Tim arkeologi Universitas Madi menggali kuburan kuno dan menemukan seorang lansia di dalam yang mengaku berkultivasi selama 60 tahun, bertanya tahun sekarang dan memicu kebingungan saat fenomena aneh muncul. Para penggali menganggapnya tak waras. Polisi menghubungi keturunan—seorang pria muda—memberi tahu bahwa itu nenek buyutnya dan memintanya segera menjemput. Pria tersebut sedang tertekan soal utang karena kakaknya menagih, lalu menemukan surat untuk keturunan Keluarga Karim yang menyatakan Lena Karim pergi berkultivasi dan harus diperlakukan baik. Pria itu terkejut; keputusan cepat masih menggantung.
Seorang anggota keluarga datang menjemput nenek buyut dan membawanya ke pasar; ia menyuruh nenek menunggu, memberi makan, lalu membelikan dua stel baju meski keadaan keuangan mereka sempit. Di toko terjadi tawar-menawar; penjual akhirnya membungkus baju untuk mereka. Kembali di rumah, anggota keluarga menegaskan bahwa nenek adalah satu-satunya keluarganya dan berjanji merawatnya agar hidup lebih tenang. Saat membereskan barang, mereka menemukan sebuah benda bernilai milik nenek; seseorang menyarankan menjualnya untuk membeli rumah baru. Episode berakhir dengan keputusan penjualan yang belum dibuat dan konsekuensi hidup yang menggantung.
Seorang wanita menuduh nenek buyutnya menipunya dengan giok yang diduga palsu. Ia membawa teman berpengalaman untuk memeriksa; teman itu malah menegaskan giok itu asli dan menyindir Museum Nasional yang menyimpan giok palsu. Polisi pernah mengantar nenek buyut pulang dan menyebutnya tak waras, membuat wanita itu ragu namun memilih menerima giok sebagai hadiah agar nenek buyut tidak sedih. Nenek buyut kemudian mengklaim pernah menyimpan banyak harta di Galeri Peoni, rumah lelang ternama dengan barang bernilai puluhan miliar, dan wanita itu bertanya-tanya, benarkah klaim nenek buyut?
Di depan Galeri Peoni, beberapa orang desa datang untuk mengambil barang yang diklaim nenek buyut mereka disimpan di sana. Petugas galeri menolak dan menuduh mereka pencuri karena berpakaian miskin; Nona Vivi membela mereka dan menegur sikap memandang rendah. Kelompok itu menunjukkan selembar tulisan yang tampak milik Pak Nino sebagai bukti, sehingga petugas hendak melapor pada direktur. Berita itu sampai ke Pak Kent, yang curiga salah satu pendatang adalah Heri — disebut pernah jadi pengantar makanan dan 'menggoda tunanganku' — lalu memerintahkan supaya Heri dibawa. Nasib klaim barang tetap belum diputus.
Staf memberi tahu Pak Edi bahwa ada tamu mengaku teman lama Pak Nino, bernama Lena Karim, membawa sertifikat bertanda tangan Pak Nino. Keluarga Lukman menduga penipuan karena Pak Nino sudah berumur lebih dari seratus dan teman-temannya sudah meninggal. Ayah menelpon anaknya: setelah hampir delapan puluh tahun menjaga Galeri Peoni ia ingin menyerahkan kunci gudang di lantai atas, tapi menegaskan barang itu milik 'nona' dan hanya boleh diambil keturunan Keluarga Karim. Dua putra protes; Ayah memperingatkan jangan punya niat buruk. Ketika disebut nama Lena Karim, Ayah terkejut: "Apa kau bilang?" Klaim Lena versus wewenang penjaga masih menggantung.
Nona Lena, disebut Lena Karim, tiba kembali dan memicu tiga pria—Nino Lukman, Roni Owen, dan Santo Jasin—untuk mengucap janji melayani Nona dan keturunannya; mereka merayakan, memamerkan teh hitam yang disimpan sepuluh tahun, dan bersikap protektif terhadap siapa pun yang mengabaikan Nona. Mereka memutuskan memberi tahu Keluarga Jasin dan Keluarga Owen. Adegan pindah ke Galeri Peoni: Heri, pengantar makanan yang menyimpan barang di galeri, dihina oleh Vivi, Kent, dan orang lain; debat memanas saat seseorang menyebut Heri tunangan dan sekelompok orang mencoba mengusirnya. Episode ditutup dengan Heri dipaksa keluar, klaim tunangan dan konsekuensinya belum terselesaikan.
Di Galeri Peoni, seorang Nyonya datang bersama nenek buyutnya dan pendamping namun direktur menyatakan keluarga Lukman tak kenal Lena Karim; pengawal diperintahkan mengusir mereka sebagai 'penipu'. Konflik memuncak saat Pak Kent menghina dan merendahkan mereka, menyuruh merangkak dan mengejek "anjing dari desa". Nyonya menolak barang yang ditawarkan dan bersikeras pulang sambil berkata, "Jangan sentuh nenek buyutku." Direktur menolak klaim dengan menyebut Pak Nino sudah lama meninggal, lalu bentrokan hampir jadi kekerasan—"Kau cari mati"—diikuti seruan "Hentikan!", meninggalkan ancaman yang menggantung.
Episode dibuka dengan keributan di desa saat Paman Edi menampar dan mengusir Pak Kent, memerintahkan pengurus membawa Kent untuk merenungi kesalahannya setelah menolak menghormati keluarga Karim. Kedatangan Nenek Lena, yang disebut teman lama kakek, meredam suasana; dia menolak teh undangan dan berkata datang demi cicitnya untuk menukar barang menjadi uang. Di depan semua orang ia menyerahkan kartu berisi 160 miliar, membuat cicit dan hadirin terpana. Tawaran uang itu mengubah konfrontasi menjadi dilema finansial, keputusan menerima kartu itu masih menggantung saat episode berakhir.
Episode dibuka saat seorang pelayan melapor kepada Ayah bahwa Nenek Lena menolak naik dan hanya mau mengambil uang untuk cicitnya; Ayah memerintahkan mengumpulkan dana dan mengubah 70% saham perusahaan menjadi uang tunai sebagai hadiah untuk Tuan Muda. Berita membuat Heri cepat membeli villa dan bersama Vivi menata perabotan untuk nenek buyutnya. Di sela itu nenek buyut mengungkapkan 60 tahun kultivasi yang belum tembus langkah terakhir: untuk menyelesaikannya ia harus menarik sisa kekuatan hubungan darah terakhir, namun memaksanya akan membuat Heri gila, sehingga ia menahan diri. Di toko perabot Vivi canggung ketika ditanya soal Kent; nasib kekuatan dan Heri tetap tergantung.
Ketika Guru Besar muncul kembali, sekelompok orang bersiap berangkat setelah 70 persen aset Keluarga Lukman dikonversi menjadi uang; pemimpin memerintahkan 'Bawa Nona Vivi'. Kent menguasai situasi dan menyeret Vivi, sementara Heri berusaha membela dan memanggilnya. Seorang pria menuduh Vivi menggunakan uangnya dan menggoda tunangannya, lalu memerintahkan untuk melumpuhkan Vivi. Kent mempermalukan Vivi dengan memanggilnya 'anjing dari desa' dan menyatakan 'kau itu tunanganku', meski orang lain mendesak agar dia dilepaskan. Vivi menjerit memohon bantuan nenek buyut, meninggalkan nasibnya tergantung dan konflik yang belum terselesaikan.