Dalam episode ini, Bu Syifa melahirkan seorang bayi perempuan, namun ia menolak anaknya karena tanda lahir besar yang membuatnya yakin bayi itu bukan miliknya. Ia bahkan mendorong suaminya, Pak Wahid, untuk membuang bayi tersebut. Pak Wahid, meski keberatan, menerima keputusan istrinya dan berjanji membesarkan anak itu di desa. Sementara itu, Marko Saputra, presdir yang sedang dalam situasi mendesak, meminta seseorang mengirim gadis dan terlihat dalam kondisi lemah setelah dibius. Episode ini berakhir dengan ketegangan tinggi mengenai nasib bayi dan ancaman pada Marko yang masih belum jelas.