Di depan lobi perusahaan, Leo diusir setelah dituduh menyontek di Liga Provinsi dan ketahuan punya CV palsu. Seorang kakak yang minta kerja mengaku pada adik—bos perusahaan—bahwa dia dulu yang melaporkan dan memalsukan bukti untuk menjebak Leo, supaya kehormatan juara, kuota masuk Universitas Singbe, dan harta keluarga jatuh ke tangannya. Pengakuan berubah menjadi ancaman: kakak berusaha melukai atau membunuh, memaksa korban memohon kepada ayah dan ibu. Dia memerintah korban berlutut meminta maaf dan menyerahkan kuota penerimaan ke Ken; korban menolak. Konflik kini memuncak tanpa penyelesaian, pilihan paksa atau pembelaan segera menunggu.
Episode dibuka dengan keributan keluarga setelah seseorang menegaskan "punyaku tetap punyaku", memicu adu mulut. Leo memukul adik kandungnya; adik berdarah dan pusing sementara saudara lain menyesal karena melaporkan kecurangan dan memohon agar Ayah tak dipukul. Ibu meledak dengan hinaan, menuduh adik sebagai "pembawa sial", menyalahkannya atas kebangkrutan Keluarga Jaya dan mengungkapkan kebencian sejak kandungan. Tuduhan memuncak saat pecahnya keramik biru-putih bernilai 200 juta, yang diklaim kakak tidak sengaja pecahkan. Pertengkaran itu meninggalkan keluarga terpecah dan ancaman kekerasan yang belum terselesaikan.
Keluarga menuduh Leo memecahkan keramik biru putih senilai 200 juta dan menuntut ia berlutut meminta maaf serta memberikan kuota penerimaan untuk adiknya. Leo menolak, mengatakan ini kali terakhir ia bicara baik-baik, lalu memutuskan hubungan keluarga dan menandatangani surat pernyataan pemutusan. Orang tua dan kakaknya menghardik, mengancam kekerasan dan mengusirnya; adik memohon agar ia tidak pergi, sedangkan ibu mengingatkan ikatan darah. Di akhir episode Leo benar-benar diusir dari rumah, dan seorang anggota keluarga, Ria, diperintahkan mengawasi serta diancam akan memotong tangannya jika ia berani mencuri.
Keluarga menghadapi Leo setelah ditemukan lemari sepatunya; seorang wanita mengembalikan sepatu yang pernah diberikannya dan menuduhnya mencuri uang keluarga. Mereka mendesak Leo meminta maaf karena adik dianggap sudah memaafkan, tetapi Leo menolak, mengatakan ia sudah terlalu sering minta maaf dan memilih pergi. Saat berkemas terlihat kamarnya seperti gudang dan keluarganya meremehkan asalnya dari desa. Percakapan memuncak ketika disebutkan Ken membuat Ria dipenjara demi hak waris, disusul peringatan tentang kondisi juru bicara Grup Jaya. Episode berakhir dengan keputusan Leo pergi dan larangan agar ia tidak mengurusi masalah perusahaan, konflik yang belum tuntas.
Di rumah, keluarga berkonfrontasi setelah Leo dituduh menyontek, memecahkan keramik biru-putih, dan mungkin mencuri gelang Cartier; Ken membela dan meminta agar laporan nilai Leo tak diungkap, namun Ayah memutuskan menganggap Leo 'tidak ada' setelah ia pergi. Ketegangan memuncak ketika keluarganya terpecah akibat kepergian Leo. Di kantor, Bu Ria menunda tanda tangan kontrak Arak Flora dan memerintahkan pengambilan sampel untuk diuji laboratorium meski pihak lain mendesak. Seseorang diperintahkan memantau kemana Leo pergi. Kepergian Leo dan uji lab yang tertunda tetap menggantung.
Episode dimulai ketika Leo meminta izin tinggal di asrama dan guru menyetujuinya, berjanji mengatur tempat setelah upacara penghargaan. Di panggung, Leo dipuji karena juara Liga Provinsi, diterima langsung di Universitas Singbe, dan mendapat tepuk tangan. Seorang siswa meminta les fisika dari Leo karena nilainya turun, menawar sebulan sarapan sebagai imbalan; mereka sepakat. Pujian publik berubah menjadi kontroversi ketika seseorang mengumumkan akan melapor, menuduh Leo menyontek di kompetisi dan meminta pembatalan nilainya. Tuduhan itu menutup episode sebagai konflik resmi yang belum terselesaikan.
Episode ini dibuka saat orang tua Leo, ayah dan ibu, hadir menuduh putra mereka menyontek di Liga Provinsi dan menuntut hukuman berat, pengakuan di hadapan guru dan murid, serta kuota penerimaan langsung untuk adiknya. Leo bersikeras tak bersalah dan menyebut tuduhan itu fitnah. Pihak sekolah menuntut bukti; orang tua lain mengecam, memuji anak mereka Ken dan mendesak sanksi demi reputasi provinsi. Tekanan publik dan tuntutan pengakuan memuncak, sementara Leo tetap menolak mengaku; nasib prestasinya kini tergantung pada apakah ia bisa membuktikan ketidakbersalahannya.
Di aula sekolah, Leo dituduh menyontek dalam Ujian Liga Provinsi setelah panitia sengaja memakai soal B untuk membongkar kecurangan. Seorang adik membela Leo sementara siswa lain meremehkan karena ia baru pindah dari desa dan guru menekan agar ia mengaku atau dites. Ketegangan memuncak ketika ancaman pukul terhadap adiknya dihentikan, lalu Leo menantang tes itu, lantang mengaku siap: ia akan menerima hukuman jika gagal, tetapi menuntut agar yang memfitnah diusir jika ia berhasil meraih 100 di soal B. Permintaan uji dan konsekuensinya tetap menggantung.
Di ruang ujian, Leo dituduh menyontek dan ditantang oleh orang tua, teman sekelas, dan profesor untuk membuktikan diri dengan hanya mengerjakan soal B. Para orang tua dan murid mengejeknya, menuntut agar sekolah mengusir atau memalukan keluarganya jika ia gagal. Seorang siswa minta soal B diberikan supaya bisa memantau kecurangan, sementara beberapa mengingatkan bahwa sistem memberi nilai otomatis. Ketegangan naik saat Leo mengumpulkan lembar jawaban; beberapa menuding ia berani menantang otoritas profesor fisika. Episode berakhir menunggu nilai keluar, yang akan segera menentukan apakah tuduhan terbukti dan konsekuensinya bagi Leo.
Saat pengumuman nilai, Leo dituduh mencontek, seseorang mengaku berniat memfitnahnya sebagai lelucon lalu terkejut karena tuduhan tampak benar. Budi diperintah menyuruh 'muridmu' turun panggung sementara hadirin mengejek dan mencemooh; awalnya diumumkan Leo mendapat nol dan diejek sebagai anak durhaka. Konflik memuncak saat panitia menjelaskan nilai masih dihitung, lalu skor Leo tiba-tiba naik secara dramatis. Angka yang awalnya nol berubah menjadi 100, memicu kebingungan, kemarahan, dan keraguan di antara semua pihak, meninggalkan konsekuensi yang belum terselesaikan. Budi dan penonton berubah dari puas menjadi tercengang; suasana beralih menjadi kebingungan penuh pertanyaan.