Jovi, seorang dokter magang yang baru saja dipecat dari Rumah Sakit Revina, ditantang untuk menjahit luka Paman Heri yang tidak bisa menunggu penanganan di rumah sakit karena jarak yang jauh. Meskipun ada keraguan dan peringatan tentang risiko cacat, Jovi bersikeras bahwa ia mampu mengatasi luka itu karena telah berlatih sejak kecil. Setelah persiapan disinfeksi dan anestesi, Jovi mulai melakukan jahitan sambil ditekan oleh kekhawatiran akibat pengalaman dan statusnya sebagai dokter magang. Ketegangan muncul karena konsekuensi medis dari tindakannya masih belum jelas.