Di ruang ulangan, Winda keceplosan menyebut 'cara jawab' lalu menolak menjelaskan pada 'kak', sementara Citra tetap mau berbagi metodenya dan teman-teman khawatir ada yang menyontek. Ketika soal dibagikan, seorang murid bergumam, 'Apa aku tetap nggak bisa lolos dari takdir laluku?', lalu beberapa siswa meneriakkan hinaan—'anak durhaka', 'maluin keluarga Pratama'—menuduhnya memalukan keluarga. Yang dituduh membantah tahu cara orang menyontek, lalu menantang dengan sengaja meninggalkan jawaban kosong untuk melihat apakah itu menghentikan penyontekan. Ia menyerahkan kertas ke guru: 'Pak, aku mau kumpul.' Keputusan itu memaksa konfrontasi kejujuran yang belum terjawab.