingkuh dengan Dewi Venny yang kemudian membunuh ibunya, dan 73 anggota keluarganya tewas. Raja Langit meremehkan kehilangan itu, menyebut manusia akan lahir kembali, lalu menerima kabar bahwa Venny dan Dirto adalah dewa yang ditakdirkan dan memerintahkan mereka masuk. Para dewa melapor roh jahat mulai bergerak dan jiwa Bella akan bangkit, sehingga rapat darurat diprioritaskan. Permintaan pengadu tetap tak terpenuhi, sementara ancaman supranatural segera dibahas.
Di hadapan para dewa diputuskan bahwa Bella harus dikembalikan ke alam manusia karena kembalinya akan membawa bencana. Beberapa dewa menegaskan manusia boleh diabaikan dan karmanya 'impas', sementara seorang korban menuntut karena 73 anggota keluarganya dibunuh namun keluhannya dianggap salah. Lancang dan Kak Dirto didesak pergi karena Raja Langit menunggu. Di adegan lain, seorang penyelamat menangkap dan menyadarkan seorang yang hampir hancur, lalu menyerahkan sisa jiwa orang tuanya yang bisa direinkarnasi jika dirawat. Episode ditutup dengan keraguan apakah reinkarnasi itu cukup sebagai keadilan.
Di Jembatan Roh, sekelompok orang memperdebatkan jalan cepat menuju kekuatan: menjadi dewa butuh ribuan tahun, tapi masuk sungai dendam bisa mengubah seseorang menjadi iblis dalam sekejap. Seorang wanita mengaku dendam dan utangnya belum lunas; meskipun diperingatkan bahwa jadi iblis berarti tak bisa reinkarnasi, ia memilih menyerahkan kemanusiaannya demi keadilan. Aroma yang familier muncul, lalu berita tiba: Bella telah bangkit. Kebangkitan Bella memicu kepanikan dan perintah untuk segera memanggil kedua dewa, meninggalkan keputusan wanita itu dan bahaya baru yang belum terselesaikan.
Varel kembali dan menemui Bella yang baru bangkit; ia menjelaskan masa lalu: tiga iblis besar—Bella, Helen, dan Varel—dihentikan oleh dewa, membuat Bella lenyap dan Helen tertidur sementara Varel menjaga Sungai Roh menunggu kebangkitan. Ia mengajak mencari Helen dan mengambil langkah mempersenjatai dua dewa yang ditakdirkan, Venny dan Dirto, dengan Pedang Langit dan Kecapi Naga agar dapat membunuh Bella sebelum ia menjadi iblis. Para dewa turun ke alam untuk menghadapi Bella. Di akhir, Varel mengembalikan benda pusaka kepada pemiliknya lalu seseorang memanggil, 'Varel, kau sedang apa di sini?'
Episode dimulai saat Varel menemukan Fira, yang tak bereinkarnasi dan ternyata menjadi Bella. Seseorang menyuruh Bella pergi ke barat karena Helen ada di sana. Toni mengajukan perjanjian: jika mereka tidak menyerang, ia juga tak akan; tetapi ia siap hancur demi melawan bila diserang. Kak Dirto didesak maju karena jika dia lolos, tiga alam akan bencana dan dia harus segera dibunuh. Dirto khawatir jika Raja Langit tahu bahwa ia dan Venny membunuh keluarganya, mereka akan dihukum. Nyawa Fira/Bella terancam; keputusan Toni dan langkah Dirto menentukan apakah bencana bisa dicegah.
Episode dibuka dengan seseorang menuduh kelompok lain membunuh 73 anggota keluarganya atas nama keadilan dan mempertanyakan mengapa keberuntungannya direbut. Dia mengaku sudah mati dan ingin menjadi iblis karena dendam. Lawan menegaskan manusia tak berkuasa dan menuntut agar ia memberi keberuntungan kepada Kak Dirto supaya Kak Dirto menjadi dewa. Pelaku mengaku sempat menawarkan 'sup pelupa' agar roh bereinkarnasi, tetapi orang itu melapor sehingga menambah kesalahan. Sekutu Kak Dirto mendesak agar dia membunuh korban sebelum dia benar-benar menjadi iblis. Keputusan Kak Dirto menggantung dan menentukan nasib semua pihak.
Pertengkaran memanas di hadapan Kak Dirto: anggota kelompok mengingatkan adanya dua roh terpecah dari Keluarga Sartika yang pernah dibunuh dan mendesak agar mereka diberi ampun supaya tak dilaporkan kepada Raja dan Ratu Langit. Venny memperingatkan Dirto agar tidak membuka masalah lama, apalagi setelah insiden yang disebabkan Fira. Seorang pria kemudian mengaku membunuh ibu dan keluarganya, menuduh para dewa menindasnya dan memaksanya menjadi iblis. Ketegangan berakhir pada tekanan untuk keputusan keras dari Dirto; nasib roh terpecah dan konsekuensi tindakan tetap menggantung.
Fira awalnya bertunangan dengan Dirto, namun Dirto, dihasut Venny, membunuh keluarga Fira demi ambisi menjadi dewa. Berbalut dendam, Fira memanjat ke Langit Kesembilan untuk menuntut keadilan, tetapi para dewa menutup telinga. Putus asa, ia terjun ke Sungai Roh dan terbangun sebagai Bella, dewa iblis dari kehidupan lalu. Bella bersama rekan berusaha membangkitkan Helen, namun pengepungan para dewa memaksa mereka melarikan diri ke dalam mimpi Helen. Venny dan Dirto mengejar ke ranah mimpi, tetapi keterikatan lama justru membuat mereka membantu kebangkitan Helen. Ketika Bella, Helen, dan Varel bersatu kembali, kekuatan mereka mengguncang tatanan surgawi dan menimbulkan ketakutan di antara para dewa.