Dalam episode ini, Jehian menggunakan prestasi militernya untuk mendapatkan surat perintah menikah dengan Rena, yang menuntut monogami selama hidup. Kakek tak pernah mengkhianati nenek selama 40 tahun pernikahan mereka. Di masa kini, Pangeran menghadapi aturan kediaman yang melarang memiliki selir jika menikahi Hesti, gadis yang dicintainya sejak kecil. Namun, Pangeran kembali dari medan perang dengan membawa Ranti, wanita seusia Hesti, yang diselamatkannya dan berniat menjadikan Ranti sebagai selir, menimbulkan konflik dan ketegangan di keluarga adipati.
Di episode ini, Jehian mengumumkan niatnya untuk menjadikan Ranti sebagai selirnya meski Rena, istrinya selama 40 tahun, menolak keras. Rena berpegang pada janji kesetiaan mereka, namun Jehian bersikeras mengambil keputusan sendiri. Konflik memuncak ketika keluarga dan orang-orang terdekat mendesak Rena untuk menerima situasi demi ketenteraman keluarga dan reputasi mereka. Rena merasa dikhianati dan terpojok, sementara orang lain mulai mempertanyakan keputusan Jehian, yang mengancam stabilitas kediaman mereka. Episode berakhir dengan Rena terlihat memutuskan sesuatu, menimbulkan ketegangan tentang nasib hubungan mereka selanjutnya.
Dalam malam yang singkat dan penuh ketegangan, seorang wanita setia selama 40 tahun meragukan keberadaannya di hati sang pria yang pernah berperang dan terluka, sang Tuan Adipati. Meski permintaan air buah hati itu sering diabaikan karena luka lamanya, para pelayan menyadari bahwa keributan yang terjadi hanyalah sandiwara untuk orang lain. Wanita itu menunjukkan tekadnya dengan berkata, "Tunggu aku punya banyak anak pria," menandakan ambisinya merebut posisi istri sah suatu hari nanti, sementara Tuan Adipati dilayani dengan perhatian meski dalam keadaan sakit, menyisakan ketegangan yang belum terselesaikan.
Seorang wanita bernama Hesti kembali ke kediaman Adipati dan menuntut hormat sebagai selir kakek, tetapi dia ditolak oleh sang nenek yang diakui sebagai nyonya utama oleh Kaisar. Hesti menentang otoritas nenek dan mengancam menghancurkan kediaman, memicu konfrontasi sengit. Meskipun Hesti merasa dia memiliki hak, nenek menegaskan kekuasaannya dan melarang siapa pun menyakiti cucunya. Ketegangan antara Hesti dan nenek memuncak, menandai pertarungan kekuasaan yang belum tuntas di aras keluarga ini dan ancaman konflik yang terus membara.
Dalam episode ini, konflik utama muncul antara Rena dan Jehian, yang memperdebatkan jasa serta peran masing-masing dalam kejayaan keluarga mereka. Jehian menuduh Rena melupakan pengorbanan nenek sebagai penyelamat keluarga, sementara Rena membantah dan menegaskan perjuangannya sendiri di medan perang. Ketegangan meningkat saat Jehian mengkritik perilaku Rena yang dianggapnya aneh dan tidak sesuai peran, sementara Ranti, seorang pelayan, merasa tidak nyaman dengan suasana rumah. Di akhir episode, Jehian dengan tegas menyatakan hubungan mereka harus berakhir, meninggalkan ketidakpastian tentang masa depan mereka dan konflik yang belum selesai.
Dalam episode ini, Nyonya Besar marah besar dan memerintahkan pengawalnya untuk menghancurkan halaman yang merupakan aset penting keluarga. Rena, yang tampak sebagai istri adipati, berusaha mempertahankan warisan dan mengingatkan suaminya akan pentingnya menjaga hubungan keluarga. Ketegangan memuncak saat Rena menantang suaminya dengan sebutan 'pria mokondo' dan mengancam akan meninggalkan kediaman. Suami Rena merespons dengan mengurungnya, ingin membuktikan bahwa Rena takkan bertahan tanpa dirinya. Episode berakhir dengan ancaman dan keputusan yang mengguncang posisi Rena dalam keluarga, meninggalkan konflik terbuka tentang pengelolaan dan otoritas dalam keluarga adipati.
