Seorang wanita berusaha melaporkan pelecehan seksual yang hampir dialaminya di suite eksekutif sebuah hotel, namun pria yang diduga pelaku, Yale, berusaha mengambil ponselnya. Wanita itu menuduh Yale sebagai pelaku dan menyebutnya telah menjebaknya, sementara Chris, kakak Yale, dikonfrontasi karena dianggap bertanggung jawab. Konflik memuncak saat wanita itu meyakinkan bahwa hubungannya dengan Yale berakhir karena kejadian itu. Polisi tiba dan menahan Yale atas dugaan pelecehan, lalu pengumuman dibuat bahwa Chris akan menggantikan Yale sebagai pemimpin Grup Sein, menandai perubahan besar dalam kekuasaan keluarga tersebut.
Setelah keluar dari penjara, seorang pria kembali ke rumah tua peninggalan ibunya yang menjadi satu-satunya tempat berteduh setelah diusir keluarga Sein. Ia menyadari cermin perunggu kuno yang dulunya sangat berharga bagi ibunya itu tampak aneh dan misterius. Saat memeriksa cermin, ia tiba-tiba melihat sosok hantu, yang membuatnya terkejut dan semakin mencurigai ada rahasia tersembunyi di balik peninggalan ibunya. Ketegangan meningkat saat pria itu harus menghadapi kenyataan baru yang mengancam ketenangannya.
Dalam episode ini, seorang wanita menghadapi tekanan besar untuk melunasi pinjaman berbunga agar tidak dijual ke rumah bordil, yang akan mencoreng nama keluarganya. Ia merasa gagal menyelamatkan ayahnya dan mempertimbangkan pilihan ekstrem demi kehormatan keluarga. Ketika ia takut dan ingin menyerah, muncul suara misterius yang memperingatkan agar tidak melakukan hal bodoh, mengidentifikasi dirinya sebagai Siluman Cermin. Ketegangan memuncak saat wanita itu terjebak antara keputusannya yang berat dan kehadiran tak terduga yang bisa mengubah nasibnya. Konflik nasib dan pengungkapan makhluk gaib menjadi titik balik episode ini.
Dila Suma, seorang wanita yang hidup di Dinasti Siwu satu ribu tahun lalu, berhadapan dengan cermin perunggu ajaib yang ia duga menghubungkan ke dimensi lain. Dalam kebingungan dan harapan bangkit, ia berkomunikasi dengan Yale Sein, seorang pria dari tahun 2026, yang mengaku bukan dewa atau siluman, melainkan seseorang dari masa depan. Percakapan ini menjadi titik balik ketika Dila menyadari kekuatan cermin tersebut bukan hanya komunikasi, tapi juga dapat mengirim barang. Episode berakhir saat Dila mempertanyakan keberadaan dan fungsi misterius benda yang tiba-tiba muncul, meninggalkan ketegangan tentang masa depan dan potensi cermin itu.
Dila menghadapi kesulitan setelah diusir dari keluarganya dan ditinggalkan dalam situasi keuangan yang terpuruk, hanya menyisakan dua koin tembaga. Dia diperkenalkan pada sebuah cermin perunggu ajaib oleh seseorang yang menawarkan bantuan dengan menggunakan cermin itu untuk mengirim barang dan berkomunikasi antar dunia. Lelaki itu berjanji akan membantu Dila menukar koin tersebut menjadi uang nyata dan mencari solusi atas fitnah yang menimpa ayahnya. Episode berakhir dengan tekad Dila yang kuat untuk tidak menyerah meski kehilangan segalanya, sambil menunggu bantuan dan kabar dari sang lelaki lewat cermin ajaib.
Dila terlihat tidak makan dengan baik, membuat Kak Wagio datang membawakan makanan dan obat untuk mengatasi radang sendinya yang kambuh akibat cuaca hujan. Kak Wagio awalnya enggan membahas penyakit lamanya, tapi Dila meyakinkan dengan memberikan obat ajaib yang katanya diberikan dewa dan harus disemprotkan pada bagian yang sakit. Kak Wagio setuju mencoba obat itu dan berjanji akan memberi tahu hasilnya nanti. Episode diakhiri dengan mereka yang mulai merasa harapan baru untuk menyembuhkan penyakit tersebut, meninggalkan rasa penasaran akan efektivitas obat itu.
Lulu mengunjungi Cika untuk menanyakan sebuah potongan kaligrafi puisi Paviliun Sofo karya Saga Husa yang gagal terjual di lelang dan kini dimiliki Cika. Lulu ingin membeli kaligrafi itu sebagai hadiah ulang tahun ke-70 kakeknya bulan depan dan bersedia membayar tanpa menawar. Cika menjelaskan kaligrafi tersebut masih rapuh dan harus diperbaiki dulu, jadi belum bisa langsung diberikan, namun membuka kemungkinan negosiasi harga nanti. Lulu merasa lega dan berjanji akan menunggu, lalu pergi menghadiri janji dengan dosen untuk membahas skripsi. Episode berakhir dengan ketidakpastian tentang kesiapan kaligrafi sebagai hadiah.
Seorang pria membawa koin perunggu Dinasti Siwu untuk dijual dan meminta bantuan menilai harganya. Penilai mengakui koin itu asli dan dalam kondisi sangat baik, dengan karat alami yang menunjukkan keaslian serta kelangkaan. Meski awalnya menawarkan harga rendah sebesar 600 ribu, pria itu mengatakan harga pasar seharusnya di atas satu juta dan mempertimbangkan menjual ke toko lain. Penilai akhirnya menaikkan tawaran menjadi 800 ribu dengan alasan adanya risiko pembelian. Episode berakhir dengan ketidakpastian apakah transaksi akan terjadi, menunjukkan potensi negosiasi lanjutan.
Dalam episode ini, Cika Kael, seorang kolektor barang antik, melakukan transaksi membeli koin tembaga Dinasti Siwu dari Yale Sein seharga 1 juta rupiah. Meskipun penampilan Yale tampak sederhana, Cika melihat nilai dan potensi investasinya. Cika meminta agar barang serupa ditukarkan dengan pecahan perak agar bisa melengkapi koleksi Dinasti Siwu serta mendatangkan keberuntungan. Yale menawarkan pecahan perak yang baru dibelinya dengan nilai yang disesuaikan, menyepakati tukar tambah seharga 1 juta yang setara dengan 1 tahil perak. Persetujuan ini membuka peluang untuk koleksi baru dan hubungan bisnis yang berlanjut.
Yale dikhianati oleh kakaknya hingga harus mendekam di penjara. Namun segala sesuatunya berubah saat ia menemukan cermin perunggu ajaib warisan keluarga yang menghubungkannya dengan Dila, seorang gadis yatim dari Dinasti Siwu. Melalui cermin ini, mereka terhubung lintas waktu dan membangun kerja sama yang tak terduga. Bersama, mereka merancang strategi bisnis, membalas dendam atas pengkhianatan, dan berjuang merebut kembali kekuasaan yang telah hilang. Ketegangan dan konflik pun mewarnai perjuangan mereka, membuka peluang dan bahaya di setiap langkahnya.