Di episode ini, Sekar memperlihatkan lukisan bernilai tinggi yang sempat ditawarkan ayahnya dengan harga tiga kota, namun justru digunakan sebagai taplak meja. Mereka membahas giok hijau yang dianggap rapuh dan tidak berharga, padahal di negeri Sekar sepotong giok dapat membeli sebuah kota besar. Sekar ditawari untuk mengambil banyak giok rapuh di belakang gunung, yang ternyata dianggap oleh yang lain sebagai batu biasa yang tidak berharga. Percakapan berlanjut membahas nilai dan potensi batu serta tambang di tiga gunung tinggi di sekitar mereka, yang diperkirakan memiliki emas di dalamnya. Episode ini berakhir dengan ketidakpastian tentang nilai sesungguhnya dari sumber daya alam tersebut.