Dalam episode ini, seorang wanita muda mencoba menguatkan neneknya yang merasa sedih dan kehilangan hak mengelola kediaman setelah ada pihak lain, si Ranti, yang tampak menguasai tempat tersebut. Wanita itu berjanji akan membantu neneknya merebut kembali hak pengelolaan. Nenek kemudian mengajak cucunya ke suatu tempat yang tampak penting dan penuh kenangan, mengingat masa lalu saat nenek menyulam sapu tangan bunga teratai kembar untuk kakek. Konflik utama berpusat pada upaya mempertahankan atau merebut hak pengelolaan, dengan ketegangan yang belum terselesaikan dan masa depan kediaman yang masih belum pasti.
Episode ini mengungkap kekayaan besar nenek yang selama ini tersembunyi dari Hesti. Nenek menjelaskan bahwa sumber kekayaan berasal dari keuntungan berdagang dan sejumlah properti yang dikelolanya, bukan hanya dari gaji keluarga. Ketegangan muncul ketika Selir Ranti berusaha menggoda para pelayan untuk mengkhianati Nenek dengan menawarkan kenaikan gaji satu tael, tetapi mereka menolak karena merasa diperlakukan baik oleh Nenek yang memberi hadiah berkualitas. Nenek lalu menyerahkan seluruh kekayaan dan tanggung jawab pengelolaan kepada Hesti, tapi sebelum Hesti bisa mencerna, Nenek menyatakan harus kembali ke dunianya, meninggalkan keputusan besar yang belum terselesaikan.
Rena Salidi terlempar dari zaman modern ke era kuno. Dengan pengetahuan modern, ia berubah menjadi pengusaha sukses. Ia menemukan cinta sejatinya, membantu pria itu naik menjadi Adipati Kerajaan Jiram, lalu mereka berketurunan. Rena menanamkan nilai modern kepada cucunya, Dimas Haliman, yang gigih menegaskan prinsip kesetaraan gender dan monogami. Namun ketenangan keluarga pecah ketika sang Adipati, terkenal memanjakan istrinya, tiba-tiba mengumumkan keinginannya untuk memiliki selir. Keputusan itu memicu kegaduhan di seluruh kediaman: benturan antara tradisi dan gagasan baru, kehormatan keluarga, serta cinta yang diuji. Konfrontasi nilai itu menempatkan cinta dan kedudukan keluarga pada ujian. Dalam pusaran intrik dan pandangan yang bertabrakan, masing-masing harus mempertahankan keyakinan mereka atau menyerah pada tekanan lama.
Rena Salidi terlempar dari zaman modern ke era kuno. Dengan pengetahuan modern, ia berubah menjadi pengusaha sukses. Ia menemukan cinta sejatinya, membantu pria itu naik menjadi Adipati Kerajaan Jiram, lalu mereka berketurunan. Rena menanamkan nilai modern kepada cucunya, Dimas Haliman, yang gigih menegaskan prinsip kesetaraan gender dan monogami. Namun ketenangan keluarga pecah ketika sang Adipati, terkenal memanjakan istrinya, tiba-tiba mengumumkan keinginannya untuk memiliki selir. Keputusan itu memicu kegaduhan di seluruh kediaman: benturan antara tradisi dan gagasan baru, kehormatan keluarga, serta cinta yang diuji. Konfrontasi nilai itu menempatkan cinta dan kedudukan keluarga pada ujian. Dalam pusaran intrik dan pandangan yang bertabrakan, masing-masing harus mempertahankan keyakinan mereka atau menyerah pada tekanan lama.