Cindy ketahuan mengintip dan memotret seorang senior mandi; guru dan murid menegur dia karena itu mengganggu. Saat ditanya, guru menghitung bintang jodohnya dan berkata energinya bergerak: untuk meningkatkan kungfu Cindy harus menikah. Cindy bingung pada awalnya, lalu mendengar bahwa bersatunya pria dan wanita menyerap energi bumi dan langit sehingga lebih berguna daripada berlatih bertahun-tahun. Guru menyebut ayahnya pernah menjodohkan dia dan memerintahkan Cindy turun gunung mencari suami. Cindy berangkat, sementara guru memperingatkan bahwa pria yang menikahi Cindy tidak akan hidup tenang.
Pak Gunadi tiba di rumah keluarga Hanafi untuk menikah yang sudah dijodohkan; sejumlah orang mengomentari mobil mewah dan ketampanannya, lalu kaget saat tahu dia tunanetra. Andi ragu karena calon pengantin pria itu belum pernah melihat calon istrinya, tetapi Gunadi menolak protes: neneknya sudah menjodohkannya dan dia ingin menikah cepat karena perusahaannya sedang tidak sibuk. Di sisi lain, Cindy turun dari gunung untuk memenuhi janji ayahnya dan bertanya kepada ibunya apakah dia tahu dia akan menggantikan seseorang untuk menikah dengan Pak Gunadi. Episode berakhir dengan keraguan tentang pengaturan itu.
Di episode ini sekelompok wanita mengamati seorang pria dan bergosip tentang rencana pernikahan Cindy: salah satu menyatakan 'cowok yang mau nikah sama kau itu buta.' Ketegangan muncul ketika saudara perempuan (si adik) menawarkan menggantikan kakaknya demi kesempatan tidur dengan pria itu, sementara Cindy menegaskan ia tak mau menyerah demi kekayaan. Mereka sepakat mencari pria itu untuk menyelesaikan urusan pernikahan. Episode berujung pada panggilan nama - 'Pak Gunadi?' - yang tiba-tiba terdengar, memaksa keputusan dan menimbulkan ketidakpastian tentang siapa yang akan menemui pria itu.
Di depan rumah Keluarga Hanafi, episode ini dimulai dari cekcok sepele: seorang wanita mengeluh paha ayamnya jadi kotor dan Pak Gunadi mengembalikan barang yang dipinjam. Andi menawarkan tisu dan mencoba menenangkan, tetapi suasana memanas ketika mereka menyadari 'kotorannya juga nggak bisa dilap' sehingga semua jadi canggung mendadak. Wanita itu dibawa Andi ke rumah keluarga dan mempertanyakan tujuan—'Apa RS jiwa?'—lalu seseorang menatap Pak Gunadi dan menuduh, 'kau si buta itu?'. Tuduhan itu memunculkan ketegangan langsung yang belum terjawab saat episode berakhir, meninggalkan konflik yang menggantung.
Pak Gunadi, yang disebut si buta, dipaksa menghadapi jodoh yang canggung ketika neneknya memperkenalkan wanita dari desa. Di pertemuan itu seorang wanita mengejek kebutaannya lalu merayu kasar—'meski nggak bisa lihat, tapi badanmu bagus, bisa tidur sama aku'—sementara Andi meninggalkan lokasi bersama orang yang dikenalkan nenek. Wanita lain menyadari Pak Gunadi adalah calon suaminya dan berusaha mengejarnya. Nenek kembali menelpon mendesak pernikahan; Pak Gunadi minta waktu sendiri dan melarang diikuti. Adegan ditutup dengan teriakan peringatan yang menandai ancaman langsung terhadapnya, meninggalkan situasi belum terselesaikan.
Pak Gunadi hampir ditabrak dan diselamatkan oleh seorang putri dari Keluarga Hanafi, ia selamat dan menyebut 'pelindung emas' yang menolongnya hasil latihannya bertahun-tahun. Orang lain meremehkan ucapan terima kasih dan bercanda kasar soal siapa yang akan ia tiduri jika mati, menciptakan canggung di antara mereka. Pak Gunadi bersikeras tak akan tidur dengan perempuan yang wajahnya belum ia lihat. Seseorang kemudian menggambarkan ciri-ciri wajah sang penyelamat—panca indra lembut, hidung elegan, mulut kecil, bibir lembut—dan episode berakhir dengan hasrat Pak Gunadi untuk melihat mukanya yang belum terpenuhi.
Di episode ini Nenek mendesak seorang wanita mengurus surat nikah karena keluarga Hanafi menuduhnya menolak seorang pria. Wanita bersikeras hanya mau mengurus berkas karena tak tahan melihat pria itu dan akan menghindari tidur bersamanya. Pak Gunadi menyuruh mereka ke KUA besok dan meminta pakaian lebih formal, sambil bercanda soal pria yang berpakaian seperti pertapa. Keesokan harinya suasana tegang: KUA hampir tutup, satu pihak belum datang sementara satu orang sudah hadir, membuat pengurusan surat nikah terancam batal dan keputusan cepat masih menggantung.
Sepasang suami-istri baru tiba setelah acara, berseloroh tentang foto pernikahan dan saling mengenakan pakaian yang sama. Mereka bertengkar singkat soal mau pulang ke mana; istri ingin ikut ke rumah suami, suami menolak digendong meski tradisi senior menyuruh pengantin pria menggendong pulang. Guru mengatakan setelah menikah mereka boleh tinggal bersama, jadi tidur bersama jadi masalah yang harus dihadapi karena 'Nenek'. Mereka mengatur agar Andi menjemput. Ketika dibujuk, suami mengaku buta dan tidak bisa melihat jalan; istri menjawab, "Aku bisa jadi matamu." Episode berakhir saat mereka berangkat ke rumah baru, sementara bagaimana menghadapi Nenek dan hidup bersama masih menggantung.
Di malam hari, seorang pria (cucu sulung) dan seorang wanita (cucu menantu) tiba di rumah gelap setelah mengurus surat nikah; saat masuk salah satu mengeluh, "aku nggak bisa lihat." Nenek datang tak terduga, menegur mereka karena bersikap mesra, memuji menantu, lalu mengungkap: "cucu sulungku ini matanya agak bermasalah, kadang nggak leluasa bergerak," sambil meminta agar tidak mengeluh. Pasangan berusaha meredam kekhawatiran—salah satu menyahut, "Yang penting dia tidur sama aku"—meninggalkan ketidakpastian siapa yang akan merawat dan bagaimana kondisi itu akan memengaruhi rumah tangga baru.
Malam ini nenek datang malam-malam menyerahkan obat mata dari Dokter Dewa untuk cucu sulungnya dan meminta seorang pemuda yang sedang bersamanya mengawasi pemakaian. Nenek khawatir karena pengobatan sebelumnya tak berhasil, lalu pergi. Pemuda itu awalnya meremehkan, namun menuruti tugas: melarang korban tidur tanpa obat, menahan dan mengoleskan obat, lalu menyuruhnya berbaring di pangkuannya untuk diperiksa. Saat memeriksa, pemuda itu terkejut dan mengulang, "Mata ini bisa disembuhin." Episode ditutup dengan harapan baru dan keputusan pengobatan yang harus segera diambil.