Episode ini membuka dengan kilas balik 500 tahun lalu saat insiden yang memicu konflik di Gunung Kusna, di mana Sang Suci Agung asli yang benar-benar ditundukkan, bukan Sang Tercerahkan seperti yang dikira orang. Kini, setelah dikurung selama setengah milenium, Kera Nakal masih menyangkal kesalahannya dan menolak mengakui dosa, meyakini nasibnya sudah ditakdirkan. Ia bersikukuh bahwa ia adalah leluhur takdir. Sementara itu, guru Sang Suci Agung menantang muridnya untuk menghadapi kenyataan pahit dan menggunakan akal, walau dendam membebani hati murid itu, menyiapkan ketegangan yang belum selesai dalam konfrontasi mendatang.
Seorang guru membentuk ulang tubuh emas Sun Wukong menjadi Nirada dan memasang segel agar rahasia langit tersembunyi, memaksa Nirada memulai kembali jalan pencerahan sebelum bisa membalas dendam. Sementara itu, warga Gunung Nirbita berdoa kepada Kakek Suci Agung agar menolong mereka dari kehancuran akibat serangan yang terus berlangsung. Namun, sebuah sosok yang disebut Kera si lan menghardik mereka, mengingatkan bahwa perintah Raja Harimau mengharuskan mereka menyerahkan 200 otak monyet dalam bulan ini, meningkatnya ancaman bagi para penghuni Gunung Nirbita dan memperuncing konflik yang belum terselesaikan.
Dalam episode ini, para hewan ternak menghadapi tekanan dari pasukan Raja Harimau yang menuntut upeti, meskipun telah dikirim tepat waktu. Mereka menghina Kakek Suci Agung, sosok yang dipercaya sebagai pelindung, dan menangkap anak-anak dari kelompok tersebut untuk dijadikan korban dalam pesta Raja Harimau. Ketegangan memuncak saat seseorang meminta pertolongan kepada Kakek Suci Agung, sementara ancaman penganiayaan semakin nyata dan belum ada tanda perlindungan akan datang, meninggalkan nasib anak-anak tersebut belum jelas dan mendesak solusi segera.
Seorang kera liar dari Gunung Nirbita berani menghadang kelompok yang mengancam Raja Harimau, meskipun dianggap sombong dan remeh oleh musuhnya. Ketegangan meningkat saat lawan mengancam menjadikan kera itu sebagai korban, memicu pertempuran yang mematikan. Saat pertarungan mulai terjadi, seorang penolong muncul, menandai titik balik yang mengubah dinamika konflik. Episode berakhir dengan situasi yang belum jelas, meninggalkan ketegangan dan ancaman atas nyawa kera liar dan nasib Raja Harimau yang terlibat dalam pertikaian ini.
Seorang pria misterius tiba-tiba muncul dan memerintahkan sekelompok anak-anak untuk menyerang, menciptakan ketegangan langsung di air terjun Guá Air. Ketika korban yang ketakutan bertanya identitasnya, pria itu menolak pergi begitu saja dan menantang raja musuhnya dengan ancaman serius. Namun, pria itu kemudian menyelamatkan para korban dari serangan itu dan mengungkap dirinya sebagai teman lama Kakek Suci Agung, datang atas permintaan sang kakek untuk melihat mereka. Konflik antara pria ini dan raja musuh yang disebutkan tetap menggantung, membuka peluang konfrontasi selanjutnya.
Dalam episode ini, para kera yang merupakan keturunan Sang Agung tengah menikmati makanan lezat sambil membahas sejarah dan kedudukan Sang Agung yang sudah 500 tahun tak muncul. Namun, ketegangan meningkat ketika laporan masuk bahwa seekor kera putih yang hanya membawa satu tongkat kayu tiba-tiba muncul di Gua Air Terjun dan membantai habis saudara mereka. Meski ada keraguan soal kembalinya Sang Agung, Kakak Tertua memerintahkan anak-anak untuk menyerang Gunung Nirbita dan mengambil otak kera putih tersebut sebagai bahan minuman, mengakhiri episode dengan ancaman serangan yang belum jelas hasilnya.
Dalam episode ini, sekelompok makhluk yang dipimpin oleh Siluman Harimau mengancam Gunung Nirbita untuk menyerahkan seorang kera putih yang menjadi buruan mereka. Tetua di gunung tersebut berusaha melindungi kera itu meski diancam akan diratakan oleh musuhnya. Ketegangan memuncak saat gerombolan Siluman Harimau menantang keberanian tetua dan para penghuni Gunung Nirbita. Konfrontasi akan segera terjadi, dengan ancaman pembunuhan dan serangan yang menggantung, membuka peluang bagi pertempuran besar antara pertahanan gunung dan penyerang yang haus kekuasaan.
Kera Putih datang ke Gunung Nirbita dan menghadapi tiga siluman dari Kerajaan Carani yang meremehkannya dan mengancam nyawanya. Mereka mengejeknya yang hanya membawa tongkat kayu dan menantangnya untuk membuktikan kekuatannya. Salah satu siluman memberi ultimatum kejam: putuskan kedua tangan sendiri, sujud tiga kali, dan minta ampun atau mati. Kera Putih menolak tunduk dan memutuskan untuk melawan bersama-sama, memperlihatkan tekadnya menghadapi ancaman yang jauh lebih kuat, memicu bentrokan yang belum selesai di ujung episode ini.
Pertengkaran sengit pecah di antara kelompok pria yang bersitegang karena salah satu dari mereka menyakiti adik ketiga salah satu pria tersebut. Sang kakak tertua menahan diri dan memutuskan tidak ikut turun tangan, menyerahkan urusan itu kepada seorang pria lain yang berniat membalas dengan keras. Di tengah intensitas bentrokan ini, seorang pria mengingatkan bahwa sudah lima ratus tahun berlalu, memperingatkan bahwa aturan yang ia pegang harus tetap dihormati. Ketegangan meningkat dengan ancaman balas dendam, sementara ketentuan masa lalu menjadi beban yang belum terpecahkan.
Dalam episode ini, sekelompok orang menghadapi ancaman dari sosok berenergi gelap yang menyebut dendam 500 tahun terhadap Sang Tercerahkan dan mulai menyerang mereka terlebih dahulu. Salah satu anggota memperingatkan tentang kekuatan luar biasa kera tersebut dan mengusulkan melarikan diri, namun disanggah karena kabur berarti kematian pasti. Mereka kemudian terlibat pertempuran sengit, berusaha melawan dengan segala cara saat tekanan meningkat. Episode berakhir dengan ancaman langsung dari sosok itu yang memerintahkan menyerahkan nyawa, meninggalkan konflik inti belum terselesaikan.