Kezia dan Pangeran Yuda berusaha mengelola Kedai Permaisuri di ibu kota sebagai upaya mengumpulkan dana untuk kabur. Meski ramai dibicarakan, Pangeran Yuda merasa tidak dihargai dan dianggap sebagai pangeran mata keranjang. Kezia mengingatkan bahwa menjalankan usaha ini penuh rintangan dan memerlukan strategi yang cermat, mengandalkan kecerdasan dan kemampuan merayu mereka. Mereka siap menghadapi hambatan bisnis sekaligus tekanan politik yang rumit, dengan tekad untuk mencapai target dana. Namun, ancaman atas kesuksesan kedai mereka masih belum terselesaikan, menimbulkan ketegangan tentang langkah selanjutnya.