Winda memaksa mengambil barang-barang dari kediaman Gistaru dan menantang ancaman penjara dari Kepala Pemerintahan Kota Bulan. Meski disuruh mengembalikan barang yang dicuri, Winda dengan tegas menolak dan memerintahkan pengawalnya membawa semua barang sesuai daftar, dengan ancaman kekerasan bagi yang melawan. Tensi meningkat ketika Winda menyebut barang hasil ambilannya sebagai bunga dan menolak tuduhan merampok. Ancaman pembunuhan dari pihak lain muncul, menandai eskalasi konflik yang memaksa Winda menghadapi konsekuensi tindakan serta pilihan berbahaya berikutnya.