Seorang wanita yang selama ini menjadi 'pendukung' Jim konfrontasi dengannya saat menuntut pertanggungjawaban: ia menuduh Jim pernah memakai anak untuk memisahkannya dari Sena dan menyalahkannya atas kematian Sena di kelab malam. Jim membela diri, saling hina terjadi; wanita menuduhnya pembunuh dan bersumpah melihatnya jatuh. Ketegangan meningkat ketika Jim mengelak dan mengancam, sementara wanita menuntut tanda tangan untuk sesuatu yang mendesak. Episode berakhir dengan momen mengambang: perintah "Cepat tanda tangan" dan bisik terkejut "Aku hidup kembali?", meninggalkan akibat langsung yang belum terjawab.
Jim kembali dan memohon kesempatan, mengaku lelah menjalani hari tanpa tujuan dan meminta Mery untuk membuka jalan. Seorang ibu memperingatkan Jim bahwa Susi—yang disebut wanita malam—tidak serius dan menyinggung masa depan anak, Iris. Jim bersikukuh Susi membantunya dengan proyek investasi menjanjikan keuntungan besar, sehingga konflik keluarga memanas. Titik balik muncul saat terungkap Susi masih hidup dan digunakan sebagai tekanan: Mery diminta menandatangani dokumen sambil diberi tahu ambil saja si beban ini. Mery akhirnya menandatangani, meninggalkan nasib Iris dan konsekuensi investasi yang belum terselesaikan.
Episode dibuka saat seorang pria menandatangani perceraian, menyerahkan hak asuh Iris kepada wanita itu dan menolak harta; ia merendahkan wanita karena statusnya dan menyombongkan masa depannya. Mery menyatakan dirinya hidup kembali dan bertekad membantu Susi meraih sukses bersama, bukan ditinggalkan seperti sebelumnya. Mereka bertemu lagi dan merencanakan proyek investasi; Jim ikut untuk mencari uang agar Susi tak harus bekerja di bar. Iris bertanya apakah ayah menolak mereka, Mery meminta carikan kakek, dan terungkap Jim dulu sukses karena bantuan ayah Mery, memicu konflik yang belum terselesaikan.
Di ruang kerja, tim panik saat kuota investor terisi sebelum Nona Susi tiba; kesepakatan awal berubah dan target hari itu melonjak menjadi 2 miliar. Susi mengubah transfer kecil menjadi lebih besar (2 juta kemarin jadi 20 juta), tapi beberapa orang hanya punya 200 juta sehingga mereka meminjam dari kerabat dan merencanakan buka perusahaan investasi untuk menutup kekurangan. Uang 2 miliar masuk ke akun Pak Ben dan ia menerima komisi; rekan-rekan mencemooh Susi dan beredar kabar Jim meninggalkan istri dan anak demi Susi, sementara pusat memerintahkan "berhenti", meninggalkan keputusan besar belum terselesaikan.
Episode dimulai saat wanita yang disebut ibu Iris tiba dengan mobil mewah menjemput Iris di sekolah, membuat guru bertanya siapa yang menjemput dan diberitahu ayahnya. Sebuah panggilan kemudian mengabarkan alamat sudah dikirim dan meminta Iris serta Jim datang karena penelepon membuka perusahaan. Jim panik mencari putrinya lalu masuk ke lokasi; di sana pemilik baru memamerkan perusahaan investasi yang akan go public dalam setahun dan mengejek bahwa bila dulu didengarkan sepuluh tahun akan terbuang. Ia menatap Mery dan menantang apakah ia menyesal bercerai dengannya, namun reaksi Mery belum terjawab.
Di pembukaan perusahaan, mantan istri Pak Jim menuntut agar putrinya dikembalikan dan memaksa Susi minta maaf karena sebelumnya diremehkan; Susi dan pendukungnya membela diri dan menolak label 'pelakor'. Ketegangan memuncak saat laporan menyatakan Lat Coin Invest terlibat bisnis MLM dan Jim melarikan diri ke luar negeri. Kerabat dan investor datang mendobrak acara, menuntut secara tegas pengembalian uang investasi mereka. Episode berakhir di tengah kerumunan yang menekan untuk permintaan maaf dan pengembalian dana, sementara keberadaan Jim dan nasib putri masih menggantung.
Mery mendatangi Jim dan orang-orangnya menuntut pengembalian uang, sementara pihaknya menyarankan menjadikan mobil dan rumah agunan. Konfrontasi memanas: Jim dan para pendukungnya menghina Mery, menuduhnya menggoda setelah perceraian, lalu menuntut permintaan maaf. Mery menolak, menegaskan ia tak merusak rumah tangga siapa pun. Ketegangan memuncak saat seseorang menahan putrinya, Iris—"Lepaskan putriku!"—dan memaksa Mery berlutut serta bersujud tiga kali. Titik baliknya adalah penggunaan Iris sebagai alat tekanan; episode berakhir dengan Mery terjepit antara menolak atau tunduk demi keselamatan anaknya.
Episode dimulai saat seorang pria menahan anak bernama Iris dan mengancam akan mencekiknya kecuali Mery, yang dituduh tidak peduli pada Iris, berlutut dan minta maaf. Di tengah teriakan "Jim, kau bajingan", orang-orang menyebut Jim sebagai pemicu dan menggunakan dugaan masa lalu Mery dengan Susi untuk mempermalukan dia. Pelaku memaksa Mery bersujud tiga kali dan menjanjikan melepaskan anak itu hanya setelah kepatuhan. Mery ketakutan dan memohon, sedangkan Iris dan ibunya menjadi sandera emosional. Episode berakhir dengan anak masih ditahan dan tuntutan permintaan maaf belum terpenuhi.
Pernikahan yang tampak bahagia menyimpan krisis. Sebuah kecelakaan yang direncanakan membawa Mery Jade melompat kembali ke hari ia menceraikan mantan suaminya lebih dari sepuluh tahun lalu. Kali ini ia memilih tegas, memutuskan hubungan untuk selamanya. Ia menandatangani perjanjian cerai tanpa ragu dan kembali ke keluarga kaya bersama putrinya. Mantan suaminya juga terlempar ke masa yang sama dan menikah lagi dengan wanita yang diidamkannya. Ia yakin pengalaman hidup sebelumnya akan membuatnya kaya dan berkuasa. Namun kenyataan menghantamnya berulang kali. Tanpa istri berbudi ia ternyata tak berarti apa-apa. Setelah berulang kali menemui jalan buntu, ia baru sadar, tapi tak ada yang menunggunya. Mery membuktikan bahwa nilai wanita bukan ditentukan pernikahan, memulai kembali membuatnya kuat.
Pernikahan yang tampak bahagia menyimpan krisis. Sebuah kecelakaan yang direncanakan membawa Mery Jade melompat kembali ke hari ia menceraikan mantan suaminya lebih dari sepuluh tahun lalu. Kali ini ia memilih tegas, memutuskan hubungan untuk selamanya. Ia menandatangani perjanjian cerai tanpa ragu dan kembali ke keluarga kaya bersama putrinya. Mantan suaminya juga terlempar ke masa yang sama dan menikah lagi dengan wanita yang diidamkannya. Ia yakin pengalaman hidup sebelumnya akan membuatnya kaya dan berkuasa. Namun kenyataan menghantamnya berulang kali. Tanpa istri berbudi ia ternyata tak berarti apa-apa. Setelah berulang kali menemui jalan buntu, ia baru sadar, tapi tak ada yang menunggunya. Mery membuktikan bahwa nilai wanita bukan ditentukan pernikahan, memulai kembali membuatnya kuat.