Seorang agen yang mengaku 'agen elit dari Negara Hirdo' terbangun, mengira misi selesai, tetapi menemukan dirinya di rumah keluarga. Rita sudah menyiapkan bubur; anggota keluarga menegur ibu yang kecanduan berjudi dan sudah menggadaikan semua barang. Saat agen memohon agar mereka tidak dijual, ibu marah, menuntut ketaatan dan mengancam akan menjual kedua putri yang belum menikah untuk melunasi utang—hari ini. Puncaknya, agen syok menyadari ia mungkin melintasi zaman dan bahkan 'jadi ibu jahat' itu sendiri. Ancaman penjualan putri yang akan terjadi hari ini meninggalkan bahaya langsung yang belum terselesaikan.
Seorang wanita melintasi zaman dan terbangun di tubuh seorang ibu yang akan menjual ketiga putrinya untuk melunasi utang, tetapi tubuh baru itu sangat lemah. Dia menemukan cincin mata air suci yang hanya bisa dipakai sekali sehari dan berniat minum air suci untuk memulihkan tenaga. Anak-anak Rina, Risa, Rita enggan makan karena takut dimarahi, namun Rika dan Willy menenangkan dan berjanji melindungi mereka. Ibu pemilik tubuh terus berjudi sehingga rumah miskin; Rika menegur. Episode ditutup saat wanita itu menunda rencana sampai besok sambil bertanya apakah ini rumah Jeffa—keputusan besok menentukan kemampuannya menghadapi ibu.
Massa penagih utang datang ke rumah menuntut Jeffa bayar, mengancam akan 'melunasi' utang dengan membawa atau mematahkan tangan dan kaki jika Jeffa tak muncul. Mereka menghina dan mencoba merendahkan putri Jeffa yang ada di rumah; ia menolak, mengancam akan berteriak. Saat mereka menyerang, ia menggunakan air suci untuk menjatuhkan beberapa bawahan dan membalas hinaan, lalu mengungkapkan dirinya sebagai agen elit yang siap melawan. Penagih tetap mengancam hukuman fisik dan kegagalan Jeffa karena berjudi disorot; episode berakhir tegang saat seseorang memanggil 'Kak Devin', meninggalkan konfrontasi yang belum selesai.
Jeffa disergap di tengah kerumunan yang melecehkan; pria di sekitarnya mengomando 'hajar dia' dan mengancam membunuh. Ia ditahan paksa sambil memohon dilepaskan, suara penonton semakin memanas saat seseorang memanggil 'tante' dan seorang lain mengaku, 'Anda kakak kandungku', sehingga keluarga mencoba melerai. Terungkap sengketa utang: penagih menuntut pembayaran dan mengancam, 'tebus pakai putrimu' jika tidak dibayar. Pendukung Jeffa memperingatkan pelaku akan ditangkap kalau sampai membunuhnya. Episode berakhir dengan utang belum lunas dan ancaman terhadap anak yang menggantung sebagai konflik belum terselesaikan.
Willy dipanggil pulang setelah rumahnya didatangi penagih utang: belasan pria menghalangi pintu dan Devin melecehkan istrinya, Rika. Willy tiba panik; Rika mencoba meremehkan lukanya dan bilang ibunya sempat hadir, lalu mengaku bersalah karena lupa menanyai ibu terlebih dulu sehingga takut 'dihajar'. Penagih menuntut sekitar 300 ribu plus ancaman bahwa mereka 'tidak akan hanya terluka gini'. Willy menanggung kesalahan dan memohon agar istrinya tidak dipukul. Keluarga tampak cemas dan tidak siap menghadapi konfrontasi itu, sementara ancaman kekerasan tetap menggantung.
Episode dibuka dengan konfrontasi rumah tangga: seorang anggota keluarga meminta maaf dan rela dipukul, tapi seorang pria membela istrinya, menolak pukulan dan bersikeras 'aku nggak akan ceraikan dia.' Ia menyebut istrinya menantu yang ditipu pemilik tubuh ini dan mengancam akan pergi dari rumah jika istrinya disentuh. Situasi memanas saat figur otoriter memerintahkan 'berdiri tegak' dan menegur agar pria itu tidak jadi pengecut. Beberapa kerabat, termasuk Rika, memperhatikan wanita tersebut: wajahnya mirip Ibu tapi sikapnya berbeda. Keraguan tentang identitas dan kewarasan Ibu tetap menjadi ketegangan terbuka.
Seorang yang menempati tubuh orang lain berusaha bertingkah biasa agar keluarga tak curiga; dia kelaparan dan minta makanan dibawakan. Willy diperintahkan agar tak muncul di depan ibu yang masih temperamental, sementara seorang pria pulang dari ladang dan membersihkan rumah. Penggunaan cincin terbatas sehingga penghuni baru harus hidup dari hasil gunung di zaman kuno. Tiba-tiba penagih utang datang dan mengacak rumah, menuding seorang wanita yang suka berjudi bertanggung jawab atas utang besar—300 ribu. Episode berakhir dengan tekad untuk mencari wanita itu dan melunasi utang, ancaman dan solusi masih belum jelas.
Di meja makan keluarga yang tegang, Rina bersikeras 'Aku mau cari dia' setelah dianiaya, sementara anggota keluarga mengingat ancaman 'tebus pakai putrimu' dan mempertanyakan niat Ibu yang tadinya pernah 'jual kita untuk bayar utang'. Anak-anak bingung apakah Ibu benar-benar berubah meski tadi menolong Rina. Sementara itu Kak Willy terus direndahkan: dilarang makan di meja, makan di lantai karena pemilik tubuh melarang, walau ia pulang lelah. Ketegangan memuncak saat makanan ditaruh di lantai dan Rita dipanggil untuk ambilkan kursi — keputusan kecil itu membuka kemungkinan penerimaan yang belum jelas.
Di meja makan keluarga, Ibu tiba-tiba mengizinkan Willy duduk dan makan di meja, membuat anggota keluarga heran karena selama ini Willy sering dipukul. Ibu mengumumkan besok akan membawa Willy ke gunung sebagai tenaga kerja untuk mencari uang dan bayar utang; keluarga khawatir dia akan dijual dan menentang, tapi Willy menegaskan dia yang akan ikut. Di sela itu terdengar suara batin yang merasa pemilik tubuh ini dibenci dan tak bisa menjelaskan. Dua saudara perempuan merasa sosok Ibu tampak aneh meski wajahnya benar. Episode berakhir dengan peringatan agar Willy berhati-hati.
Keluarga itu memutuskan membawa Willy pergi ke gunung untuk menangkap harimau demi mencari uang meski Rika dan seorang putri cemas tentang keselamatan. Ibu melarang mereka ikut awalnya tapi akhirnya menyetujui dengan syarat pulang sebelum malam. Di hutan mereka membahas nilai daging dan kulit harimau serta kemampuan angkat Willy (sekitar 200 kg) sementara memperkirakan harimau sekitar 250 kg. Ibu menyiapkan jebakan dari tali rumput dan menyuruh Willy berdiri tenang sebagai bagian dari rencana. Saat jebakan dijalankan, Ibu tiba-tiba menghilang, meninggalkan anaknya panik dan seruan terakhir: 'Ibu, apa itu kau?'