Pangeran Bagas memimpin kerajaan Bedi sementara ayah dan saudara-saudaranya berperang. Seorang murid Perdana Menteri Dakar datang membawa hadiah dari Ibu Suri sebagai bagian dari perjanjian damai dengan Dakar, termasuk 10 peti emas dan wanita cantik dari istana. Namun, Pangeran Bagas menolak karena menganggap Dakar lemah dan siap menyerang kapan saja. Ia mengajukan tuntutan balasan agar Dakar menyerahkan Kota Limabas, memberikan pengiriman tahunan kuli, wanita, dan emas permata, serta keluarga kerajaan Dakar harus tunduk dan mengakui Raja Bedi sebagai ayah. Pangeran itu akan mempertimbangkan usulan ini setelah berunding kembali, memicu ketegangan yang belum selesai.