Di tengah sukacita menyambut kembalinya pasukan, titah Kaisar tiba menuduh Adipati Disa, Tio Seza, bersekongkol dengan musuh: tiga perbatasan jatuh, Tio Seza dan tiga putranya dihukum mati, sementara keturunan Seza diasingkan dan dijadikan wanita penghibur istana. Tuan Yuda dan keluarga menyangkal tuduhan dan meminta penyelidikan, namun titah itu dianggap bukti. Di rumah lahir seorang putra, Kio Seza; Yuda memohon agar bayinya diselamatkan. Nyonya Hanni menolak melihat Kio disiksa dan mengancam akan membunuhnya segera. Nasib Kio tergantung pada keputusan Yuda menghadapi ancaman itu.
Nona Wanda menghadapi Kanselir saat anggota keluarga Seza dihukum atas tuduhan pengkhianatan. Ia memohon, menyatakan ayahnya pernah menyelamatkan Kaisar dan memiliki surat pengampunan untuk menukar satu nyawa, lalu meminta dibawa menghadap Kaisar demi menyelamatkan adiknya. Kanselir menolak, mengatakan surat itu tak berlaku bagi pengkhianat dan bahwa kehormatan seratus tahun hanya untuk keluarga Adipati Disa. Pernyataan itu menegaskan: keluarga Seza harus mati. Dekret diumumkan bahwa perempuan keluarga akan diseret ke tempat eksekusi, meninggalkan Wanda tanpa jalan pengampunan dan nasib adiknya menggantung.
Di Kediaman Adipati Disa, istana memerintahkan penjaga menangkap dan membunuh perempuan keluarga itu karena dianggap melawan titah, menempatkan Nona Wanda dalam bahaya langsung. Seorang pria menuduh mereka telah membunuh patriot setia dan bayi adik, lalu mengancam seluruh Keluarga Seza. Wanda tiba terlambat pada ibunya yang merawat bayi Kio; sang ibu bersikeras akan menjaga keluarga meski menyebut ayah sebagai pembohong. Saat ketegangan memuncak, ibunya pingsan; Wanda berusaha membangunkan dia, sementara perintah eksekusi dan nasib Keluarga Seza tetap menggantung tak terjawab.
Episode dibuka dengan Wanda dan Keluarga Seza mengucap sumpah balas dendam, menegaskan kesiapan menumpahkan darah musuh dan tidak mengakui tuduhan palsu. Di tempat terpisah diumumkan bahwa jasad Adipati Disa akan dijadikan pil keabadian tengah malam, membayangi upaya Seza. Pemimpin keluarga berjanji membalas Beldi dalam setahun meski terluka. Setelah klaim kemenangan yang menimbulkan kontroversi—mereka dikatakan telah menghabisi perbatasan dan pasukan Durma—sekelompok pejabat menuntut hukuman mati; Yuda membela jasa Seza dan menolak eksekusi tanpa bukti. Episode berakhir dengan ancaman hukuman mati menggantung karena bukti pemberontakan masih diperdebatkan.
Adipati Disa dituduh berkhianat, memicu ancaman hukuman; Tio Seza, pembela keluarga Seza, menantang tuduhan, bersumpah menggunakan nyawanya untuk membuktikan kepolosan Adipati dan mengutuk para pemfitnah. Di tengah ejekan dan peringatan, salju turun—tanda sumpah yang menegaskan bahwa Adipati Disa difitnah; kerumunan mendesak maju 'Selamatkan Adipati Disa'. Sementara itu Wanda memaksa mencoba memutus rantai baja yang mengikat ayahnya, takluk oleh kekuatan rantai dan diperingatkan untuk berhenti. Bayi Kio baru lahir disebutkan, dan nasib Adipati serta ayah Wanda tetap terancam saat kerusuhan pecah.
Episode dibuka dengan kelahiran Kio; bayinya mirip Ayah, namun narator mengatakan ia tak akan pernah bertemu Kio. Ibu melahirkan lancar tapi lemah, harus menyusui Kio berulang kali sampai terjaga. Ayah mengaku bersalah dan berjanji menebus di kehidupan lain, sementara narator menuntut penebusan sekarang. Adegan bergeser ke perintah menghentikan pemberontak: Wanda diingatkan tentang makam bawah tanah Toya dan tombak giok hijau, diperintahkan melindungi negara dan rakyat, segera pergi, dan memenggal pengkhianat keempat. Perintah eksekusi dan misi makam menutup episode dengan ancaman tindakan segera yang belum terselesaikan.
Di tengah eksekusi Adipati Disa dan tiga putranya, warga berkumpul saat Tuan Linto tiba; beberapa memuji kedermawanannya, sementara penegak hukum menyebut korban pemberontak. Kaisar memerintahkan Keluarga Seza dihancurkan dan mayat dibakar di tungku. Seorang pejabat menyesal gagal menjaga jasad dan mengungkap Kanselir memerintahkan sinabar dari Diha untuk menghancurkan tulang pahlawan agar dibuat pil kesetiaan. Kanselir menawar dengan seorang pedagang dari Mobe dan memberikan satu ukiran tulang. Keraguan tentang niat Tuan Linto muncul, dan seseorang bertanya, "Sebenarnya siapa kau?"
Wanda campur tangan saat sekelompok orang kehilangan harta karena penggerebekan dan menghadapi ancaman pembunuhan, sementara satu orang diduga keracunan hingga tulang. Ia mengumumkan telah mengembalikan status mereka dan menyatakan mereka sebagai keluarga, bukan pelayan, lalu memerintahkan persiapan kamar dan bekal untuk berangkat ke Lois keesokan pagi, dengan ancaman tegas terhadap yang menunda. Dalam pertemuan dengan para kakak ipar ia menolak membiarkan istri-istri Tino dan Tawi dipermalukan di bordil istana. Pertemuan ditutup saat Wanda berkata, "Kalau gitu, lihat ini," meninggalkan tindakan selanjutnya menggantung.
Episode ini dibuka saat Wanda diberi surat yang ditulis kakaknya saat berangkat perang; isi surat dan sutra yang disalin tiap malam mengungkap janji: jika kakak tak kembali Wanda harus membawa surat itu pulang dan menikah lagi. Pernyataan balas dendam untuk melindungi Keluarga Seza memicu kebulatan tekad dan permintaan maaf Wanda sebelum ia berangkat pulang dengan kakaknya, yang sudah menyiapkan uang untuk pengawal. Tawi, yang mengandung, memilih tetap demi keluarga. Kak Julia menawarkan dukungan emosional. Adegan berakhir saat seseorang menuduh Wanda memperlakukan penyelamatnya secara dingin, konflik itu dibiarkan menggantung.
Di malam hari Tuan Linto menyusup dan membantu seorang wanita mengambil kembali tulang ayahnya; ia tak sepenuhnya dipercaya, memberi salep untuk lukanya dan memperingatkan bahwa ia akan menyesal jika menolak sesuatu yang ditawarkan. Wanita itu menolak, dan Tuan Linto pergi. Nona Wanda menunjukkan baju zirah sang ayah dan mengusulkan mengolah tulang Adipati Disa menjadi porselen dengan darah dan air mata agar tak terlupakan; orang itu berjanji akan selalu mengingat budi Tuan. Keluarga memutuskan melindungi Dinasti Durma, bukan kaisar bejat, keputusan yang meninggalkan ketegangan belum terselesaikan.