Episode dibuka ketika Nona Winda mengutuk seseorang agar mati, menciptakan konfrontasi langsung. Seorang dari alam baka muncul dan mengaku menyalurkan kembali kekuatan karena tubuh itu adalah reinkarnasi ke-10 Hakim Neraka yang mati tidak adil. Ia menjelaskan kekuatan perlu tiga hari untuk bangkit dan setelah itu korban harus mengambil tiga benda pusaka hakim untuk kembali menguasai tiga alam. Salju merah dan reaksi Kitab Kehidupan mengabarkan kebangkitan; seorang pria tua memerintahkan jamuan. Sementara itu Maria dipukuli dan Komandan datang menjemputnya; Pak Tommy menunggu kejelasan. Tiga hari tersisa, nasib pusaka dan Maria tetap menggantung.
Di episode ini, Maria dituduh memecahkan cawan phoenix milik putri Jenderal dan nyaris dieksekusi sebelum seseorang melindunginya. Ia curiga bantuan itu lebih untuk melindungi Winda, putri Keluarga Sanjaya, daripada dirinya. Keluarga menegaskan Winda sebagai satu-satunya putri Sanjaya dan merendahkan Maria sebagai 'anak liar' meski memberi perlindungan dan jamuan; mereka menuntut kepatuhan dan melarangnya menantang Winda. Maria menolak klaim hubungan dengan Winda dan dikekang, dan saat keluarga memaksanya pulang ia bersikeras, 'Aku bisa jalan sendiri.' Konflik posisi dan konsekuensi kepatuhan tetap menggantung.
Dalam episode ini keluarga Sanjaya sibuk mempersiapkan diri untuk jamuan kembalinya Hakim Neraka dalam tiga hari, karena tiga pusaka akan muncul dan keluarga berharap mendapat perhatiannya. Tekanan tertuju pada Maria: mereka menghinanya karena pernah dipenjara tiga tahun, memaksanya berganti pakaian mewah, dan ayah serta Johan menegur serta membandingkannya dengan Winda. Ketegangan memuncak ketika seseorang menampar Winda dan seorang anggota mengejek bahwa hidup Maria di penjara lumayan enak. Maria lalu menantang balik dengan kata-kata, "Aku bahkan mau membunuhmu." Ancaman itu meninggalkan keluarga dalam krisis yang belum terselesaikan menjelang jamuan.
Maria dituduh sengaja memecahkan cawan phoenix milik putri Jenderal, memicu interogasi di hadapan Kak Tommy, pengawal, dan hadirin. Maria bersikeras bukan dia yang memecahkannya dan menuduh Winda yang sebenarnya melakukannya; beberapa orang mengingat bahwa Winda dulu memohon pada Ayah dan Ibu agar Maria bisa pulang. Tuduhan memanas, Tommy memperingatkan jika Jenderal menghukum, semuanya akan kena, lalu pengawal diperintahkan mengurung Maria. Maria menantang kurangnya penyelidikan, sementara orang-orang diperingatkan jangan melawan Winda yang selalu membela mereka. Maria kini dikurung, tuduhan belum terjawab dan ancaman hukuman Jenderal menggantung.
Di pesta ulang tahun Winda, Maria yang baru keluar dari penjara muncul dengan tangan patah dan langsung dituduh oleh keluarga—Ayah, Ibu, kak Tommy, dan Winda—bahwa ia mematahkan tangannya sendiri untuk mencari perhatian dan telah memfitnah Winda. Maria menuduh tangan itu dipatahkan atas suruhan 'putri baik' mereka dan mengatakan tiga tahun di penjara telah mengubahnya; seorang komandan juga mengaku dialah yang menahan mereka. Bentrok kata dan saling tuduh memuncak ketika keluarga menuntut Maria minta maaf; ia menolak, dan makan malam terhenti dengan ancaman, "Kalau gitu, semuanya nggak usah makan," meninggalkan konflik terbuka.
Di meja makan keluarga, Maria dihina dan dicemooh karena catatan penjara tiga tahun lalu; mereka menolak makan dan mendesak agar ia pergi dari rumah, sementara Kak Tommy serta ayah dan ibu merendahkannya. Bibi Chloe membela Maria, membersihkan kamarnya dan mengatakan insiden tiga tahun lalu bukan kesalahannya. Maria menahan hinaan namun tenang, luka di tubuh dan tangannya berangsur sembuh oleh kekuatan hakim neraka, dan ia berharap akan terlahir kembali besok. Konflik memuncak saat keluarga ingin mengusirnya, sementara pemulihan Maria menjadi titik balik yang mengarah pada konfrontasi esok hari.
Episode dimulai saat Winda ketahuan memakai baju peninggalan ibu Maria; Maria marah dan menuduhnya tidak menghormati keluarga. Konfrontasi memanas, Maria mengancam 'akan kubunuh dia' jika kejadian terulang, sementara Winda dan Kak Tommy berusaha meredakan dan Winda meminta maaf. Setelah itu keluarga membicarakan jamuan penyambutan Hakim Neraka: mereka setuju menyerahkan gelang warisan ibu Maria kepada tamu untuk menjaga status keluarga dan berencana menggantinya kemudian. Konflik soal barang warisan dan ancaman Maria menutup episode, meninggalkan hubungan kakak-adik yang retak dan ketidakpastian saat jamuan berlangsung.
Di sebuah rumah, Maria mengambil sebuah gelang yang seharusnya jadi hadiah untuk Hakim Neraka, memicu teriakan Winda yang menuduh Maria hendak membunuhnya. Ibu berusaha menenangkan namun mengungkapkan bahwa ia tak bisa menonton Maria menikah dan menyerahkan gelang warisan keluarga sebagai pengganti. Keluarga saling menuduh, ada tamparan dan celaan; beberapa anggota menyebut Maria menindas Winda. Maria menegaskan gelang itu milik keluarganya dan memperingatkan siapa pun yang menyentuhnya akan menjadi musuhnya. Konflik memuncak menjelang jamuan penyambutan Hakim Neraka, saat seseorang bersumpah akan menghancurkan gelang itu.
Maria didepakkan di ruang keluarga; anggota rumah mencela dia sebagai anak durhaka dan mendesak agar ia minta maaf pada Kak Tommy dan Winda. Didorong rasa bersalah karena barang terakhir yang ia tinggalkan rusak, Maria terpojok lalu mengambil pistol, tetapi keluarga dan orang lain mendesaknya tenang dan memintanya menyerahkan senjata. Titik balik terjadi ketika Winda tetap membela Maria, lalu mendatangi sendirian membawa anak kucing dan kue; kebaikan itu membuat Maria bersikap lembut. Di akhir episode Maria menyatakan, 'mulai hari ini, aku nggak ada hubungan dengan keluarga ini lagi,' keputusan yang meninggalkan ketidakpastian dan konsekuensi segera.
Episode ini dibuka dengan pengumuman pemutusan hubungan: seseorang menyatakan hubungannya dengan Keluarga Sanjaya berakhir dan ia akan meninggalkan tempat itu. Winda dipersiapkan untuk jamuan bangsawan; Kak Tommy memujinya dan berharap ia menarik perhatian Hakim Neraka. Maria diberi label pendosa dan dilarang menghadiri jamuan, pengawal diperintahkan menahannya. Tommy mengecam keputusan keluarga. Pada puncak, pembicara mengungkap ikatan darah hanyalah lelucon, bersumpah akan bersikap kejam, menyatakan "Maria sudah mati" dan mengklaim dirinya sebagai hakim neraka. Adegan berakhir dengan reaksi terkejut: "Apa itu?"