Situasi kacau: semua orang memburu Pil Keabadian yang disebut ada di tangan Haris, sehingga Ogya disuruh membawa Tuan Putri kabur sementara penyerang mengancam. Harta Keluarga Lawana dikubur di belakang aula leluhur untuk rencana pernikahan masa depan. Haris ditemukan pingsan setelah mabuk dan bangun bingung di aula leluhur; Diana, tukang bunga Keluarga Lawana, merawatnya dan menjelaskan aula itu terlarang serta bahwa leluhur Lawana mirip Haris. Haris ditegur soal judi dan dipaksa menghadiri perjodohan dengan putri Organisasi Azure. Saat Bos Lina datang mencari mereka, konsekuensi langsung tetap menggantung.
Episode dibuka saat Haris membawa seseorang melewati tembok tinggi dan mereka terkejut menyadari zaman sudah berganti: sekarang tahun 2025, 500 tahun sejak Kerajaan Purwara. Haris merenungkan hidup keduanya setelah reinkarnasi dan bertekad menghargainya. Dik Rani mengungkap penyakitnya tak akan sembuh, sementara keluarga Lawana menekan Haris untuk mengikuti tes perjodohan dengan Dik Lina dari Organisasi Azure demi keberlanjutan garis keturunan. Ketegangan keluarga dan keraguan Haris memuncak, lalu muncul laporan serangan musuh dan sebuah benda yang bisa berbicara—ancaman langsung yang memaksa Haris memilih tindakan berikutnya.
Episode dimulai ketika Haris dimarahi Bibi Linamu karena memamerkan keahlian, lalu diperintah ikut tes perjodohan Putri Organisasi Azure. Haris berangkat bersama Diana dan penghuni Keluarga Lawana, yang khawatir karena keluarga melemah dan nama baik mereka dipertaruhkan. Dalam perjalanan Haris mengaku memiliki sedikit pengalaman menguji pembunuh. Mereka tiba terlambat; peserta lain adalah pemuda-pemuda terampil. Seseorang memperingatkan bahwa Putri mempekerjakan Empat Raja Pembunuh Lubuhera sebagai penguji sehingga standar sangat tinggi. Meski diragukan, kelompok itu memutuskan masuk. Episode berakhir dengan mereka melangkah ke arena—ujian mematikan menunggu, hasilnya belum terungkap.
Pada perjodohan Keluarga Lawana dengan keluarga yang berhubungan Organisasi Azure, acara hampir kacau karena keterlambatan tamu, Empat Raja Pembunuh, yang diundang untuk tes prestise. Bibi menegaskan perjodohan penting bagi posisi keluarga, sementara Ranti menyangkal sudah punya pujaan. Untuk menghormati Bos Lina, penyelenggara memberi seorang pria kesempatan khusus: jika ia tahan tiga detik menghadapi Empat Raja Pembunuh, penyelenggara berkata "Aku mau dijodohin sama kau." Para pesaing protes karena mereka harus tahan satu menit. Luki memeriksa pisau-pisau dan memperingatkan asahannya belum cukup, meninggalkan tes berbahaya itu menggantung.
Episode ini dimulai saat panitia menilai "senjata rahasia" untuk tes: benda dari besi, daun atau bunga yang bisa melukai jika pengguna terampil, dan seutas benang yang bisa membunuh bila teknik tepat—harus dicat hitam agar tak terlihat. Haris muncul; ia disuruh datang untuk ikut tes, bukan memberi arahan kepada "Raja Pembunuh". Dituduh sombong, Haris malah menawarkan membantu mengarahkan sekaligus menguji dengan pistol. Titik balik terjadi ketika ia melontarkan tawaran itu; keputusan panitia mengenai keterlibatannya dan apakah pistol akan dipakai menggantung menjelang akhir episode.
