Dalam episode ini, Bu Syifa melahirkan seorang bayi perempuan, namun ia menolak anaknya karena tanda lahir besar yang membuatnya yakin bayi itu bukan miliknya. Ia bahkan mendorong suaminya, Pak Wahid, untuk membuang bayi tersebut. Pak Wahid, meski keberatan, menerima keputusan istrinya dan berjanji membesarkan anak itu di desa. Sementara itu, Marko Saputra, presdir yang sedang dalam situasi mendesak, meminta seseorang mengirim gadis dan terlihat dalam kondisi lemah setelah dibius. Episode ini berakhir dengan ketegangan tinggi mengenai nasib bayi dan ancaman pada Marko yang masih belum jelas.
Episode ini dimulai dengan pengungkapan bahwa Marko Saputra akan melamar Rina, putri sulung Keluarga Sudiro, menimbulkan kegembiraan sekaligus tekanan dalam keluarga tersebut. Rina dipersiapkan untuk menghadapi lamaran ini, meski dia sendiri belum mengenal Marko. Sementara itu, keluarga Sudiro membicarakan status dan penampilan saudara perempuannya yang dianggap aib keluarga. Di tengah persiapan lamaran, Rina menyadari tanda lahir di wajahnya tiba-tiba menghilang, menimbulkan kebingungan yang berkaitan dengan pertemuan dengan seorang pria semalam. Ketegangan berakhir dengan Rina yang harus menghadapi perubahan penampilan dan situasi lamaran yang mendesak.
Imelda diperintahkan ibunya untuk tetap di kamar agar tidak mengganggu kedatangan Marko Saputra, pria yang akan melamar adiknya. Keluarga Imelda menekan agar dia tidak terlihat agar tidak memalukan Marko. Setelah pernikahan adiknya, Imelda diharuskan pergi ke luar negeri dan tidak kembali lagi, meski Imelda menolak dan berusaha melawan keputusan keluarganya. Namun, orangtuanya bersikeras mengurungnya di kamar dan melarangnya keluar tanpa izin. Episode berakhir dengan pengumuman kedatangan Marko, memicu ketegangan baru terkait masa depan Imelda dan keluarganya.
Pak Marko datang melamar kepada Rina, satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya. Ia mengaku semalam dibius dan melakukan hal tidak senonoh, namun berjanji bertanggung jawab dengan menawarkan mahar 1 triliun. Keluarga Rina menyetujui lamaran itu dan menganggap pernikahan tersebut sebagai keberuntungan bagi Rina. Namun, saat Pak Marko meminta jawaban dari Rina, dia menolak dan meminta untuk dilepaskan, menimbulkan konflik yang belum selesai dalam hubungan mereka.
Seorang pria bernama Pak Marko mengungkapkan niat seriusnya untuk menikahi Rina setelah merasakan kedekatan emosional semalam. Di tempat lain, suara teriakan dari seorang gadis memicu kekhawatiran, namun para saksi meremehkannya sebagai suara kucing atau mengabaikannya. Rina merasa cemas karena khawatir akan keselamatannya jika identitas aslinya terungkap. Sementara itu, ibu Rina menyerahkan putrinya kepada Pak Marko sebagai tanda persetujuan menikah, meski ketegangan dan keraguan tetap membayangi keputusan itu, meninggalkan situasi yang penuh misteri dan ketidakpastian.
Rina menunjukkan selendang sutra mahal yang disangka milik Pak Marko, namun dirinya dan orang lain tidak mengenalinya. Imelda yang baru lulus diminta oleh Rina untuk segera mencari pekerjaan agar tidak terus tinggal di desa. Pak Marko kemudian mengembalikan selendang itu kepada Imelda dan mengungkapkan bahwa gadis yang selama ini dicarinya ternyata adalah Imelda sendiri. Pak Marko menyadari nasib Imelda yang tidak mujur, dan menyatakan bahwa dia tidak pantas untuk pria itu, memberi tanda konflik dan ketegangan dalam hubungan mereka yang belum jelas kelanjutannya.
Setelah menikah dengan Pak Marko, seorang wanita dan ibunya merasa status keluarga mereka meningkat dan siap membela kehormatan mereka dari siapa saja yang merendahkan. Namun, ketegangan muncul akibat kedatangan Imelda, wanita yang diduga tidur dengan Pak Marko malam sebelumnya. Ibunya khawatir Marko akan marah jika mengetahui kebenaran, sehingga berencana menghalangi Imelda bertemu Pak Marko. Sementara itu, wanita itu bertekad masuk ke keluarga Saputra demi kejayaan dan kekayaan, menandai konflik yang belum terselesaikan antara mereka dan Imelda.
Presdir dan Pak Darman mendengar suara misterius dari lantai dua, meskipun mereka yakin tidak ada orang di sana. Pak Marko panik dan mencoba naik ke atas, namun dilarang. Sementara itu, Rina menyiapkan buah potong dengan jari terluka demi Pak Marko, menunjukkan perhatian pribadi. Di tengah kebingungan, Pak Wahid dan seseorang bernama Nona Imelda tiba-tiba lompat keluar, memicu pertanyaan dari Presdir yang heran karena Pak Wahid hanya memiliki satu putri, yang mengarah pada ketegangan dan misteri baru yang belum terpecahkan.
Imelda Sudiro dibesarkan dalam bayang-bayang tanda lahir di wajahnya, sejak kecil ia hidup ditolak dan dibenci oleh orangtuanya. Hidupnya berubah ketika tanpa sengaja ia menolong Marko Saputra. Saat itu tanda lahirnya menghilang secara ajaib, membuka mata orang di sekelilingnya. Kejadian itu mengguncang Imelda, antara lega dan takut. Marko, terpikat oleh perubahan itu, lalu berniat menikahinya. Pilihan Imelda menjadi titik krusial, menerima cinta atau menghadapi luka masa lalu.
Imelda Sudiro dibesarkan dalam bayang-bayang tanda lahir di wajahnya, sejak kecil ia hidup ditolak dan dibenci oleh orangtuanya. Hidupnya berubah ketika tanpa sengaja ia menolong Marko Saputra. Saat itu tanda lahirnya menghilang secara ajaib, membuka mata orang di sekelilingnya. Kejadian itu mengguncang Imelda, antara lega dan takut. Marko, terpikat oleh perubahan itu, lalu berniat menikahinya. Pilihan Imelda menjadi titik krusial, menerima cinta atau menghadapi luka masa lalu.