Permaisuri Mulan hancur setelah empat tahun menikah karena belum memberi anak meski janin Winda masih kuat. Dia digoncang saat Pangeran Yuda dan seorang kakek menyeretnya, menuduhnya gagal dan mengancam 'bayar utang'. Mereka mempermalukan dan meninggalkannya di luar, bahkan berkata 'biarkan dia dimakan serigala'. Seorang wanita menuduh Yuda mengkhianati dukungan keluarga selama sepuluh tahun; terungkap kekasih masa kecilnya tewas di medan perang. Di akhir, Yang Mulia menyebut Yuda keterlaluan dan memerintahkan penguburan—nasib serta motif Yuda tetap menggantung, istana menunggu konsekuensi segera.
Alina mendesak Dimas membawa pedangnya agar dia bisa menang dalam pertarungan; panggilan itu berulang saat Dimas yang telah mencari Alina selama sepuluh tahun mendekat. Dia berjanji bahwa setelah membunuh Pangeran Yuda ia akan menemaninya. Di sela itu muncul kabar bahwa Winda baru saja hamil dan seseorang mempertanyakan mengapa dia disakiti; terungkap kebingungan waktu—hamil tiga tahun lalu—yang membuat salah satu pihak bertanya apakah dia terlahir kembali. Pengungkapan kehamilan dan tanda-tanda kelahiran kembali mengganggu rencana pembalasan terhadap Pangeran Yuda, memaksa keputusan segera.
Setelah kebingungan soal kelahiran kembali, tokoh utama menemukan bahwa teh penenang yang diberikan Yuda menyebabkan hampir gugurnya Winda. Ia mengekspos racun dalam teh, memaksa permintaan maaf untuk Winda dan bentrok dengan penghinaan dari seorang bangsawan yang menyebutnya selir. Ia mengingat latar bela diri yang dulu kuat dan menyadari teh itu melemahkannya. Mengetahui sebelumnya dirinya mati tragis, ia bertekad membalas dendam sebelum mencari Dimas. Ketegangan di istana memuncak. Pangeran Yoel tiba; rencananya membalas dendam dan mencari Dimas kini menggantung pada keputusan yang harus diambil.
Di istana, persiapan perjamuan ulang tahun Selir Surani memicu cekcok: beberapa bangsawan menghina Pangeran Yoel yang terluka dan cacat, menganggapnya pembawa sial serta meremehkan haknya minum teh atau duduk di kursi permaisuri. Pangeran Yuda dan kakak ipar saling bersitegang; Mulan, biasanya pasif, tiba-tiba membela Yoel hingga memancing pukulan ke arah Winda yang sedang hamil. Konflik memuncak saat seorang bangsawan menuduh Mulan berpihak, lalu Winda dipukul. Saat keributan merebak, diumumkan ruang baca kemalingan—insiden tak terduga yang meninggalkan ancaman dan pertanyaan belum terjawab.
Ruang baca kemalingan, dan Pangeran Yoel memerintahkan penutupan semua pintu serta pemeriksaan ketat pada siapa pun yang masuk atau keluar. Terungkap bahwa di kehidupan sebelumnya Ferdi pernah menyelinap ke ruang baca, dan surat yang diperebutkan seharusnya dipegang Yoel. Para pengawal menegur dan merendahkan seorang yang cacat, Kak Yuda, sambil menyingkirkan orang lain. Seseorang menawarkan bantuan karena 'musuhnya musuh adalah teman.' Seorang pemaksa berkata, 'Kalau mau surat itu, dengarkan aku,' lalu Kakak Ipar diperiksa dan dipaksa mengungkap tempat menyembunyikan barang. Pengakuannya terhenti pada 'Aku...', meninggalkan surat dan ancaman belum terselesaikan.
Di episode ini, Mulan dicurigai ikut dalam pemeriksaan karena ia menyentuh tubuh Pangeran Yoel; petugas menegaskan tidak ada barang di tubuh sang pangeran lalu meminta giliran Mulan dan mengancam akan melepas pakaiannya untuk pemeriksaan. Mulan memohon pada Pangeran, sementara Yuda dituduh merencanakan pemberontakan dan pernikahan itu disinggung sebagai langkah merebut takhta. Pangeran menegaskan Mulan akan menjadi istrinya dan calon permaisuri setelah naik takhta, lalu memperingatkan akan bersikap keras. Di akhir, Mulan diberi 'teh penenang' yang ia curigai sebagai 'sup mematikan', ancaman yang belum terselesaikan.
Di episode ini Pangeran Yuda dihina karena kecacatan dan diselimuti penyakit "Racun Api Dingin" yang kambuh, sementara seseorang berniat membalas dengan menjatuhkan dia dari takhta. Kakak iparnya, Yoel, muncul menawarkan kerja sama: menuntut takhta secara paksa karena Yuda dipinggirkan setelah cederanya. Yuda ragu, mengakui kedua kakinya cacat dan mundur dari perebutan kekuasaan. Kemudian Alina, yang mengaku pernah menyelamatkannya di medan perang, datang; Yuda menolak pertolongannya, menyebut lukanya parah dan hidupnya singkat. Orang-orang lalu menyadari Alina mirip Mulan, menimbulkan kecurigaan yang belum terjawab.
Episode dimulai saat seorang wanita, yang menyapa Pangeran Yoel sebagai kakak ipar, mengungkap surat yang menuduh Pangeran Yuda bersekutu dengan musuh dan menawarkan kerja sama: mereka akan menikah sehingga surat itu menjadi bukti kesetiaannya. Wanita itu menjelaskan kedua kakinya cacat, sudah punya kekasih, dan niatnya bukan hubungan fisik; setelah Yoel naik takhta mereka akan berpisah. Yoel menyetujui perjanjian. Segera setelah itu Yoel terserang: rambut memutih, kulit dingin, ia menolak disentuh dan menyuruh orang keluar saat tanda Racun Api Dingin muncul. Episode berakhir dengan nyawa Yoel terancam, mengancam kelanjutan rencana.
Episode ini dibuka dengan konfrontasi: seorang wanita menolak disentuh dan memerintahkan orang lain keluar, lalu mereka saling minta maaf ketika seorang pria menolongnya berdiri. Mereka sepakat merahasiakan hubungan terlarang antar-ipar dan menegaskan janji dengan tos. Seorang pengamat mencatat suara yang mirip Dimas dan memutuskan akan membantu pria itu merebut takhta. Di istana, pelapor menuduh bahwa 'dia' menggoda Yang Mulia dan menduga jebakan Pangeran Yuda; namun Yang Mulia membaca surat dan merasa penggoda tampak tulus. Keputusan percaya atau menindak masih menggantung sebagai konflik utama.
Seorang wanita hamil meminta Pangeran membantu menjatuhkan Mulan di perjamuan agar ia diangkat jadi istri kedua. Pangeran setuju dan mengaku tak segan mengorbankan siapa pun; ia mengungkapkan bahwa enam tahun lalu ia menyakiti Pangeran Yoel dalam perang sehingga Yoel cacat dan tak bisa punya keturunan. Wanita itu menyadari hinaan sebelumnya di perjamuan adalah bagian dari rencana dan bersedia ikut sampai akhir. Di istana, ibu mertua menekan Mulan soal kandungan setelah empat tahun menikah, dan Mulan membalas bahwa "dia nggak bisa dalam hal itu" soal Pangeran. Perjamuan tiga hari lagi menjadi penentu nasib mereka.