Perusahaan yang dipimpin Bu Nurul menghadapi kebangkrutan akibat utang besar dan gagal mendapatkan pinjaman. Bu Nurul berusaha membagikan kompensasi kepada staf, termasuk Pak Ari, supir paruh waktu yang menolak menerima bantuan karena merasa perusahaan sedang sulit. Ia juga menunjukkan kartu yang berisi biaya hidup yang dikirim oleh putrinya, memperlihatkan dukungan tak langsung dari putrinya. Ketegangan meningkat ketika utang mencapai 10 triliun rupiah, dan presiden grup, Yudi Wongso, tiba-tiba datang memberi perintah keras agar semua pihak tidak bergerak, menandakan krisis yang lebih besar belum terungkap.