Elisa menghadapi tekanan dari seorang ayah yang memohon agar ia mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan anaknya yang sakit, meski Elisa menolak karena kondisi darahnya yang bermasalah akibat penelitian operasi tanpa rasa sakit yang sedang ia lakukan. Setelah penolakan awal, Elisa akhirnya setuju mendonorkan darah, tapi menunjukkan sikap tegas dengan menyatakan bahwa ia tak akan melakukan hal itu lagi di kehidupannya sekarang. Operasi anak itu berjalan sukses tanpa rasa sakit, membuat ayah pasien sangat terkesan. Namun, Elisa bergulat dengan pertanyaan tentang takdir yang terus menghantui hidupnya.