Gisel membuka episode dengan menceritakan lima tahun pernikahannya penuh balas dendam terhadap Heri: tahun pertama ia merusak mobilnya, tahun kedua mendorongnya ke kolam setelah dikurung di ruang pendingin, tahun ketiga menyeretnya pulang dari klub karena mabuk. Mereka saling mengutuk hingga titik balik di tahun kelima saat konfrontasi memuncak—terdengar tuduhan "Kenapa kau membunuhku?" dan jawaban "Tanya saja pada Raja Neraka." Panggilan ke Heri tak terjawab; Gisel memohon agar mereka berhenti bertengkar sebelum ia akhirnya mati, meninggalkan pertanyaan siapa yang bertanggung jawab.
Seorang wanita yang masih terikat pada Heri memulai episode dengan dipaksa meminum sup penghapus ingatan sambil diingatkan masa lalunya: Nenek pernah mengancam nyawanya agar ia menikah dengan Heri. Meski ditikam 33 kali dan minum 99 mangkuk, ia tetap tak bisa lupa. Gisel mencemoohnya, sementara wanita itu mengaku obsesinya menyatu dengan darah dan jiwa. Dewi Akhirat muncul menawarkan kesempatan: kembali ke dunia selama lima hari jika mampu membuat Heri mengatakan 'dia mencintaimu' dengan tulus. Jika gagal, ia harus melepaskan semuanya dan bereinkarnasi. Episode berakhir saat ia benar-benar kembali, menghadapi tenggat lima hari.
Gisel, yang mengaku telah menghabiskan hidupnya untuk membuat Heri mengucap cinta, memberi diri lima hari terakhir dan mendesak Heri untuk mengatakan bahwa dia mencintainya. Di tengah ketegangan rumah, Luna muncul dan Heri justru menyatakan cintanya kepada Luna serta menawarkan Luna tinggal di rumah mereka. Gisel dan penghuni lain berdebat pedas; beberapa menuduh Gisel berperilaku memaksa dan pura-pura. Episode berakhir saat panggilan mengungkap percobaan pembunuhan terhadap Gisel gagal, dan Luna menuduh Gisel membayar orang untuk membunuhnya. Tuduhan itu menggantung, memaksa pengungkapan segera.
Episode dibuka dengan tuduhan kepada Luna — "Kau bayar orang buat bunuh aku?" — yang memicu konfrontasi antara Luna dan Gisel saat Heri terlibat. Gisel melampiaskan amarahnya, menyerang dan berkata bahwa dia sengaja membuat masalah untuk menindas "cinta pertamamu". Setelah keributan, seseorang diantar ke kamar, sementara Gisel mengancam, "Aku akan buat perhitungan nanti." Heri mencoba menengahi lalu mengaku, "Aku mencintaimu," namun pengakuan itu dibalas dengan kebencian: "Aku sangat ingin kau hilang selamanya." Episode berakhir dengan ancaman itu tetap menggantung.
Di sebuah lelang, Luna menghadapi seorang wanita yang menuduhnya memanfaatkan Heri saat pria itu koma dan mengklaim pernah memeras neneknya demi uang. Wanita itu memperlihatkan kartu tambahan milik Heri dan menggunakan ancaman: bila Luna tak pergi, ia akan mengaku didorong dari tangga sehingga Heri menghukumnya. Luna menolak pergi karena ingin Heri segera mengakui cintanya; setelah ditekan, ia mau menemani wanita itu ke lelang. Ketegangan memuncak saat orang lain tiba dan menahan mereka, suara teriak 'Lepaskan!' menandai ancaman baru yang belum terjawab.
Seno menyergap dan menahan dua perempuan milik Heri, menuntut Heri memilih satu yang hidup dan satu yang mati sebagai balas dendam karena "putra Keluarga Pein" jatuh miskin setelah kalah dari proyek Heri. Gisel dikenali oleh Seno sebagai bagian dari kehancuran keluarganya; ia mengancam akan menghancurkan milik Heri. Luna memohon, Heri berjanji menyelamatkan keduanya meski mengaku membenci salah satu perempuan — dan menegaskan, "selama kau masih istriku, aku pasti melindungimu." Episode berakhir dengan teriakan 'Awas' dan panggilan untuk Gisel, ancaman belum terselesaikan.
Episode ini dibuka dengan konfrontasi tajam: Gisel dituduh merencanakan penculikan bersama Seno untuk menyakiti Luna. Seorang pria yang menyatakan Luna itu hidupku mengancam akan membuat Gisel menanggung akibatnya; Gisel membantah sementara korban berbisik minta tolong. Tuduhan, ancaman (aku akan buat kau kapok), dan pembelaan bergantian, membangun tekanan langsung. Lalu narasi berpindah: tersisa dua hari sampai perayaan ulang tahun Grup Deo, ketika seorang wanita berencana memaksa Heri mengakui cintanya. Ketika Pak Heri tiba, rencana itu segera menghadapi ujian yang menentukan dan memicu konfrontasi selanjutnya.
Di acara perayaan, Heri datang dengan Luna sebagai pendampingnya meski dia dan Gisel belum cerai, memicu cemoohan ketika Gisel dipinggirkan. Gisel meremehkan posisinya sementara tamu berbisik melihat Heri mesra pada Luna dan mengabaikan Gisel. Ketegangan memuncak saat Luna berteriak minta tolong, mengaku diintimidasi di toilet oleh seorang pria yang dibawa untuk melecehkannya—tuduhan yang diarahkan pada Gisel. Konfrontasi langsung follows; Heri menuduh Gisel dan menegaskan tidak akan memberi ampun jika Luna disakiti lagi. Ancaman itu menggantung sebagai konsekuensi langsung yang belum terselesaikan.
Di sebuah konfrontasi publik soal tuduhan menyakiti Luna, Heri dituntut berlutut dan meminta maaf. Ia membela diri, menuding Luna memfitnahnya, namun ketika dipaksa tunduk ia menolak, menyatakan tidak akan merendahkan diri dan justru membela Luna sebagai wanita yang dicintainya. Kerumunan mengecam Heri, menyatakan ia kejam dan tidak menjaga harga diri Gisel. Dalam klimaks, Gisel mengungkapkan bahwa dia adalah istri Heri, menuntut pengakuan dan menolak berhutang padanya. Episode berakhir saat Gisel mendesak Heri untuk mengaku cinta padanya, meninggalkan hubungan mereka menggantung.
Bu Gisel panik setelah diberitahu Bu Luna berencana menyuruh orang gali makam orang tuanya untuk mengambil abu mereka. Gisel menyerang, melarang sentuh abu, tapi Luna memaksa dan terjadi dorong-dorongan; abu akhirnya tercecer di rumput. Konflik terungkap sebagai balas dendam: 'ini akibat karena kau rebut cowok denganku.' Adegan bergeser ke permainan hitung yang membuat Luna kalah; sesuai aturan ia harus cium Kak Heri selama tiga menit, memicu konfrontasi ketika seorang wanita menegaskan, "akulah istrimu." Episode ditutup dengan ancaman langsung, "Matilah kau," meninggalkan nasib Luna yang belum jelas.