Iwan, anak sulung keluarga Simin yang tengah terpuruk secara finansial, berkonfrontasi dengan seorang pria yang memukul pacarnya dan merebut kalung miliknya. Dalam pertikaian sengit itu, Iwan menegaskan identitasnya meski dipandang rendah, dan mengancam akan menghancurkan lawannya dengan kata-kata. Konflik ini memunculkan ketegangan atas status keluarga yang disebut-sebut hampir bangkrut, serta menunjukkan kekuatan kata-kata sebagai senjata utama Iwan. Pertarungan fisik dan verbal ini berakhir dengan ancaman yang menggantung, memperlihatkan bahwa perseteruan belum akan selesai begitu saja.