Di dunia yang dilanda hujan asam, ikan koi bernama Yuyun diangkat oleh Kaisar Langit menjadi manusia dan diperintahkan turun untuk mengumpulkan kebajikan agar mengakhiri penderitaan rakyat. Lima tahun kemudian, adinda terus mencari kabar Yuyun; Eki sempat berjanji merawatnya. Yuyun terbangun dalam tubuh penuh luka dan sakit, bingung kenapa kekuatannya hilang. Di rumah, seorang ibu menghina dan mengancam memukuli pembawa sial itu karena dianggap malas. Episode berakhir ketika Yuyun menyadari hilangnya tenaga ilahinya sementara ancaman dan penghinaan rumah tangga menempatkan misinya dalam bahaya.
Warga mengecam Mira karena memukul seorang anak dengan rotan; mereka menyebutnya pembawa sial. Mira mengatakan ia mengadopsi anak itu setelah ayahnya—kakak suaminya—meninggal dan ibunya menolak. Tetangga menuduh Mira tidak pernah memberi makan cukup, hanya menyuruh anak itu kerja, sementara warga mengungkit uang ganti rugi dari kematian ayah Yuyun. Anak itu memohon pada seorang bibi, berjanji akan kerja dan makan sedikit karena takut dipukul sampai mati jika tetap tinggal. Seorang akhirnya bersedia membawa anak itu, menghentikan keributan tapi meninggalkan ketidakpastian apakah hidupnya benar-benar akan membaik.
Episode ini dimulai saat Sani bersikeras membawa seorang yang dianggap 'pembawa sial' dan ingin membawa Yuyun keluar dari Desa Tilak, memicu protes keras keluarga dan tetangga yang khawatir beban dan aib. Mira menuntut satu tael sebagai syarat menyerahkan Yuyun; keluarga ragu karena itu tabungan mereka, namun tetap dipaksa menyerahkan anak itu. Titik balik terjadi saat Mira mengumumkan, 'Mulai hari ini, Yuyun putriku,' memutuskan hubungan Yuyun dengan keluarganya dan pergi, sambil menyatakan kekuatannya bertambah. Desa merayakan kepergian 'pembawa sial', tetapi nasib Yuyun dan dampak klaim itu tetap menggantung.
Ketika Cahya membawa Yuyun, seorang gadis yang dianiaya bibinya, ke rumah keluarga petani, Sani dan anggota lain terkejut: Cahya membayar satu tael untuk membawanya pulang tanpa diskusi. Keluarga ragu karena panen gagal dan hanya punya seekor kambing tua, namun Yuyun segera memanggil mereka "ayah" dan "ibu", menimbulkan harapan. Titik balik terjadi saat kambing tua tiba-tiba melahirkan dan menghasilkan susu, seolah mengubah nasib. Si Mira menuduh Yuyun pembawa sial, sementara yang lain melihat pertanda keberuntungan — penerimaan Yuyun dan nasib keluarga tetap menggantung.
Di episode ini keluarga Gandi pulang membawa anak baru, Yuyun, yang diperkenalkan oleh ayah kepada kakak-kakaknya, Yuda dan Juan. Sebelumnya ayah menegur Juan agar tidak memasukkan tangan ke dalam susu. Orangtua menjelaskan kondisi Juan, pembekuan darah di otak yang membuatnya lambat, dan menenangkan Yuyun. Saat anak-anak bermain, Yuyun kagum melihat anak kambing, lalu tetangga menuduh keluarga mencuri kambing dan menuduh Yuyun pembohong serta "pembawa sial". Anak-anak tetangga memperingatkan agar tidak berteman dengan Juan karena "jadi bodoh", dan Yuda membela adiknya. Tuduhan dan pengucilan tetangga meninggalkan keluarga terancam kehilangan penerimaan komunitas.
Di depan rumah keluarga, sekelompok warga menuduh mereka mencuri anak kambing dan melempari Sani dan Kak Juan; mereka memaksa menyerahkan kambing atau dilaporkan. Ibu bingung ketika kambing tiba-tiba melahirkan, sehingga asal kambing dipertanyakan. Seorang pria mengutip hukum Dinasti Suji—penipuan senilai 100 koin dihukum tiga tahun—dan menuntut bukti atas tuduhan. Karena tidak ada bukti, tuduhan dianggap sepihak dan pelapor terancam hukuman, sehingga mereka mengembalikan kambing dan berjanji tak mengganggu lagi. Episode berakhir dengan pujian pada Kak Juan: "Kenapa Juan tidak bodoh lagi?"
Di episode ini keluarga petani tiba-tiba merayakan perubahan Juan yang tidak bodoh lagi dan kelahiran kambing yang anehnya menghasilkan susu tanpa henti. Yuyun baru datang dan memanggil seorang wanita 'ibu', sementara Sani memotong baju untuk membuat sepatu karena sepatu Yuyun sudah kecil dan koyak. Keluarga merencanakan menjual susu ke kota untuk membeli obat kaki Kak Yuda. Seorang anak mendesak ikut ke ladang bersama ayah untuk membantu. Saat persiapan berjalan, sebuah suara mendobrak suasana—"Kau ngapain?"—meninggalkan ancaman pada rencana penjualan dan pengobatan Kak Yuda.
Di ladang, Yuyun dan orang tuanya diganggu Keluarga Gandi yang menuduh Yuyun pembawa sial dan menginjak benih kol mereka. Para pengganggu mengejek, berharap tanaman mati; Mira, yang berkata 'Yuyun itu putriku', membela anaknya dan mengancam tidak membiarkan mereka pergi. Ayah menenangkan, meyakinkan kol akan tumbuh, sementara Yuyun berusaha kuat. Konflik memuncak ketika salah satu pelaku mengancam akan menghancurkan benih kol itu. Mereka akhirnya pergi, meninggalkan ancaman nyata terhadap benih dan nasib panen yang masih belum pasti.
Di ladang keluarga, kol yang ditanam Yuyun tumbuh drastis dalam semalam, membuat Cahya, ibu, dan keluarga girang karena bisa dijual dan "tidak takut lapar lagi"; ayah berencana membawa mereka ke kota sore itu. Kegembiraan berubah menjadi sorotan saat tetangga mempertanyakan mengapa ladang mereka juga tiba-tiba subur dan meminta bagian. Saat panen dimulai ibu memaksa memetik kol yang keras; dia kesakitan dan mengeluh "pinggangku sakit sekali." Episode berakhir dengan panen terancam karena cedera ibu, yang dapat menggagalkan penjualan dan rencana keluarga ke kota.
Di pasar yang ramai, seorang anak meyakinkan ayahnya bahwa strategi undian—beli satu kol dan susu kambing dapat kupon yang memberi potongan atau kol gratis—akan membantu menjual barang dagangan mereka. Mereka menjelaskan mekanisme ke seorang bibi, memberi diskon setengah harga untuk pembelian gabungan, dan berulang-ulang mempromosikan "semua dapat" sampai pelanggan mengantri. Promosi menarik beberapa pembeli dan menciptakan kerumunan; seorang pengamat bahkan menyebut mereka "Keluarga Gandi" dan memuji bisnisnya. Namun hasil undian dan dampak nyata pada penjualan masih menggantung saat mereka menunggu kupon ditentukan.