Ibu terbangun dikelilingi anak-anak yang memohon agar dia tidak menyerahkan Arsen dan Arum. Mereka bersumpah akan berhenti sekolah, bekerja, makan sekali sehari, bahkan membiarkan Ibu menerima uang ganti rugi dan tak lagi melakukan pekerjaan rumah asal keluarga tetap utuh. Ibu heran—nama-nama Arvin, Arlan, Arum, Arsen muncul—dan merasa 'berpindah zaman' karena ceritanya terasa familier. Diberitakan ia mirip Linda Yura, ibu tiri yang kejam di masa kelaparan tiga tahun; kabar mengatakan anak-anak akan membalas dendam ketika kembali. Adegan berakhir saat seseorang memerintahkan, "Jangan pukul mereka", meninggalkan ancaman dan keputusan yang belum terselesaikan.
Episode dimulai dengan sebuah keluarga miskin yang kelaparan setelah suami dikabarkan gugur; anak-anak ketakutan karena beredar gosip bahwa ibu akan menjual mereka untuk melunasi utang. Arvin kabur pada malam hari setelah mendengar rumor itu. Narator kemudian merangkum nasib anak-anak: Arvin jadi jenderal, Arlan akademisi muda, Arsen dokter dengan satu mata buta, Arum pendiri grup hiburan, sementara Linda (pemilik tubuh) dituduh melukai orang dan dijatuhi hukuman tembak. Linda mengaku melintasi waktu untuk mengubah pandangan mereka dan menyelamatkan diri; dia membangunkan anak-anak dan berjanji memasak, kini usahanya mengubah opini publik menentukan nasib eksekusi.
Di sebuah rumah miskin, ibu mengancam akan menjual Arsen dan Arum setelah memakai tepung terakhir; anak-anak memohon dan Kak Arvin menenangkan, berjanji akan merawat mereka. Ibu lalu mengukus telur satu-satunya untuk mereka; setelah memakannya ia mengelus kepala Arum. Tiba-tiba muncul notifikasi sistem: Kasih Ibu diaktifkan, kasih sayang Arum pada Nona meningkat dan keluarga mendapat 10 poin penghargaan yang bisa ditukar. Episode berakhir dengan kelegaan sementara namun kebingungan tentang arti aktivasi sistem dan konsekuensi poin bagi nasib anak-anak.
Linda, seorang wanita yang baru lintasi zaman dan mendapat sistem Kasih Ibu, menukar poin untuk menyiapkan bahan makanan demi menghidupi empat anak sampai suaminya kembali. Ia memasak roti dan membagikan telur, namun Tante Mira menuduhnya menghabiskan persediaan dan bahkan merencanakan menjual Arum untuk memenuhi kebutuhan kekasihnya. Anak-anak curiga dan salah satu berjanji akan membawa mereka kabur jika tuduhan itu benar. Ketegangan memuncak ketika Mira mengecam dan Linda membela diri; episode berakhir dengan roti siap dimakan, tetapi rencana pelarian dan tuduhan menjual anak tetap menggantung.
Episode ini dimulai dengan seorang ibu yang memaksa dan mengancam anak-anaknya untuk makan makanan murah, memukul ketika mereka menolak, hingga seorang wanita memberi mereka makanan enak. Tindakan itu meredakan suasana sementara; sistem mencatat Arsen menunjukkan kasih pada Nona (+10 poin). Seorang anak bertekad menunggu kesempatan saat Arum akan dijual untuk membawa mereka kabur. Malamnya, pembeli menghubungi Linda dan menuntut pengantaran anak sebelum jam 10 besok, sementara ada bisik tentang menemui Nando. Tuduhan niat jahat terhadap Linda menutup episode, menempatkan keputusan pengiriman anak sebagai tekanan mendesak yang belum terselesaikan.
Seorang pembeli datang dengan janji mengambil anak besok dan memberi makanan untuk melengahkan keluarga; mereka curiga dia 'pasti berniat jahat' dan yakin dia berniat jual Arsen dan Arum. Menolak uang dan ancaman, keluarga menolak menjual; kakak menyarankan melarikan Arsen dan Arum malam itu saat pembeli tidur. Mereka mengusir pembeli dan memperingatkan akan melawan jika mencoba mengambil anak sekarang. Saat tampak tenang, 'orang yang nggak peduli' malah menutup selimut Arsen — teriakan "Gawat" dan panggilan "Arum" menandai bahaya mendesak yang belum terselesaikan.
Warga mengepung rumah Linda setelah kabar bahwa ia akan menjual anak menyebar; seorang kerabat berulang kali meneriakkan 'Lepaskan adikku' dan meminta Nenek serta Ketua menyiarkan agar warga menghentikan tindakan itu. Di depan pintu, orang-orang menuduh Linda menjual anak demi kekasihnya dan mengungkit kematian ayah anak itu, sementara sebagian warga ragu ikut campur. Ketegangan memuncak saat mereka memukul pintu dan memaksa membuka. Tiba-tiba anak itu dipaparkan demam dan kejang; seorang dokter mencatat sudah tiga kejang tiap lima menit dan mencurigai radang otak. Arum dilarikan ke puskesmas, dan nasibnya serta tuntutan warga terhadap Linda masih tergantung.
Di puskesmas, warga menuduh Linda berniat menjual anak padahal ia membawa Arum untuk dirawat setelah demam tinggi. Ibu dan warga bersitegang; Linda minta maaf, menegaskan tak pernah ingin menjual dan berjanji membesarkan anak-anaknya. Petugas melaporkan demam 42°C, Arum sudah disuntik penurun demam dan didiagnosis infeksi paru yang memerlukan rawat inap dengan biaya sekitar 20–40 ribu. Warga ragu dan mendesak penggalangan dana, sementara seorang saudara memohon Ibu menyelamatkan adiknya dengan menawarkan bekerja atau dijual. Episode berakhir dengan keputusan Ibu soal perawatan yang masih menggantung.
Seorang kakak dan keluarga panik di rumah sakit karena adik berusia 8 tahun butuh perawatan mahal namun mereka tak punya uang. Mereka memohon kepada dokter sementara ibu tiri terlihat menolak membantu; kakak berjanji mencari uang dan bahkan menukar semua 35 poin penghargaan demi biaya. Dokter menegaskan aturan rumah sakit: tanpa pembayaran, pasien harus dibawa pergi. Rasa bersalah kakak kepada ayah dan tangisan keluarga meregangkan harapan. Episode berakhir saat seseorang memanggil "Ibu?", menghadirkan kemungkinan intervensi yang belum terjawab dan menentukan nasib adik.
Di episode ini, keluarga miskin merawat Arum yang diselamatkan; Arvin berterima kasih namun mengancam akan melawan jika Ibu menjual Arum setelah sembuh. Sistem mencatat meningkatnya kasih sayang Arvin dan poin ditukar untuk uang serta kupon makanan. Nenek memohon pada Linda agar tidak mengusir atau menyiksa anak-anak yang baru kehilangan ayah. Ibu menyisihkan beras dan dua telur untuk pemulihan Arum, keluarga makan seadanya dan menyimpan barang bagus yang biasanya diberikan ke keluarga pemilik tubuh. Arlan dan Arvin akan kerja; anak-anak disuruh sekolah. Ancaman penjualan Arum tetap menggantung.