Episode dimulai dengan pembahasan soal pistol sebagai senjata rahasia yang prinsip kerjanya mirip panah, menunjukkan kekuatan baru. Percakapan beralih ke urusan keluarga: Nona Ranti mengatakan ia puas dengan pria yang dipilih Lina meski berasal dari desa, dan orang-orang menyarankan pernikahan untuk mengikat Keluarga Lawana dengan Organisasi Azure. Muncul rumor bahwa Lawana merawat leluhur yang hidup 500 tahun dan melindungi bisnis keluarga; sebagian menyebutnya omong kosong. Kekacauan soal Pil Keabadian membuat Tuan Putri disuruh menyimpan pil, meninggalkan tanda tanya soal keselamatan dan pihak yang mengincar.
Episode dibuka dengan pengumuman mendadak: seseorang menyerahkan perjanjian pranikah kepada Haris—tiga hari untuk cek, satu pelanggaran membatalkan pernikahan. Haris menyangkal pernah menyatakan cinta pada Ranti meski ada bukti surat cinta sebulan penuh dan campur tangan Bibi Desimu yang menjodohkan mereka. Ranti menolak, mengembalikan surat dan menepis upaya itu. Terpisah, kelompok menyadari senjata mereka berubah jadi bunga dan pisau muncul di tempat lain; ada kecurigaan pada Keluarga Lawana yang ahli merangkai bunga. Episode berakhir dengan pernikahan yang tergantung dan misteri transformasi senjata belum terpecahkan.
Episode dibuka dengan leluhur keluarga yang tiba-tiba ngamuk: menolak makan dan minum, berdalih bahwa orang-orang ingin menyakitinya, bahkan mengulang kata 'bunuh'. Warga rumah panik saat salah satu orang menegaskan janji kepada kakaknya bahwa harta hanya untuk tuan putri, bukan untuk yang lain. Desi diseret dan berteriak minta dilepas sementara para pelayan diperintahkan pergi. Ketidakpercayaan leluhur meradang, menuduh semua orang dan mengusir mereka dari halaman belakang. Konflik memuncak pada ancaman terhadap Desi dan warisan keluarga; siapa yang akan menjaga keduanya masih belum jelas.
Episode dimulai saat orang mendesak melarikan diri karena seseorang menuduh ada pihak yang mengincar harta; terjadi pertanyaan "Siapa kau?" dan pernyataan "lihat siapa aku" sebagai konfrontasi identitas. Adegan berpindah ke latihan pedang, di mana seseorang mengoreksi posisi pegang bocah dan menyuruhnya terus berlatih. Ketegangan naik ketika diperintahkan Ogya membawa tuan putri kabur. Seorang anak mengeluh ditindas selama ketidakhadiran "Kak" dan terus memanggilnya, mengekspresikan rindu. Episode berakhir dengan Ogya bergegas membawa sang putri, sementara rasa rindu dan penindasan yang ditinggalkan tetap menggantung.
Haris Lawana, panglima pengawal kekaisaran, terbangun dan mendapati dirinya terlempar lima ratus tahun ke depan, menempati tubuh seorang junior Keluarga Lawana yang berbagi namanya. Orang-orang yang dulu dia kenal kini menjadi sosok abadi yang sepi, menunggu kesempatan untuk bertemu lagi. Dunia modern tidak lagi dipenuhi intrik istana atau ancaman nyawa yang memaksa kewaspadaannya. Yang menggantikan bahaya itu adalah tiga 'bibi' yang merawatnya dengan kasih sayang berlebihan. Mereka memberi peringatan: keluarga mereka sedang diincar oleh Raja Pembunuh dan pembunuh dari Taraka; Keluarga Lawana bisa hancur kapan saja. Haris, yang terbiasa menghadapi perang, kebingungan dan hanya bisa menggaruk kepala—apakah ini ancaman yang pantas diburu atau sekadar melodrama keluarga? Ketegangan antara kewaspadaan lama dan kenyataan baru memicu keputusan yang menentukan.