Seorang pengunjung berani datang menuntut kehadiran di hadapan Tuan Wahyu setelah jam tangan emas miliknya hilang; ia menuduh orang lain mencuri dan meninggalkan bukti yang merusak rencananya. Tuduhan memicu konfrontasi verbal: pengunjung meminta permintaan maaf, sementara yang dituduh membalas dengan hinaan. Seorang murid menunjukkan kemampuan tempur yang dipuji oleh gurunya, menyebut latihan dan Gatot Mandala sebagai sumber kekuatannya, lalu memperingatkan konsekuensi fatal ('satu tinju...hilangkan nyawa'). Desakan minta maaf ditolak; yang dituduh mengakhiri episode dengan kata-kata kasar dan ancaman balas, memeruncing konflik yang belum terselesaikan.