Seorang adik kembar berkonfrontasi dengan keluarganya yang memilih kakaknya, Silvy, untuk menikah dengan keluarga kaya dan mulai memakai nama serta identitasnya. Keluarga menuduhnya licik sambil mengabaikan pengorbanannya: putus kuliah untuk membiayai studi kakak, mencari klien demi menyelamatkan bisnis Ardi, dan dikirim ke militer atas desakan Rian. Meski merasa dikhianati dan dipecat, dia menegaskan tak berniat merebut pernikahan tetapi merencanakan datang dengan seratus mobil mewah bersama teman-teman untuk mengantar Silvy. Episode ditutup dengan permohonannya agar mereka tak menyalahkannya, sementara keluarga cemas menanti tindakannya.
Ketika ibu menikah lagi dengan keluarga Surya, anak-anak terpecah: beberapa ikut ayah, seorang adik memilih ikut ibu ke Keluarga Surya, sementara Silvy memutuskan tinggal. Keluarga Katama mengantar sang anak ke rumah Surya; nenek Surya menyambutnya hangat, menjanjikan pendidikan mewah dan memberi hadiah terlalu mahal yang membuat kerabat curiga akan maksud tersembunyi. Putri sulung Keluarga Katama meminta Pak Dimas menjaga adiknya. Suasana bergeser dari sambutan ramah ke waspada karena anggota Surya mempertanyakan asal-usul keluarga itu. Episode ditutup saat tamu meninggalkan rumah dengan alasan "ada urusan", meninggalkan nasib anak itu belum jelas.
Episode dimulai dengan salah panggil saat seorang pemuda memperkenalkan diri, Surya (Margamu Katama), dan komentar bahwa Dimas tampak dingin. Surya kemudian diterima oleh Nenek Laras yang memberinya kalung kenang-kenangan dan menawarkan magang di Grup Surya; ia menerima dan diminta memanggilnya 'Nenek' serta segera pindah agar bisa ikut ke kantor. Nenek mengingatkan masa lalu ketika Silvy sombong membawa teman, sementara Surya kini dapat kesempatan magang. Sindy mengejek soal barang mewah. Episode berakhir dengan Surya bersiap masuk kantor, menghadapi ejekan Sindy dan sikap dingin Dimas—tantangan belum terselesaikan.
Pak Dimas datang ke kantor membawa Sindy sebagai calon magang atas permintaan nenek. Sesampai di sana, pimpinan langsung menugaskan pemeriksaan laporan dan memperingatkan agar Sindy bekerja rapi atau ia akan mendengar keluhan bawahan. Sindy yang belum pernah kerja kantor gagal menghitung data sehingga diremehkan oleh rekan dan membuatnya menangis. Kakaknya dan seorang teman berusaha menenangkan dan bahkan menjanjikan akan membela bila ayah menegur. Episode berakhir dengan Sindy tertekan oleh ejekan dan ancaman pimpinan, menunggu apakah dia mampu mengatasi tugas yang diberikan.
Di satu pertemuan keluarga, ayah memarahi Sindy karena dianggap buang-buang uang belajar dan membandingkannya dengan adiknya yang baru kerja, sementara ibu Sindy sedang sakit dan menghindari tamu. Nenek memberi Sindy perhiasan mahar yang mahal; Sindy menolak memakainya karena takut hilang dan menitipkannya pada Tante Leni. Seorang anggota keluarga pria mengeluh perhiasan untuk wanita dan menolak berbagi warisan, memicu pertengkaran dan Sindy disuruh kembali ke kamar. Episode berakhir ketika Sindy memilih menemui keluarga yang datang, meninggalkan ketegangan soal hadiah dan hak waris yang belum terselesaikan.
Keluarga menekan Sindy agar menolak magang di Grup Surya dan menyerahkan kesempatan itu kepada Silvy. Alasannya: Silvy dinilai lebih pintar dan keluarga merasa berutang karena kelalaian masa lalu yang membuat Silvy sering sakit. Sindy dipuji atas sikap mengalahnya dan disuruh menolak secara resmi masuk Keluarga Surya. Mereka juga membahas satu tempat tambahan agar salah satu kakak laki-laki bisa menemani Silvy; salah satu kakak menyatakan bersedia. Namun mereka sepakat harus berkonsultasi ke Ayah dulu; adegan berakhir saat seseorang memanggil 'Pak Dimas', sehingga keputusan akhir tetap belum jelas.
Di episode ini Sindy tiba di Restoran Jarawa dan mencium bau gas, lalu menegur pengelola yang mengaku tak memeriksa pipa gas selama tiga tahun dan tak memiliki alat pemadam. Setelah cekatan menuntut pemeriksaan keselamatan, Sindy memerintahkan pengosongan restoran. Terungkap pula kecelakaan masa lalu: Yudha pernah terluka parah oleh ledakan di tempat itu—wajahnya rusak dan kakinya patah—membuat ancaman terlihat nyata. Episode ditutup saat pengunjung dievakuasi dan seseorang melihat sesuatu mencurigakan di dalam, meninggalkan risiko kebocoran yang belum terselesaikan.
Pada episode ini, sebuah ledakan mengguncang Restoran Jarawa; Sindy, yang ternyata adik tiri Yudha yang dibawa ibu tirinya, sigap menyelamatkan Yudha dan seorang anak tiga tahun dari kebakaran. Keluarga Surya menyanjungnya: menawarkan pakaian dan gelang giok, lalu secara resmi mengangkatnya masuk keluarga dan nenek menyebutnya pahlawan. Sindy merendah, menyebutnya kebetulan, namun ketika Pak Dimas mempertanyakan bagaimana ia bisa mencium bau gas dan tahu restoran tak terawat tiga tahun, kecurigaan muncul. Episode berakhir dengan Sindy harus menjawab interogasi Pak Dimas, membuka tanda tanya tentang bagaimana dia mengetahui bahaya itu.
Episode dibuka dengan tuduhan bahwa Sindy merencanakan dan pura-pura menyelamatkan Yudha; Sindy membantah keras. Adegan bergeser ke rumah, di mana Sindy menerima sapaan keluarga, mengakui dulu ia membenci mereka setelah ibunya meninggal dan ayah tak menikah lagi, lalu memutuskan menerima peran sebagai kakak. Percakapan pindah ke persiapan ulang tahun Nenek: pesta besar akan digelar, tetapi Sindy dan Dimas kekurangan uang sehingga mereka sepakat patungan dan Sindy memilih hadiahnya. Di toko, Silvy dan Rian mengklaim bros yang sama, memicu persaingan yang meninggalkan pilihan hadiah Sindy dipertanyakan.
Di sebuah toko perhiasan, persaingan meledak ketika seorang wanita mengklaim 'Aku yang duluan ambil bros ini' setelah Sindy menaruh minat pada bros mahal; rekan-rekan mengoloknya, menyebut Sindy tak mampu beli dan menyinggung masa lalunya dengan Keluarga Surya yang membuatnya susah. Sindy menjelaskan pernah hampir tak punya uang saku; karena itu situasi memanas namun bos menyuruh membungkus bros. Sisi lain, Kak Rian menegaskan bros itu hadiah ulang tahun untuk 'Nenek Laras', yang ditentang orang lain sebagai pura-pura—ada tudingan bahwa Dik lupa marga dan ancaman, 'Biar kukasih pelajaran kau.' Ketegangan berakhir tanpa resolusi.