Kaisar Riko berduka karena kematian Mira dan berniat meninggalkan tahta untuk menjadi biksu, berdoa terus di kuil. Ibu Suri menolak dan menekan agar negara stabil dengan bersekutu ke Keluarga Wuma. Ia memerintahkan Tetua Yosi mengeluarkan dekret: panggil Raja Timo ke ibu kota, angkat dia jadi Kaisar dalam sebulan, dan jadikan Hana Wuma permaisuri. Riko menolak menyerahkan takhta dan mewakili cintanya pada almarhumah, sementara Ibu Suri menegaskan prioritas negara. Episode berakhir saat dekret diumumkan dan Riko menentang, memicu konflik kekuasaan yang belum terselesaikan.
Raja tiba di Kuil Usna untuk berdoa sebelum naik takhta tiga hari lagi, didampingi orang yang mendorong pentingnya restu Ibu Suri. Saat berdoa, seorang pria menyerang dengan hinaan, menuduhnya 'bocah bodoh' dan mengadang jalannya; Raja minta maaf dan bersikeras tak sengaja, sementara pengawal dan pendamping mencoba menengahi. Bentrokan lisan memanas, ada dorong-dorongan yang menghentikan prosesi dan membuat suasana menjadi kacau. Episode berakhir dengan prosesi terhalang dan reputasi Raja terbuka dipertanyakan, membuka ketegangan yang belum terselesaikan menjelang kenaikan takhta.
Di sebuah kuil, sekelompok pengawal mengusik seorang anak buta sampai Biksu Rafa turun tangan. Raja Timo — disebut calon Kaisar Latu — menyombongkan diri, memerintahkan anak itu bersujud dan menuntut permintaan maaf. Ketegangan memuncak ketika salah satu pengawal menyarankan membunuhnya dan bawahan mensyaratkan seribu sujud sebagai tebusan. Rafa menolak tunduk, menegaskan ia bukan lagi Kaisar Latu melainkan biksu, dan menolak memaksakan kehendak pada anak itu. Konflik berakhir dengan ancaman mencabut posisi calon kaisar Raja Timo, meninggalkan pilihan dan bahaya yang belum terselesaikan.
Episode dibuka dengan konfrontasi: seorang pria menuduh orang lain berani mencabut posisi calon kaisarnya dan mengejeknya, sambil mengatakan hanya Ibu Suri atau Kaisar sekarang yang bisa mencopot gelar. Adegan berpindah ke penahanan Biksu Rafa; seorang pengikut mengaku bersalah dan memohon kepada Tuan untuk mengampuni Guru Rafa dan melepasnya. Tuan menetapkan syarat kejam: Rafa harus sujud satu ribu kali untuk dibebaskan. Rafa mulai sujud dan dihina, lalu diperintahkan sujud lagi dengan ancaman pembunuhan jika menolak. Ketegangan memuncak ketika seseorang meneriakkan Brama!, meninggalkan nasib Rafa tak jelas.
Di sebuah kerumunan yang memanggil Brama, Riko Sanur diserang setelah seseorang menuduh ucapannya menyebabkan kematian orang lain. Orang-orang mengejeknya tak pantas naik takhta dan mengancam akan 'mengajari' dia pelajaran; Riko membantah dan menantang siapa yang pantas menggantikannya. Pakar tudingan meningkat menjadi hinaan terbuka dan pertengkaran tentang klaim kekuasaan—termasuk pengingat bahwa takhta Raja Timo ditetapkan Ibu Suri. Ketika konfrontasi mencapai puncak, pengumuman bahwa Ibu Suri tiba mengubah arena konflik dan menempatkan nasib Riko serta klaim takhta pada keputusan yang belum terselesaikan.
Ketika Raja dan Ibu Suri tiba, istana panik karena para pejabat takut mereka mengetahui bahwa seorang biksu telah terluka atau dibunuh. Kru diperintahkan menyeret 'si binatang ini' bersama jasad ke ruang kayu di belakang halaman untuk dihukum dengan seribu tusukan. Seorang tahanan menangis, "Lepaskan aku," sementara pemimpin memerintahkan agar hukuman dilaksanakan sempurna dan mengancam pertanggungjawaban jika kurang satu tusukan. Raja mencoba menenangkan situasi, namun salam penyambutan Ibu Suri mengakhiri episode, para pelaksana tergesa-gesa menutupi kejahatan, dan kemungkinan besar pengungkapan tetap menggantung.
Di Kuil Usna, Timo melaporkan pada Ibu Suri bahwa ia menangkap seorang pencuri yang mencuri batu bata emas; adegan dibuka dengan Timo yang rajin berdoa dan menyalakan lampu abadi untuk ibunya. Ibu Suri memuji bakti Timo dan menyatakan penyesalan bahwa Riko tak seberbakti sehingga "kita nggak bakal begini". Ketegangan meningkat ketika Ibu Suri mengingatkan bahwa dalam tiga hari Timo akan naik takhta; ia tidak meminta Timo tinggal, sementara ia dan Hana akan mendoakan kenaikan takhta dan pernikahan barunya. Episode ditutup dengan persiapan mendesak menuju takhta dan pernikahan, sementara masalah seputar Riko belum terselesaikan.
Di episode ini, suasana istana tegang ketika petugas membicarakan Ibu Suri yang sangat peduli pada Raja dan harus dijaga citranya. Setelah beberapa pujian singkat, pihak yang merencanakan sesuatu menegaskan agar 'urusan tadi' dirahasiakan dari Ibu Suri dan memerintahkan Raja Zoni melakukan tugas itu dengan teliti—“harus ribuan tusukan, kurang satu pun nggak boleh.” Ibu Suri sendiri memindahkan doa ke Istana Bodhi dan melarang membawa orang baru. Terungkap pula bahwa peralihan Riko jadi biksu harus disembunyikan demi martabat kekaisaran. Episode ditutup dengan rencana yang memerlukan ribuan tusukan disimpan rapat; rahasia dan konsekuensinya belum terselesaikan.
Ibu Suri panik ketika Riko, yang seharusnya membaca kitab, tak muncul di Kuil Usna. Dia menuduh anak durhaka dan menyuruh Kasim Bima mengutus orang mencari ke seluruh kuil, bahkan 'meski cari sampai ujung dunia juga harus temukan dia.' Para pelapor menyisir Aula Yiro, Risa, Milen, Insa, Aula Lana, ruang buku, dan ruang meditasi tetapi Riko serta seorang Biksu Rafa tetap tidak ditemukan. Ketegangan meningkat saat mereka dimarahi dan diperintahkan meneruskan pencarian; episode ditutup dengan Riko masih hilang dan perintah pencarian menyeluruh yang belum menghasilkan jawaban.
Dalam episode ini Ibu Suri memerintahkan pencarian Biksu Rafa di seluruh rumah—ruang makan, ruang tamu, ruang doa—sambil mencaci para pencari. Bibi mencoba menenangkan suasana, dan Kak Riko yakin Rafa ada di kuil lalu ikut mencari. Di sisi lain, seseorang memuji 'eksekusi ribuan tusukan', mengancam akan membunuh mereka secara mengenaskan dan memotong lidah siapa pun yang berani keras mulut. Riko, yang lebih suka ketenangan dan merasa kuil terlalu kotor, ragu saat sebuah suara tiba-tiba memanggil namanya: 'Riko', meninggalkan pencarian dan konflik dengan ancaman kekerasan yang belum terselesaikan.