Di sebuah rumah, keluarga berkumpul di dekat seseorang yang setengah mati; beberapa anggota mengejek dan menolak merawatnya, bahkan menyarankan 'biarkan si sampah ini pergi'. Mereka menuduh seorang wanita—dipanggil Ibu—telah dulu membuang anak kandungnya demi gaji ayah. Ibu mengakui dosanya, mengaku membuang anaknya, menghidupi orang yang ia sebut pengkhianat, lalu memohon maaf kepada Maya dan berjanji menebus kesalahan. Tuduhan tentang karma dan siapa yang harus mengganti tanggung jawab memicu konfrontasi, sementara keputusan keluarga tentang nasib orang sekarat tetap menggantung pada 20 Mei 1990.
Seorang wanita terbangun, menyadari ia hidup lagi dan berada di tahun 1990; ia panik memanggil Maya. Ia menemukan Maya sibuk mencuci baju Om Juno serta pakaian Riko dan Dewi, sementara Maya menuding Ibu terlambat datang. Ibu mengakui kesalahan, berjanji agar Maya tak lagi mencuci baju kotor dan akan memberi hidup yang lebih baik dan bahagia. Maya menolak meminta rok baru yang dibutuhkannya untuk pentas Hari Anak. Episode ditutup dengan janji Ibu yang baru berhadapan dengan penolakan Maya, menyisakan ketegangan tentang apakah perubahan itu akan terjadi.
Maya bersemangat karena guru menobatkannya penari utama dan meminta rok baru untuk penampilan Hari Anak kepada Tante Rina dan Ibu. Di rumah, percakapan bergeser ke perbandingan dengan Dewi; seorang wanita mengejek ayah Maya dan merendahkan anak lain. Ibu menenangkan Maya, berjanji membuatnya bahagia dan tak mengulangi tragedi masa lalu. Terungkap Ibu dulu bekerja di desain, tapi gambar desainnya dibawa Dewi hingga meraih penghargaan internasional. Ibu kini bertekad cepat mendapatkan modal pertama untuk bangkit; keputusan itu menutup episode dengan ketegangan tentang bagaimana ia akan mewujudkannya.
Episode dibuka ketika Maya tiba-tiba demam tinggi dan ibunya memohon pada Juno untuk meminjam becak agar segera dibawa ke rumah sakit. Karena tidak ada kendaraan, Juno kebingungan sampai Fajar tiba dan mengambil alih, mengantar Maya bersama Juno ke rumah sakit—momen yang meredakan krisis medis namun menarik perhatian tetangga. Sementara itu, di pasar kain muncul gosip: Rina terlihat membeli kain bagus dari Pabrik Garmen Nusa milik Fajar, lalu memberi sebagian ke keluarga Juno. Tetangga menduga motifnya ingin mendekati Juno atau memberi untuk Dewi; niat Rina masih dipertanyakan saat episode berakhir.
Episode dimulai dengan tekanan keluarga Pranoto pada Juno: mereka ingin Juno segera menikah dengan Rina, tetapi menegaskan syarat bahwa anak Rina harus disingkirkan agar Rina bisa masuk keluarga. Warga menggosip Rina beli kain bagus untuk Dewi dan memuji cara Rina merawat Riko dan Dewi lebih dari anak kandung keluarga itu. Rina hari ini tidak masak, memicu kecurigaan dan pembicaraan soal status wanita yang membawa anak. Seorang anggota menyebut adik dari pabrik garmen Pak Darma yang menyukai Juno. Keputusan tentang pernikahan dan nasib anak Rina masih tergantung.
Episode dibuka ketika seorang anggota keluarga memberitahu bahwa Milia Cempaka, anak Pak Darma, menyukainya dan berencana mengajaknya nonton. Juno dipuji karena membuat keluarga bangga dan pembicara berjanji jika berhasil jadi menantu Pak Darma akan mengangkat hidup Juno, Riko, dan Dewi. Mereka merencanakan menyingkirkan Rina setelah posisi aman dan besok akan mengambil baju yang dibuatnya. Berganti, Ibu meminta maaf kepada Maya, mengakui kesalahan, dan berjanji akan menggunakan seluruh waktunya untuk menemani Maya. Episode ditutup dengan bait tentang kunang-kunang; nasib rencana menantu dan janji Ibu tetap menggantung.
Episode dibuka dengan Ibu yang berpesan pada Maya sebelum berangkat ke kota untuk membeli hiasan kepala: sarapan di meja, gaun baru sudah di samping ranjang, dan Maya diminta menunggu di rumah. Adegan bergeser: seorang kerabat mempertanyakan Rina karena cucian belum diantar dan menuntut lokasi gaun baru milik Dewi. Ketegangan meningkat saat seorang anak memprotes, "Tante, itu gaunku." Klaim itu mengungkap kekacauan pengiriman dan memaksa pertanyaan siapa berhak atas gaun serta mengapa layanan Rina gagal — persoalan kepemilikan gaun dan cucian yang belum datang menutup episode.
Di tengah perdebatan soal gaun mahal yang diklaim untuk Dewi, Maya menangis karena orang lain juga merebut sarapannya. Lani membela Maya dan minta bukti; Maya menunjukkan catatan dari ibu yang mengatakan sarapan dan telur memang untuknya. Tuduhan bahwa anak suka bohong memicu cekcok, sementara tante dan Riko mendesak agar gaun dan bungkus yang tersisa dibawa pulang. Lani meminta menunggu Rina pulang untuk bicara, tapi salah satu pihak menuntut membawa gaun hari itu juga. Episode berakhir dengan tarik-menarik pada gaun, keputusan siapa yang menang belum terungkap.
Rina Mahesa pernah buta karena cinta. Setelah suaminya pergi, ia terjerat dalam hidup bersama Juno Pranoto, dan secara perlahan mengabaikan putrinya, Maya Mahesa. Pengabdian yang salah berujung tragis: Rina dibuang oleh keluarga Pranoto yang dulu ia bela, dan hidupnya berakhir dalam kehancuran. Namun kesempatan hidup kembali mengubah segalanya. Bangkit dengan penuh penyesalan, Rina menyumpah untuk menebus kelalaiannya. Kini fokusnya satu: melindungi Maya dari kesalahan masa lalu dan memastikan tak ada lagi pilihan yang mengorbankan sang anak. Konflik batin, pengkhianatan, dan tekad baru menegaskan pertaruhan emosional—apakah Rina bisa menepati janji hidup kedua ini tanpa mengulang kepedihan yang sama? Setiap langkahnya kini diwarnai kecemasan dan keberanian.
Rina Mahesa pernah buta karena cinta. Setelah suaminya pergi, ia terjerat dalam hidup bersama Juno Pranoto, dan secara perlahan mengabaikan putrinya, Maya Mahesa. Pengabdian yang salah berujung tragis: Rina dibuang oleh keluarga Pranoto yang dulu ia bela, dan hidupnya berakhir dalam kehancuran. Namun kesempatan hidup kembali mengubah segalanya. Bangkit dengan penuh penyesalan, Rina menyumpah untuk menebus kelalaiannya. Kini fokusnya satu: melindungi Maya dari kesalahan masa lalu dan memastikan tak ada lagi pilihan yang mengorbankan sang anak. Konflik batin, pengkhianatan, dan tekad baru menegaskan pertaruhan emosional—apakah Rina bisa menepati janji hidup kedua ini tanpa mengulang kepedihan yang sama? Setiap langkahnya kini diwarnai kecemasan dan keberanian.