Suli menerima surat dari ayah yang mengatakan ia rindu dan menyebut Joko membawa kakak ipar serta anak-anak; ayah hanya mengizinkan satu orang ikut, karena kakak ipar janda tak boleh tinggal sendiri. Seorang paman menegaskan sebelum berlalu bahwa ia akan menjaga keluarga dan berpisah dengan mereka. Tiga tahun berlalu: Joko hanya mengirim surat cinta tanpa uang dan meminta agar mereka tak mencarinya; Suli menahan agar tidak menyusahkan Joko tetapi hidup makin sulit. Kelaparan melanda, rumah dirampas, anak-anak lapar; Suli menolak menjual jam tangan pemberian Joko dan akhirnya menjual darah lagi demi membeli makanan — nasib keluarga tetap tak jelas.