Di sebuah aula, delegasi dari berbagai sekte menuntut Pangeran Agung turun tangan untuk mengalahkan Katak Penelan Langit. Sebelumnya seorang anak bertanya, 'Ayah, apa itu?' dan dijawab bahwa dia belum pernah melihatnya, menandai munculnya ancaman baru. Perwakilan Sekte Awia menyatakan mewakili 3.000 sekte, diikuti ketua 72 sekte kecil; semua memohon agar sang pangeran bertarung dan menghapus makhluk itu. Eskalasi memuncak saat mereka berjanji, 'kalau kau gugur, kami pasti akan jaga keluargamu,' meningkatkan taruhan, dan Pangeran Agung kini menghadapi keputusan berat, belum terselesaikan.
Episode dimulai dengan laporan bahwa seorang gadis kecil terobos keluar dari bumi, memicu pertanyaan apakah ia benar putri Pangeran atau leluhur iblis. Dito dan Pangeran Agung mendapati segel spiritual Alsa sudah rusak, menunjukkan kekuatan besar yang berpotensi berbahaya. Pangeran khawatir dunia akan kacau jika kekuatan itu diketahui, memerintahkan untuk menjaga rahasia dan meminta Dito mengurus anaknya. Di sela itu, seorang wanita mengabari soal persalinan dan menegur Jeno karena membawa Alsa padahal Alsa mau ujian sekolah. Dengan segel rusak dan keputusan menutup kebenaran, konsekuensi tindakan ini kini menggantung.
Episode dimulai saat Bu Lisa menerima telepon: hanya Keluarga Archi yang bisa menolong krisis bisnis mereka, dan ayah mendesak menikah lagi demi tekanan keluarga. Alsa bersikap kekanak-kanakan, menolak kerjakan PR dan diminta pulang; interupsi membuat suasana tegang. Banyu—yang menyatakan dirinya putra mahkota klan naga Lotim—diminta berubah bentuk dan mempertahankan harga diri. Seorang pihak memperingatkan agar kekuatan putri tidak dibongkar karena dapat membuat dunia kacau. Keluarga bergegas pulang, sementara ancaman dari kekuatan anak itu tetap menggantung sebagai konflik belum terselesaikan.
Di sebuah konfrontasi keluarga, istri menegur Jeno karena dianggap lemah, miskin, dan tanpa basis kultivasi, sambil menekankan bahwa uang dan kultivasi menentukan masa depan putri mereka, Alsa. Istri menuntut Alsa berusaha keras untuk ujian spiritual besok; Alsa menunjukkan kekuatan namun meremehkan ujian. Jeno terus minta maaf dan berjanji akan membimbing Alsa dalam kultivasi sebagai titik balik, tapi istri tak cukup puas. Istri sudah mendaftarkan Alsa les dan mendesak agar dibawa besok. Episode ditutup oleh pertanyaan soal menikah lagi dan keputusan Jeno yang masih menggantung.
Alsa berada di sekolah setelah ayahnya memperingatkan agar menyimpan kekuatan dan, bila ditanya, mengatakan ayahnya orang lemah. Di kelas, guru menguji murid tentang sejarah dan memintanya mempraktikkan jurus pemanggil; teman-teman menyinggung klan dan meremehkan latihannya, bahkan menanyakan, "Apa ayahmu penguasa iblis?" Saat Alsa menjawab ayahnya bilang orang itu lemah, guru mengejek dan menyuruhnya maju menunjukkan darah orang lemah dari ayahmu, mengancam akan menghadirkan ayahnya jika ia gagal. Episode berakhir dengan Alsa terpojok, harus memilih antara tampil atau menghadapi humiliasi ayahnya.
Episode dibuka dengan kebingungan saat seseorang memperagakan teknik transformasi—"Berubah"—dan orang-orang bertanya, "Ada apa ini?" Seseorang bangga melapor, "Pak Guru, aku berhasil," sementara orang lain tercekik dan memohon, "Jangan. Lepaskan aku." Seorang pria tiba-tiba menghardik, "Aku sudah datang, yang menghalangiku...," diikuti reaksi, "Ternyata dia?" Titik balik terjadi saat pria itu menegaskan, "Aku ayahnya Alsa." Semua terpaku menatap klaim itu, menunggu pembuktian; episode ditutup dengan ketidakpastian tentang kebenaran klaim tersebut.
Di ruang ujian, Pak Guru menghinakan ayah Alsa, menuduhnya tak punya 'inti spiritual' dan mengejeknya sebagai suami Bu Lisa, lalu menyatakan Alsa tak akan lulus karena asalnya. Hina-menghina memicu kemarahan; suara perintah muncul untuk 'habisi guru ini' dan ciptakan kekacauan sehingga pelaku bisa kabur, sehingga ancaman menjadi nyata. Pak Jeno meminta maaf atas keterusterangan dan memohon agar putrinya diberi kesempatan lagi; Pak Guru menolak menentukan nasib anak sendiri dan menyarankan Bu Lisa menjemput Alsa pulang. Keputusan akhir tertunda, sementara bahaya terhadap guru dan nasib Alsa menggantung.
Dalam episode ini, seorang guru menelepon Bu Lisa mengabarkan bahwa putrinya, Alsa, membuat masalah saat les. Di rumah terjadi konfrontasi: Jeno disalahkan atas perilaku Alsa dan keluarga menekan Bu Lisa karena bisnis keluarga sedang krisis. Suami menenangkan dan menyatakan "aku ini suamimu", lalu menawarkan mengarahkan Nita, orang terkaya dari Hasta, untuk mengantar uang. Bu Lisa melarang Alsa bertemu "dia" karena takut anak itu akan dirusak. Alsa bertanya apakah dengan berusaha menjadi lebih baik ayahnya tak perlu pergi lagi; pertanyaan itu meninggalkan nasib ayah dan keputusan keluarga menggantung.
Bu Lisa didekati Pak Toni yang menawarkan pernikahan sebagai imbalan dana untuk menyelamatkan keluarga Wior, menekan bahwa tawaran itu hanya datang sekali. Lisa menolak meski berterima kasih karena sangat menyayangi anaknya Jeno, yang dipertanyakan orang lain. Di rumah, ayah dan keluarga panik; mereka mempertimbangkan meminta dukungan Kakek saat ulang tahun, tetapi dianggap mustahil. Akhirnya keluarga menggantungkan harapan pada Alsa yang harus menang pertunjukan generasi muda untuk menjadi calon kepala keluarga. Keputusan Lisa dan hasil penampilan Alsa kini menentukan nasib keluarga, masih menggantung.
Di tengah perayaan ulang tahun Kakek Buyut, keluarga menggelar ujian calon kepala keluarga; Alsa, seorang anak yang dinominasikan, panik dan harus tampil baik. Keluarga lain mengejek dan menyindir kebangkrutan mereka, sementara suasana berubah dingin saat muncul aura kuat dan hewan spiritual Alsa diperkenalkan. Kakek Buyut meminta Alsa memerintahkan hewan itu memukulnya untuk menguji levelnya; Alsa menolak karena tak tega, mempertontonkan keraguan. Ketegangan memuncak ketika seseorang mengancam, "Gimana kalau aku ledakkan gunung?", meninggalkan pilihan uji yang retak dan konsekuensi berbahaya yang belum terselesaikan.