Episode ini dibuka dengan Anya menuntut Kania untuk mengosongkan Paviliun Bulan, bangunan yang dibangun ibunya sebagai mas kawin. Anya menegaskan bahwa paviliun itu adalah haknya sejak lahir dan memberi waktu dua jam sebelum dia membakarnya. Ayah mereka berusaha menengahi dengan mengusulkan agar paviliun diberikan sebagai hadiah untuk Kania, yang telah merawat tempat itu bertahun-tahun. Anya dengan tegas menolak dan menyatakan bahwa siapa pun yang berani merebut peninggalan ibunya akan dia hukum. Ketegangan memuncak ketika Anya secara terang-terangan menuduh Kania telah merebut identitas dan keberuntungannya. Kania yang ketakutan menyangkal dan meminta tolong pada kakak-kakaknya. Anya tetap bersikeras bahwa apa yang diambil harus dikembalikan, bahkan mengancam akan mengambil tindakan meski ada campur tangan dari orang lain. Konflik kepemilikan dan pengakuan identitas ini belum terselesaikan, meninggalkan ancaman Anya yang masih menggantung.