Wina Sari, jenderal yang setia menemani Kaisar Raka berperang selama enam tahun, kini menghadapi kenyataan pahit setelah Raka naik takhta dan bersiap menjadikannya Permaisuri sesuai janjinya. Namun, keinginannya berubah saat Wina justru menjadi korban pertama kekuasaan Kaisar, yang memutuskan menjadikannya Selir Agung setelah pernikahan resmi. Wina menolak posisi itu dan memilih meninggalkan istana, memohon agar mereka tidak bertemu lagi. Ketegangan memuncak saat Raka harus menghadapi keputusan Wina yang mengejutkan, membuka konflik yang belum terselesaikan tentang kedudukan dan hubungan mereka.
Wina ditahan di istana dengan luka serius akibat peristiwa yang melibatkan Kaisar. Kaisar mengunjunginya untuk menebus kesalahan sekaligus mengingatkan janji masa lalu antara Wina dan Ayu, kekasih kecilnya. Meskipun Kaisar mengaku memanfaatkan Wina, dia berjanji akan memperlakukan Wina dengan baik dan tidak mengecewakannya setelah naik tahta. Wina menuntut kebebasan, namun ditolak. Kaisar berusaha membujuk Wina dengan rencana membawanya ke Festival Lampion setelah sembuh. Di akhir, Kaisar bersiap bertemu Guru Agung, sosok penting baginya, berharap mendapat petunjuk keluar dari konflik ini.
Dalam episode ini, Wina berjuang menerima kenyataan menjadi Selir Agung saat Ayu dinobatkan sebagai Permaisuri. Dia menghadapi pengkhianatan dari Kaisar yang selama ini dianggapnya peduli, tapi sebenarnya meninggalkannya saat ditawan dan disiksa. Wina mengungkap sakit hatinya kepada Kaisar dan orang-orang di sekitarnya, mempertanyakan pengorbanannya yang diabaikan. Kaisar menawarkan mundur dari posisi Permaisuri agar hubungan Wina dengannya tidak terganggu, namun Wina menolak dan menyatakan ketidakmampuannya memaafkan mereka. Episode berakhir dengan ketegangan yang memuncak, memperlihatkan konflik batin dan pilihan sulit Wina.
Saat Ayu dinyatakan hamil anak Kaisar, kemarahan memuncak karena Wina diduga berusaha mencelakai calon penerus takhta. Kaisar memerintahkan agar Wina segera dihukum berat. Suasana semakin tegang saat Wina ditangkap dan dipaksa melepas pakaian kebesarannya sebelum diseret ke Istana Sunyi, disiksa tanpa diberikan makan dan minum tanpa izin Kaisar. Konflik ini mengungkap hubungan rumit antar karakter yang saling terikat, dan hukuman keras bagi Wina menyisakan ketegangan mengenai nasib Ayu dan anaknya yang belum jelas.
Nona Wina yang pernah menjadi calon Permaisuri kini dipermalukan di hadapan istana dengan cara melepas pakaiannya, tindakan yang sebelumnya hanya dialami oleh Selir Lia yang berselingkuh. Meskipun seorang jenderal setia yang berani mempertaruhkan nyawa demi Kaisar, Wina harus menerima penghinaan itu tanpa mendapat perlindungan. Di sisi lain, Permaisuri Ayyu menguasai istana dan berusaha memperburuk keadaan Wina. Merasa dihina dan tersakiti, Wina bertekad membalas dengan membuat mereka menderita sebelum memutuskan pergi. Namun, keputusannya masih menggantung tanpa tuntas.
Dalam episode ini, Selir Agung mengalami pingsan setelah kegagalan menyelamatkan kandungan Permaisuri, memicu kekhawatiran Kaisar yang mengancam keselamatan keturunan tabib Madi jika ada dampak buruk. Tuan Cano dipercaya mengantarkan Selir Agung kembali ke istana secara langsung, menunjukkan kepercayaan Kaisar padanya. Namun, Selir Agung kemudian mengalami kekambuhan penyakit yang menyebabkan kebutaan sementara, menambah ketegangan. Di tengah situasi genting ini, Selir Agung meminta bantuan Than Cano untuk mencarikan calon suami, menandai perubahan penting dalam episode dan membuka konflik baru yang belum terselesaikan.
Nona Wina mendesak Tuan Cano untuk membantunya menemukan calon suami agar permintaannya kepada Kaisar terkabul. Meskipun awalnya ragu, Tuan Cano menawarkan bantuannya karena mengagumi keberanian Wina yang menolak mengkhianati rahasia negara saat ditawan musuh. Saat hari penobatan Permaisuri tiba, Wina hadir menyaksikan orang yang dicintainya menikahi wanita lain, sementara Kaisar khusus mengundangnya memakai pakaian resmi. Di tengah upacara, keganjilan mulai terungkap dan Wina bersiap mengungkap sesuatu penting, menghadirkan ketegangan yang belum terselesaikan.
Dalam episode ini, Wina dan Raka terlibat konflik sengit saat upacara penobatan Permaisuri berlangsung, dengan Wina menolak tunduk meski ditekan untuk tidak mempermalukan Kaisar. Raka, yang merasa lepas kendali karena perasaannya pada Wina, berusaha menenangkan situasi dan berjanji akan meminta maaf setelah upacara. Guru Agung, yang juga pamannya Permaisuri, mengingatkan Wina agar berhati-hati dalam bersikap dan menegaskan bahwa hukuman Wina sebelumnya terlalu berat akan diumumkan tidak bersalah jika ia patuh. Namun, Wina menolak kembali seperti semula, memicu ketegangan yang belum selesai.
Wina, yang kini buta setelah berjuang sendirian untuk Soka, meminta keadilan dalam sebuah upacara besar. Namun, Kaisar dan orang-orang di istana menuduhnya pura-pura dan mempertanyakan motifnya, menuduhnya ingin merebut tahta dengan licik. Wina menerima tuduhan itu dan mengaku siap menebusnya dengan nyawanya. Kaisar mengancam akan mencabut gelarnya jika dia berbohong. Pengungkapan mengejutkan muncul ketika Kaisar menyatakan mata Wina memang buta dan mungkin tak bisa disembuhkan, meninggalkan ketegangan tentang masa depan Wina dan hubungannya dengan Kaisar yang retak.
Wina yang sudah kehilangan penglihatannya menghadap Kaisar untuk mengajukan sebuah permintaan penting dengan menunjukkan giok sebagai bukti janji masa lalu. Dia ingin dibebaskan dari istana dan diizinkan menikah meski Kaisar keberatan karena kondisinya yang buta dan posisi Permaisuri yang sudah milik Ayu. Setelah perdebatan, Kaisar bertanya siapa calon suami Wina, namun suasana berubah saat seorang pria lain tiba-tiba menyatakan niat menikah dengan Wina, memicu ketegangan baru yang belum selesai.